Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6



Surat Al-Furqon Ayat 45 dan selanjutnya, ini merupakan ayat dari sekian panjang perjalanan surat Al-Furqan, yang intinya adalah pertarungan antara dakwah  bil haq (dakwah kebenaran), mengajak umat manusia kejalan Allah dengan  manusia manusia yang disebut dalam Al-Quran minal mujrimin (orang yang hobinya berbuat dosa)
.
Sebelumnya dikatakan oleh Allah SWT :
Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong (QS 25: 31)

Dan ayat ayat selanjutnya, yang merupakan perdebatan antara orang orang musyrik. Mereka membantah Nabi SAW dengan segala alasan yang tidak logis ditujukan kepada Nabi, dan Al-Quran. Pertarungan antara kedua jalan yang haq dan jalan yang batil. 



Jamaah MPAP Masjid Raya Pondok Indah
Petunjuk Allah melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya

Sekarang masuk kedalam perjalanan yang baru, menyaksikan fenomena yang ada di jagat raya ini. Pertama kita diajak oleh Allah SWT untuk mengisahkan kuasa kebesaran Allah melalui Al-Dzil atau bayangan.

Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu,(QS 25: 45) “Kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu.” (QS 25: 46)

Ini merupakan cara Al-Quran agar manusia matanya, hatinya dan perasaanya terbuka, sehingga kita bisa memandang ciptaan Allah, alam raya ini dengan benar. Pada gilirannya akan beriman kepada Allah. makanya Muarif Islam, ahli sejarah Islam mengatakan, sebenarnya Allah itu menurunkan Al-Quran ke dunia ini ada dua:

Pertama, Al-Quran yang dibaca.  Kedua, Al-Quran yang tiap hari kita lihat, yaitu berupa jagat raya. Di dalam surat Al-Furqan ayat 45 disebut sebagai bayangan. Tidak semua manusia mentadaburi (merenungi), bukankah kita setiap hari, dari pagi sampai sore hari melihat fenomena yang gratis, tapi mahal dan sangat berarti yang bernama Al-Dzil, bayangan. Bayangan manusia, bayangan bangunan, bayangan pohon, Allah panjangkan, Allah pendekkan sesuai gerakan bumi terhadap matahari.

Bayangan itu kalau pagi hari panjang, kalau siang itu pendek. Masya Allah, sebenernya itu setiap hari kita lihat, tiap hari kita seperti kuliah di jagat raya ini. Sekarang saya tanya, apakah bayangan memanjang dan memendek itu kebetulan atau ada yang menggerakan?  Semua itu diatur Allah, tapi tidak semua orang memahami fenomena ini.



Di negara mana yang paling banyak muncul musibah? Naik kapal tenggelam, naik pesawat jatuh. Apakah seluruh anak bangsa ini segera tobat? Banyak orang yang tidak mengambil pelajaran di dunia ini. Oleh karena itu Al-Quran memberikan petunjuk kepada umat manusia untuk bisa menatap tanda kebesaran Allah, dan itu tidak sulit, tidak perlu kuliah S3.

Apakah Bayangan manusia, pohon, dan bangunan itu hanya untuk kuliah yang S3? Tidak, itu untuk semua. Makanya keterlaluan kalau tidak beriman kepada Allah. Pelajaran yang kedua ialah pemandangan matahari, yang dijadikan oleh Allah sebagai dalil (petunjuk). Bukankah tiap hari kita mendapatkan petunjuk dari Allah melalui matahari? masyaAllah.

Kita tahu arah mata angin dari mana? Kita bisa melihat sesuatu di siang hari karena apa? Matahari. Kalau manusia mau mentadabburi ciptaan Allah diantaranya matahari, seharusnya manusia itu beriman kepada Allah. Matahari dijadikan dalil oleh Allah, merupakan pelajaran khusus bagi manusia diseluruh aspek kehidupannya, mau beriman atau kafir. Apabila semua manusia mentadaburi manfaat dari bayangan dan matahari, adakah yang masih mau bermaksiat?




Malam sebagai sunnah kauniyah dan syari’ah

“Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (QS 25: 47)

Tanda tanda kebesaran Allah merupakan universitas gratis kehidupan dan sangat mudah dipahami sehingga bisa membuat manusia beriman, dan tidak termasuk kepada orang orang kafir yang selalu menentang Allah. Pelajaran apa selanjutnya?

Allah yang menjadikan malam sebagai pakaian. Pakaian fungsinya menutup, makanya sunnah nya kalau malam semuanya ditutup, jendela, pintu, makanan ditutup. Ada korelasi malam yaitu pakaian, tidur, dan istirahat. Ini merupakan sunnah Syariah, sekaligus sunnah kauniah. Artinya syari dalam ajaran Allah berarti malam itu harus digunakan untuk beristirahat, untuk tidur. Makanya Nabi setelah sholat isya tidak lama Nabi langsung istirahat. Ini sunnah. Ketika manusia beragama Islam, tidak disiplin dengan sunnah kauniah dan syari’ah, maka yang terjadi adalah kegaduhan, dan ketidakseimbangan.

Mari kita buktikan. Ketika malam seseorang tidak tidur, malah mencari makan, setelah itu baru tidur, yang terjadi ialah dia bukan menumpuk nikmat, melainkan menumpuk penyakit fisik dan yang lebih berbahaya lagi adalah penyakit non fisik. Dunia kesehatan mengatakan bahwa 98 % penyakit itu disebabkan oleh pelanggaran agama. Penyakit yang membahayakan semua itu berasal dari penyimpangan agama, seperti over dosis dan penyakit kelamin. Hal ini karena menentang sunnah kauniyah dan syariah dan melanggar ketetapan Allah.




Allah yang paling tahu bagaimana cara manusia hidup. Seperti petunjuk ketika malam disuruh istirahat dan tidur yang nyenyak. Begitu malam tidak tidur, akan banyak timbul penyakit macam macam. Selain itu, ketika malam kita keluar, lebih banyak bertemu dengan sesuatu yang buruk. Makanya dalam surat Al-Falaq dikatakan, bahwa kita berlindung dari kejahatan malam. Karena pada malam hari yang biasanya keluar adalah syaitan, baik manusia atau jin.

Kemudian ada kalimat siang hari kita bangkit untuk bekerja. Jadi malam kita mendapatkan sentuhan nikmat tidur untuk istirahat, dan kita bangun pada pagi hari untuk sholat qiyamul lail, subuh sholat jamaah di masjid, setelah itu berangkat mencari nafkah.


Angin dan hujan sebagai rahmat Allah

Tayangan tayangan jagat raya ini berupa bayangan, berupa malam, ini tidak sekedar kita pahami saja, tapi harus menjadi pedoman kehidupan, pola kehidupan, silabus kehidupan.

Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, (QS 25: 48)
Agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.(QS 25: 49)

Rahmat yang dimaksud diatas merupakan hujan. Jadi hujan itu adalah rahmat, tapi kalau manusia berbuat dosa, maka hujan bisa menjadi adzab. Allah menggunakan kata riyyah yang bermakna jamak. Dalam tafsir Al-Quran, para mufassir mengatakan, kata angin yang bermakna tunggal itu berarti adzab, tapi kalau kata angin bermakna jamak (riyaah), maka artinya adalah angin rahmat. Itulah pentingnya kita mengerti kaidah tafsir agar tidak salah tafsir.




Angin setiap saat kita nikmati. kalau cuaca panas tidak ada angin, kita pasti mengharapkan angin. kemudian pohon pohon supaya berbuah itu juga membutuhkan angin. Oleh karena itu, di ayat ayat lain angin disebut juga sebagai “hamil”, karena ketika ada mendung, awan itu disebut dihamili oleh angin. Pelajaran yang seperti ini tidak perlu kuliah tinggi tinggi, sebab kita melihatnya setiap hari. Allah yang mengatakan seperti itu. Makanya, sungguh indah jika anak anak kita kalau belajar kimia, fisika, tapi Al-Qur’an dipelajari dahulu, agar menjadi manusia yang hebat. Makanya, orang orang barat itu banyak yang masuk Islam karena ayat ayat kauniyah seperti ini. Kalau mereka murni belajar, bukan menari cari kesalahan Islam, pasti masuk Islam.

        “dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih” dikatakan diturunkan air hujan oleh Allah dalam ayat ini. Untuk apa diturunkan hujan? Supaya kamu menghidupkan dari air itu negeri yang tandus, dan memberikan minum dari mahluk yang Allah ciptakan (manusia, hewan, dan tumbuhan). Jadi yang mendapat karunia dari Allah bukan hanya manusia, tapi mahluk hidup lainnya. Ini nikmat-nikmat Allah yang harus disyukuri.


Al-Qur’an bacaan yang luar biasa.

Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu diantara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (dari padanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat).(QS 25: 50)

Kata “Hu” disini yang dimaksud adalah Al-Quran, bukan hujan, karena di ayat-ayat selanjutnya ini merujuk pada Al-Quran. Memang kata Al-Quran tidak ada. Tapi didalam Al-Quran banyak kita baca, kata Al-Quran tidak ada, tapi kata gantinya disebut.




Jadi maksudnya, kami berikan air atau Al-Quran diantara mereka. Tujuannya apa? agar kamu jadikan pelajaran. Tapi yang terjadi adalah kebanyakan manusia menolak untuk bersyukur. Mari kita renungi Bersama. Kalau kata “Hu” dikembalikan pada makna Al-Quran, ini ada riwayatnya. Pentolan-pentolan orang arab sebelum masuk Islam adalah tokoh quraisy, tokoh orang-orang kafir. Tapi mereka penasaran ketika malam hari mendengarkan Nabi membaca Al-Quran. Padahal mereka kafir. Apa artinya? Hati nurani mereka tidak bisa dibohongi. Sampai sampai mereka takut ketahuan oleh anak buah, kalau meraka mengetahui hal tersebut, karena akan masuk Islam, jika mereka semua tahu. Makanya mereka berjanji untuk malam berikutnya tidak datang lagi. Tapi kenyataannya, di malam berikutnya mereka penasaran masih datang untuk mendengarkan Nabi membaca.

Mereka berkata, “Apa pendapatmu tentang apa yang dibaca Muhammad?” kata salah satu diantara mereka. Mereka menjawab “sungguh bacaan yang luar biasa”. Semua mengakui. Kecuali Abu Jahal, dia mengatakan bahwa dia selalu bersaing dengan keluarga besar Nabi, tapi bingung, kenapa keluarga mereka punya nabi sedangkan keluarga dia tidak punya Nabi. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk tidak beriman. Jadi Abu Jahal itu tidak beriman karena iri, bukan karena tidak paham Al-Quran.

Jadi, sebenarnya dunia itu tahu kebesaran Al-Quran, dan kebesaran Islam, tapi kenapa masih di musuhi. Makanya, dahulu di buat opini bahwa Nabi dulu adalah orang gila, tukang sihir dan lainnya. Sekarang juga sama, tapi bukan orang gila, tapi teroris, tidak menerima toleransi. Ini merupakan sejarah kehidupan yang pasti berulang.

Dan andai kata Kami menghendaki benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan (rasul).(QS 25: 51)

Oleh karena itu munculah ayat

Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Quran dengan jihad yang besar. (QS 25: 52)

Ayat Ini memberikan contoh dan penjelasan pada kita bahwa Al-Quran memiliki kekuatan yang luar biasa. Makanya kalau kita berjihad harus dengan Al-Quran, karena Al-Quran mengguncang dunia.

       Ketika Umar bin khatab dulu masih kafir, beliau sangat ingin membunuh Muhammad, dan semua orang yang tahu hal tersebut, tetapi malah mencemooh beliau, karena adiknya saja sudah ikut dengan Muhammad. Namun ketika Umat bin Khatab mendengar surat Taha dari suara adik perempuannya, Umar langsung beriman. Jangankan manusia, gunung yang besar saja bisa hancur karena takut kepada Allah, tapi masih saja ada manusia yang tidak beriman. keras mana hati manusia dengan gunung?

         Makanya jangan taati orang kafir. Ini merupakan peringatan bagi seluruh manusia di dunia yang mengaku beragama Islam dengan alasan apapun. Yang melarang itu Allah, bukan manusia.
Demikian tadabbur surat Al-Furqon ayat 45- 52. Semoga kita diberikan kecerdasan oleh Allah SWT untuk bisa memahami dan mengamalkan ayat-ayat Allah. Mari kita jaga negeri kita Indonesia ini jangan sampai negeri yang besar ini melenceng dari garis yang sudah ditentukan oleh Allah SWT.
Wassalamualaikum Wr Wb     
   
Transkrip Pengajian ini membahas tema "Tadabur Quran Al-Furqan ayat 45 – 52 yang disampaikan oleh Dr. Ahzami Sami’un Jazuli, MA, di Majlis Pengajian Ahad Pagi (MPAP) Masjid Raya Pondok Indah. Pada hari Ahad, tanggal 18 Februari 2018


Penulis : Bayu Aji Firmansyah dan Deni Darmawan

Tentang Deni Darmawan

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment