Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6






Bismillahirrohmaanirrohiim
Assalamualaikum Wr. Wb

Bapak-bapak, ibu-ibu seluruh jamaah MPAP (majelis pengajian ahad pagi) Masjid Raya Pondok Indah yang dirahmati oleh Allah SWT.

Allhamdulillah kita selalu bersyukur, tidak pernah kita berhenti memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, karena Allah tidak pernah berhenti menganugerahkan nikmatnya dan karunianya kepada kita semua. Sholawat serta salam juga kita panjatkan pada nabi Muhammad SAW. Mudah mudahan kita juga tidak pernah berhenti berusaha mengagungkan, memuliakan, mengamalkan semua sunnah – sunnahnya, sehingga kita termasuk dalam umatnya yang mendapat syafaat di yaumil akhirat.

Surat yang akan kita bahas adalah surat Al-Furqan ayat 53.

Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi. (QS Al-Furqan : 53)

Ayat ayat Kauniyah yang bernilai ilmiah, memiliki nilai saintifik yang tinggi.

Ayat ini memiliki nilai saintifik, punya nilai ilmiah yang tinggi. Ayat ini juga termasuk dalam ayat kauniyah, tapi dia juga memiliki nilai ilmiah. Subahanallah.

Kekuasaan Allah menciptakan air dengan 2 rasa, tawar dan asin.

Allah jadikan dua laut berdampingan memiliki rasa tawar dan asin. Kalau semuanya asin maka ga bisa kita manfaatin sepenuhnya, kalau semuanya tawar kita juga butuh air yang asin. Kita butuh air tawar untuk kita konsumsi, tapi tidak mungkin kita mendapat ikan yang banyak dengan air tawar. Yakinlah bahwa ini adalah ayat kauniyah Allah, yang Allah sengaja bedakan rasanya karna keduanya untuk manfaat.

Air tawar itu biasanya didapatkan dari sumur dan sungai, tapi kali ini air tawar ada di tengah laut. Sehingga, inilah dalam pandangan para ulama, ayat kauniyah semata mata tujuan utamanya disamping analisis kehidupan oleh para ilmuan, tapi yang paling inti tujuannya adalah semakin mengagungkan Allah, semakin mengakui ketangguhan Allah. Semakin banyak kita menggali ayat – ayat kauniyah Allah, semakin kita mendapatkan banyak tanda – tanda kebesaaran Allah.

Jamaah MPAP sedang menyimak penjelasan nara sumber



Pola Tafsir Al-Qur’an, mengaitkan ayat dengan ayat yang lain dan dicari kesamaannya pada Hadist

Ayat ini sama seperti surat An-Naml ayat 61, dan surat Ar-Rahman ayat 19 -20. Ini berarti polanya selalu mengkaitkan tafsir Al-Quran dengan Al-Quran. Ada ayat yang berbicara suatu hal, makadi cari di surat yang membicarakan hal yang sama. Laut ini Allah izinkan bersatu, Allah izinkan bertemu, tapi subahanallah rasanya berbeda. Seringkali ini dikaitkan dengan fenomena laut mediterania, laut atlantic dan lau tengah, subahanallah secara ilmiah sudah dibuktikan bahwa kedua laut itu ada batas ditengahnya dan tidak bisa bercampur. Ini analisis ilmiah saintifik. Tetapi kalau para ulama analisisnya adalah semata mata untuk tauhid. Ini merupakan dua pandangan yang saling melengkapi. Analisis ilmiah ini membuat keyakinan kita kepada Allah, karena kita membaca ayat- ayat Allah dalam rangka menguatkan iman.

Bapak ibu, kita membaca Al-Quran sekarang untuk konsumsi ilmu atau konsumsi Aqidah? Untuk ilmiah atau untuk hati?

Apapun itu tujuannya adalah untuk menguatkan keyakinan pada Allah dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Bahkan Allah berfirman:

Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.QS An-Naml : 61)

Allah bertanya apakah ada tuhan tuhan Bersama Allah, yang menciptakan sungai, gunung, dan lautan yang terbelah dua itu? Apakah ada tuhan tuhan disamping Allah yang bisa menciptakan tersebut? Itu pertanyaan Aqidah, karnanya ayat ini diperkuat dengan Ar-Rahman kemudia diperkuat dengan surat An-Naml. Ayat ayat ini memiliki keilmuan yang sangat tinggi, tetapi juga memiliki nuansa keagamaan yang begitu tinggi juga, sehingga para ilmuan mulai menggali ayat- ayat kauniyah Allah SWT. Imam Ibnu Katsir  memiliki kebiasaan mempertemukan sabda Nabi dengan firman – firman Allah. Ini bagus, metode penafsiran Al-Quran menggunakan Al-Quran dan dicari kesamaannya pada Hadist.

Salah satu jamaah MPAP yang sedang bertanya



Air laut itu suci mensucikan, semua yang ada di dalam laut, bangkainya halal.

Bapak ibu sekalian, ada berapa air yang suci dan mensucikan? Ada air sumur,  sungai , embun, hujan, danau, air laut. Dari 6 jenis air itu yang asin hanyalah air laut. Makanya dispesifikasi oleh Rasul. Makanya dikatakan bahwa air laut, airnya itu suci, dan boleh digunakan untuk bersuci. Yang paling hebat adalah semua yang ada didalam laut, meskipun menjadi bangkai, tetap nilainya halal. Padahal tidak di sembelih. Ikan itu ga perlu di sembelih, bangkainya aja halal. Inilah keagungan dari ayat 53. Ada sisi ilmiahnya dan ada sisi Aqidahnya. intinya analisis saintifik kegunaannya untuk menguatkan Aqidah, karnanya hasil-hasil penemuan yang bertentangan dengan Aqidah itu merupakan hasil penemuan yang tidak diterima.


Kecintaan sahabat terhadap surat Al-Ikhlas menyebabkannya masuk Surga

Ini ada kaitannya dengan ilmu tafsir, dalam memahami ayat yang diawali dengan kaya Qul, dan diawali dengan kata huwa, maka ayat itu bicara tentang tauhidullah. Bicara untuk mengagungkan Allah, untuk menampilkan kekuasaan Allah.

Ada kisah yang menceritakan tentang sahabat Rasul yang selalu membaca surat Al-Ikhlas dalam setiap rakaat sholatnya. Sahabat lainnya bertanya pada beliau dan mengatakan alasannya selalu membaca surat tersebut karena beliau begitu mencintai surat tersebut. Kemudian Nabi menjawab “kecintaanmu pada surat itu membuat kamu masuk surga”. Subahanallah. Tapi sahabat tersebut pasti hafal 30 juz, bukan seperti kita yang hafal juz 30.

Hakikat dan fitrah manusia

Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa. (QS Al-Furqan : 4)

Ayat ini merupakan hakikat dan fitrah manusia. Hakikat manusia yang pertama ialah diciptakan dari air. Ini tidak bisa dibantahkan manusia tercipta dari air mani. Banyak ayat ayat lain yang mengatakan bahwa air yang dimaksud merupakan air mani yang terpancar. Ini kalo ayatnya ditafsirkan dengan salah, orang bisa macem macem mengartikannya. Manusia kok diciptakan dari air, bukannya kita dicipakan dari tanah. Nabi Adam memang diciptakan dari tanah, tapi setelah adam tercipta karena ada proses reproduksi, yang kemudian air yang dimaksud bukan dari yang lain, bukan dari air laut, bukan dari air sungai.

Subahanallah itulah pentingnya menafsirkan ayat satu menggunakan ayat  yang lainnya sehingga menjadi objektif. Karena jika hanya diambil dari satu ayat, akan salah penafsirannya, ayat adalah satu kesatuan.

Hakikat manusia yang kedua disini adalah manusia akan memiliki keturunan dan keluarga dari perbesanan. Kita bisa memperbanyak keturunan dari kelahiran, tapi Allah ada yang mentakdirkan manusia tidak berketurunan. Ini dijelaskan dalam surat As-Syura, ada yang Allah jadikan tidak punya anak, tapi dia bisa punya keluarga karena ini merupakan hakekat yang tidak terbantahkan.

Lalu bagaimana caranya? Melalui perbesanan.

Berkeluarga ini berarti kita memiliki banyak orang untuk menambah koleksi pahala kita. Bapak ibu, punya anak satu, peluang pahalanya satu, punya naka dua peluang usahanya 2, begitu seterusnya. Allah kasih kita harta yang banyak berarti kita ditakdirkan untuk memiliki peluang pahala yang banyak juga. Di ayat lain dikatakan bahwa anak dan harta kita merupakan ujian kita, tapi bagi Allah ujian itulah peluang pahala bagi kita.



Standarisasi pahala itu ada 3, semakin berat, semakin sulit, pahalanya pasti lebih besar disisi Allah. Yang kedua ialah pengaruhnya banyak atau engga, kalau pengaruhnya dikit ya pahalanya juga dikit.Yang ketiga ialah manfaatnya, semakin bermanfaat, maka semakin besar pahala yang didapat. Makanya shodaqoh  jariyah pahalanya besar karena manfaatnya untuk kepentingan yang lebih besar.

Inilah hakekat dan fitrah manusia dari ayat 54. Berikutnya Allah berfirman :

Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak memberi manfaat kepada mereka dan tidak (pula) memberi mudharat kepada mereka. Adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya.”(QS Al-Furqan : 55)

Aneh tapi nyata

Mereka mengabdi, menyembah, tapi kok tidak memberi manfaat bagi keduanya. Ketika Nabi Ibrahim bertanya pada ayahnya, mengapa menyembah yang tidak bisa dengar, tidak bisa melihat, tidak bisa ngasih apa apa. Lalu ayahnya langsung marah karena tidak bisa menjawab. Nabi Ibrahim mendoakan agar ayahnya diberikan petunjuk, lalu langsung turun ayat yang melarang mendoakan orang tuanya karena orangtuanya masih musyrik. Tapi itu ada, karena Al-Quran telah bicara. Dulu orang musyrikin ini aneh tapi ada, menyembah berhala.

Muslim yang baik, meninggalkan yang tidak bermanfaat.

Allah membahasakan “mereka menyembah selain Allah, yang tidak memberikan manfaat dan memberi mudharat”. Kita melakukan hal yang tidak bermanfaat aja dikatakan bukan muslim yang baik, karena ciri muslim yang baik ialah meninggalkan yang tidak bermanfaat. Mengerjakan yang tidak bermanfaat aja tidak baik, ini malah menyembah yang tidak memberikan manfaat sama sekali.
Ini membicaarakan tentang musyrikin di Mekah zaman dahulu. Mereka pernah menyembah selain Allah, padahal yang mereka sembah tidak bisa apa apa. Manusia merupakan mahluk yang paling mulia, dianugrahkan oleh Allah akal dan hati, tapi kalau tidak dimanfaatkan sayang. Karena fungsi keduanya adalah untuk menganalsisi yang dilakukan itu baik atau tidak baik, bermanfaat atau malah tidak bermanfaat. Anehnya manusia sudah diberi akal dan hati tapi kok perilakunya masih seperti sekarang ini. Itu aneh tapi nyata. Dulu keanehannya dengan menyembah berhala, tapi sekarang keanehannya dengan cara macam macam.

Nara sumber MPAP Dr. Attabik Luthfi, MA saat menjelaskan kepada jamaah



Nabi membawa kabar gembira tentang surga dan peringatan.

Oleh karena itu Allah berfirman untuk menjawab kebingungan tersebut:
Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. (Al-Furqan : 56)

Karena ada Nabi kita jadi banyak tahu. Kita banyak tahu dari ulama, sedangkan ulama banyak tahu dari hadist. Mereka dapat berbagai informasi yang ujung-ujung nya bersumber pada Nabi Muhammad SAW yang diberi wahyu oleh Allah SWT. Allah berfirman bahwa diatas yang berilmu ada yang lebih berilmu, terus sampai begitu sampai dipuncaknya ada Allah SWT.
Kalau ada yang bilang “Bu, anak ibu kalau masuk ke sekolah ini cocok nih”. Itu informasi dari manusia. Seharusnya kita tidak percaya begitu saja. yang baik kita itu sholat istikarah, karena Allahlah yang paling tahu. Itu berarti kita percaya pada Allah. Kita boleh percaya pada manusia, tapi polanya seperti itu, harus dikembalikan lagi pada  Allah. Apakah ada pengetahuan yang tidak ada hubungannya dengan Allah? Tidak ada. Makanya jika kita dihadapkan dengan sesuatu yang berat, sesuatu yang berjangka Panjang, maka tanyalah pada Allah dengan cara sholat istikharah. Setelah itu berdoa “Ya Allah aku memohon petunjuk dengan ilmu-Mu”, karena Allahlah Yang Maha Tahu.
Kita tidak akan tahu apapun tentang kebenaran Al-Quran tanpa Nabi yang diutus oleh Allah, karena Nabi lah yang diutus untuk membawakan kita kabar gembira tentang surga dan peringatan. Nanti di Al-Baqarah 116, surat Saba’ ayat 28, surat Fatir ayat 24, disurat Fushilat ayat 4 akan dijelaskan tentang kedudukan para Nabi.

Tingkatan level manusia

Jadi manusia terdiri dari 3 level. Yang pertama ada Nabi yang paling tinggi, makanya diberikan wahyu dan mu’jizat. Yang kedua ada para wali, para wali disini ialah orang orang yang dekat pada Allah. Para wali ini diberikan karomah. Yang ketika adalah solihin dan solihah, yang ketiga ini diberikan oleh Allah ilham. Makanya disebutkan bahwa firasatnya orang beriman itu berasal dari Allah. Tapi firasatnya karena ibadahnya, bukan karena macem macem. Makanya perbanyaklah ibadah agar kita diberikan ilham oleh Allah.

Jadi Nabi ini memberikan kabar gembira pada kita agar kita beribadah. Kita bersedekah karena ada kabar baik dari Nabi, kita bersholawat karena ada kabar baik dari Nabi. Disebutkan spesifik pada Al-Quran bahwasanya Nabi ialah nikmat yang tiada taranya bagi manusia. Bayangkan, tanpa tuntunan Nab, bisa ga makan kita berpahala? Kita tidak akan tahu caranya tanpa tuntunan Nabi. Makanya Nabi merupakan pelengkap ayat ayat sebelumnya, karena kita tidak akan tahu semu itu melainkan melalui nabi Muhammad SAW yang estafet sampai pada para ulama menggunakan metode “Basyir” atau memberikan motivasi dengan kabar baik tanpa melupakan peringatan peringatan.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Mudah mudahan bermanfaat untuk kita semua. Terimakasih untuk para hadirin dan semua pengurus. Mohon maaf jika ada hal hal yang kurang berkenan.

Assalamualaikum Wr. Wb     

Penulis : Bayu Aji Firmansyah
Editor : Deni Darmawan

Tentang Deni Darmawan

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment