Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6





(Edisi Tadabur Quran Al-Furqan ayat 40 – 44)

Assalamualaikum Wr Wb

Alhamdulilahi rabbil ‘alamin, Wassholatu wassalamu ‘alaa asyrofil anbiyaai wal mursalin. Sayyidina wa maulana Muhammadin,Wa ‘alaa ‘alihi wa shohbihi ajmain.

Hadirin, Hadirat, Jamaah kuliah duha Masjid Raya Pondok Indah yang saya muliakan.

Kita bersyukur pada pagi ini kita diberikan kesabaran dari Allah, dan ini merupakan anugrah yang terbesar dikarenakan kita di berikan kesabaran. Jika iman ini memiliki bagian, maka separuhnya adalah kesabaran.

Kata Nabi disampaikan pada hadist Al-Baihaqi, didalam kitabnyaSyu'abul Iman, sahabat Anas bin Maliq meriwayatkan bahwasanya iman ini memiliki 2 bagian, yang pertama ialah nisfu sobrin, dan separuhnya adalah nifsu syukrin.Pada pagi hari inikita sudah mengekspresikan betapa sabarnya kita.
Pada pagi hari ini saya diamanahkan untuk membacakan beberapa ayat dari surat Al-Furqan, kita mulakan dari ayat 40.

 Dan sesungguhnya mereka (kaum musyrik Mekah) telah melalui sebuah negeri (Sadum) yang (dulu) dihujani dengan hujan yang sejelek-jeleknya (hujan batu). Maka apakah mereka tidak menyaksikan runtuhan itu, bahkan adalah mereka itu tidak mengharapkan akan kebangkitan.(QS Al-Furqan : 40)

Bapak ibu yang dihormati Allah SWT, ayat 40 berbicara tentang orang Quraisy. Ditengah kehebatan mereka untuk mendapatkan suatu hujjah, mereka tetap tidak beriman pada Allah. Orang Quraisy pada zaman dahulu  dikenal sebagai sebuah bangsa yang memiliki kekuatan mengembara. Salah satu diantara tempat yang sudah mereka kunjungi adalha kampung yang telah Allah SWT adzab dengan hujan batu.

Dalam Al-Quran hujan disebut sebagai anugrah, dengan rahmat, dengan berkah. Tapi rupa rupanya ada hujan yang memiliki makna berbalik dengan itu semua. Para ulama tafsir sering menyebut kampung ini dengan Sadum, atau kita menyebutnya sebagai Sodom. Mendengar istilah ini kita sudah tau mengapa Allah mengadzabnya menggunakan batu, mereka di adzab karena perilaku mereka yang melewati batas kewajaran dan malawah fitrah dari Allah.



Bapak bapak yang saya muliakan.

Ada orang yang sudah mendapatkan bukti tapi masih saja belum beriman. Ini Namanya keterlaluan. Kalua seseorang itu ingin percaya pada Tuhan selepas mendapatkan bukti dan hujjah, itu bagus, keimanannya berdasarkan keilmuan. Tapi ada yang lebih bagus lagi kalau orang itu memiliki keimanan tanpa  harus mendapatkan data yang empiris, karena dia sudah terlalu yakin bahwasanya yang ada di dalam Al-Quran itu sudah mutlak benar.
Jadi contoh keimanan yang paling tinggi itu setingkat Abu Bakar. Ketika dia sudah tahu bagaimana backgroundnya Muhammad , maka apapun yang dibawa Muhammad, Abu bakar percaya walau yang terjadi itu diluar logikanya.

Dilevel dibawahnya, ada keimanan yang harus mendapatkan data untuk mendapatkan keimanan yang kuat. Pada level sahabat ialah Umar bin Khattab. Umar dahulu begitu benci pada Nabi, namun setelah mendengar adiknya membacakan ayat Al-Quran maka dia langsung beriman pada Allah.

Ketika Nabi wafat, semua orang syok, dan Umar mengatakan “siapa yang mengatakan Nabi telah wafat?” sambil menghunuskan pedangnya. Akan tetapi Abu Bakar meredakan suasana dengan mengatakan “Barang siapa yang Islam dan beribadah karna Muhammad ketahuilah Muhammad telah wafat, tetapi barang siapa yang menyembah Allah maka Allah maha hidup dan tidak akan mati ”. Abu Bakar berkata “Padahal ayat ini sering saya baca, tetapi seakan akan ayat ini baru saja turun”.
Jadi ada orang yang karakternnya seperti itu, kalua ada orang yang mendebat kita tentang suatu persoalan, maka kiat harus santai meresponnya, jangan dibalas dengan data yang hoax, tapi harus kendalikan diri, dan suguhkan data yang valid agar harapannya orang itu bisa menerima.
Pelajaran yang kita ambil disini adalah jika kita ingin menyelesaikan sebuah masalah maka kita harus memiliki iman yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang berada dalam masalah. Jika tidak kita akan menjadi masalah baru lagi.

Level ketiga dibawahnya ada orang yang beriman, dia tidak perlu datang, tapi dia ikut ikutan. Ini baik juga. Dan yang paling parah ada orang yang sudah dikasih bukti tapi masih tidak percaya, dan inilah orang Quraisy. Allah berkata, sungguh aneh orang Quraisy itu, bukankah dia dulu sudah sering melewati tempat - tempat yang dulu sudah ditenggelamkan oleh Allah karna mereka tidak mau nurut pada Allah, bukankah kamu sudah pergi ke Yordan, bukankah kamu sudah pergi ke Yaman. Orang Quraisy ini dulu sering pergi ketempat - tempat itu, tapi kenapa mereka masih tidak nurut dengan Nabi Muhammad SAW.

Sudah jelas jelas Nabi yang sekarang ini mereka tolak dan mereka kafiri adalah orang yang sama dengan yang dulu pernah disebut sebagai Al-Amin.
Jadi Muhammad yang sekarang mereka musuhi, ternyata orang yang sama dengan yang selama 40 tahun dianggap sebagai pemuda hebat, jujur, punya intregitas, punya amanah, dan kapabilitas. Tapi rupanya setelah Allah meminta Muhammad untuk berdakwah secara terang - terangan, orang yang mereka dulu jempolin tiba - tiba mereka musuhi. Permasalahannya bukan karena mereka tidak percaya, bukan mereka tidak yakin dengan apa yang dibawa oleh Muhammad. Permasalahnya karena mereka tidak mau ada hari pembalasan.

Orang kalo udah terlalu nakal , memang gak mau audit. Makanya dalam surat An-Naba’ dikatakan bahwa mereka itu tidak mau ada audit, karna mereka tau kalo mereka ada audit maka dirinya akan gagal. Bagaimana tidak, Abu Lahab dan Abu Jahal kriminal apa yang mereka tidak pernah lakukan? Mereka tidak mampu mengendalikan jiwanya

Ust. Chorin bersama moderator, Deni Darmawan


Bapak bapak yang saya muliakan.

Orang yang tidak Bersama kita ini ada dua : pendosa dan pendurhaka
Didalam surat Al-Insan Allah katakan, orang yang ada bersama kita ini gak usah diomongin, karena sudah jelas arahnya, tapi orang yang tidak bersama kita, ini Allah kasih info ada dua golongan besar dan kita tidak boleh taati. Yang pertama ini bisa jadi hajatnya sama tapi mereka berbuat dosa artinya lalai. Yang kedua orang yang pendurhaka, mereka yang tidak bersyahadat.
Dan apabila mereka melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan): "Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul? (QS Al-Furqan : 41)

Karena  prinsipnya mereka gak mau nerima Nabi, gak mau percaya dengan adanya akhirat, maka ketika berjumpa dengan Nabi isinya adalah penghinaan. Makanya saya ingin bilang, era yang sekarang kita hidup memiliki unsur - unsur kaya gini. Ini bukan barang baru. Sejak Nabi dulu sudah dihina, justru dengan adaan hinaan seperti itu kita jadikan sebagai introspeksi.

Orang yang menjalankan, dan meneruskan syariat Nabi, pasti mereka akan mendapatkan hinaan, dan seharusnya ejekan itu membuat mereka merasa layak untuk menerimanya, karena Nabi yang begitu baiknya saja di hina, apalagi kita. Jika kita ingin merespon maka kita harus meresponnya dengan cara yang bijak, dan dengan cara yang terkontrol.

Jadi bapak ibu sekalian, begitulah perilaku orang kafir, ketika dulu mereka suku Quraisy memutuskan untuk tidak melanjutkan ajaran Isa, dan sepakat untuk menggutusan yang membawa ajaran yang benar. Ketika mereka sudah memuji - muji Rasul pada masa mudanya, lalu ketika Rasul berdakwah terang – terangan, mereka langsung menolaknya hanya karena mereka tidak menerima apa yang dibawakan oleh Muhammad.

Allah ketika berbicara orang kafir itu begitu clear, kalo bicara tentang soal Islam Allah lebih detail. Contohnya dalam Al-Bayyinah, dikatakan bahwa orang kafir digolongkan menjadi dua, yaitu ahlul kitab, dan yang kedua adalah  musyrikin. Ahlulkitab itu adalah agama langit, yaitu Islam, Yahudi, dan Nasrani. Selepas Islam hadir yang dimaksud disini ialah Yahudi dan Nasrani. Yang kedua adalah musyrikin, penyembah mahluk. Dalam konteks jaman Nabi ialah orang Quraisy itu, yang menyebah Lata dan Uza, dalam konteks kekinian banyak sebutannya, ada Budha, ada Hindu, ada Konghucu dan sebagainya.

Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita, seandainya kita tidak sabar (menyembah) nya" Dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalannya.(QS Al-Furqan : 42)

Secara tidak langsung orang Quraisy itu mengakui kehebatan Muhammad dan Al-Quran. Makanya mereka bilang hampir-hampir mereka menyesatkan kami dengan Tuhan kami. Maksudnya disini mereka hampir terbawa oleh ajaran Nabi.

Cara orang Quraisy dari zaman dulu sampai sekarang untuk bertahan ialah mengupayakan agar Al-Quran ini tidak diakses oleh pemeluknya. Makanya kalau bisa teminologi kafir dan jihad itu dihapuskan, supaya kita tidak bisa memiliki akses yang baik dengan Tuhan.

Dalam ayat ini ditunjukan bahwa lagi - lagi ada orang yang tidak berhenti dari kekafirannya sebelum melihat adzab. Dikatakan dalam akhir ayat bahwa nanti akan datang kepada mereka adzab di akhirat nanti. Karena penggunaan kata saufa yang memiliki arti akan dengan jangka waktu yang panjang, yang dimaksud disini ialah akhirat.

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?(QS Al-Furqan : 43)

Hawa nafsu adalah sesuatu yang dianggap oleh jiwa orang itu baik. Sesungguhnya kalau baik itu tidak perlu dianggap anggap baik. Sesuatu yang baik itu walaupun dianggap orang itu buruk, pasti akan tetap baik. Di akhir zaman ini banyak orang yang tersesat, karena jarak yang baik dan yang buruk itu tipis. Orang yang tidak memiliki literasi yang kuat, background keagamaannya memang mudah kena. Ada orang jahil tapi orangnya bener, ada yang pendidikan bagus tapi kok omongannya begitu. Begitu kabur, garis mana baik dan mana buruk.

Sekarang apabila bapak di peringati oleh istrinya, ada dari  bapak sekalian tidak terima dengan ucapan istrinya. Ibu - ibu juga jika diberitau oleh anaknya juga ada yang tidak menerimanya. Makanya Allah SWT mengatakan, bahwa orang yang mendapatkan surganya ialah orang yang takut sama Allah dan mampu menahan hawa nafsunya.

Orang kalo saking pinternya gak pernah mendengarkan nasehat dari orang lain. Jika dalam satu hari orang tersebut mengeluarkan 6 nasihat, dan dia tidak dengerin nasihat, ini juga berpotensi menjadikan hawa nafsunya, ilmunya, ketokohannya, menjadi Tuhan. Kalau kita tidak membiarkan hati mendengarkan nasihat oranglain, maka nanti hati ini akan menjadi Tuhan.

Makanya jika ada sebuah permasalahan sampai menyebabkan sengketa, permasalahan tersebut bukan hanya ada di pikiran, melainkan sudah sampai ktingkat hati. Jika kita lihat 4 mazhab itu selalu berbeda pendapat, akan tetapi mereka tidak pernah bertikai, tetapi kita malah bertikai dengan mazhab tersebut. Hal ini menunjukan bahwa keilmuannya itu belum sampai seperti ulama mazhab - mazhab itu, atau hatinya tidak pernah diberisihin. Imam syafii itu orang hebat, dia itu menggunakan 1/3 malam nya untuk bersih bersih (ibadah), 1/3 malamnya untuk tidur, dan 1/3 malam lainya untuk menulis, makanya hatinya selalu bersih.

Hawa nafsu yang menjadi Tuhan paling bahaya adalah kalo orang itu berilmu, karena efeknya besar. Oleh karena itu Allah menyuruh kita untuk memiliki literasi yang mendalam, agar kita tidak salah menjadikan orang sebagai pegangan.

 “Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).(QS Al-Furqan : 44)

Jadi yang kita sebutkan barusan, Allah menyebut mereka dengan sebutan hewan ternak. Bahkan lebih sesat jalannya. Sebusuk - busuknya orang beriman, Allah masih menjanjikan surga pada orang beriman, tetapi tidak untuk mereka. Setelah Allah hajar mereka dengan ciri - ciri yang sudah ditunjukan pada kita, kemudia status mereka, kemudian Allah mengatakan “Alam tara kaifa” dan seterusnya dalam surat Al-Fil.

Demikian yang bisa saya sampaikan, saya berharap kita ini semakin mengaji, makin sering mendatangi sharing ilmu, inshallah kita akan menjadi pribadi yang semakin memiliki maghfirah sesama orang Islam. Allah ketika orang yang takut sama Allah, tidak langsung diberikan surga, tetapi diberikan ampunan terlebih dahulu. Sebab bisa jadi orang yang memiliki keimanan tersebut punya masalah, dan pasti kita semua punya masalah. Jadi jika kita masuk surga memang karna kita sudah diampuni oleh Allah. Jadi, jika orang itu salah sama kita, kita harus mencari 999 alasan untuk memaafkannya, inshallah Allah memberikan ampunan

Assalamualaikum Wr Wb


Penulis : Bayu Aji Firmansyah
Editor : Deni Darmawan

Tentang Deni Darmawan

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, "Biodata Penulis".
«
Next
This is the most recent post.
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment