Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6


 Penulis : Deni Darmawan

 MUQADDIMAH

Setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan di mintai pertanggung jawabannya. Seorang penguasa juga akan dimintai pertanggung jawabannya, begitu juga seorang ayah pemimpin bagi keluarganya, dan pasti akan dimintai pertanggung jawaban mengenai kepimpinannya dalam rumah tangganya.  Seorang istri pemimpin dirumah bagi anak-anaknya dan akan dimintai pertanggung jawabannya.

       Seperti yang dijelaskan dalam sabda nabi dari Ibnu Umar ra., ia berkata: ”Saya mendengar Rasulullah saw bersabda Kalian adalah pemimpin dan yang akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepimpinan kalian. Seorang penguasa adalah pemimpin dan akan dimintai petanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang istri adalah pemimpin terhadap rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawabannya atas kepimpinannya. Kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan dimintai pertanggungjawaban akan kepemimpinanmu(Muttafaq “Alahi)

       Dalam hal ini penulis ingin mengingatkan bahwa kepimpinan dalam rumah tangga, sebagai  orang tua, anak-anak mempunyai hak yang harus dilaksanakan, sehingga ini menjadi  bentuk  kewajiban untuk  mendidik dan membentuk anak-anaknya menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Mendidik dan membentuk akhlaknya sehingga mempunyai kepribadiannya yang santun, ramah, dan mulia. Seperti memberikan nama yang baik pada saat aqiqahnya, memberikakan pendidikan agama, memberikan rizki yang halal, dsb.

         Kewajiban seorang laki-laki yang belum menikah yaitu mencari calon ibu yang baik pula untuk anak-anaknya.  Sebab ibu yang baik akan memberikan pengaruh yang kuat dalam membentuk karakter anak. Keduanya sebelum menikah dan sesudah menikah mempunyai kewajiban untuk mencari ilmu agama agar bisa membina rumah tangga. Di beberapa negara sudah menerapkan program pra-nikah dan sesudah menikah untuk pembekalan dalam mengarungi rumah tangga agar terciptanya rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warrohmah.

       Pada dasarnya anak-anak merupakan titipan dan amanah dari Allah. Anak merupakan investasi dunia akhirat dan penyelamat untuk kedua orang tuanya kelak jika mereka men didik sesuai ajaran agama, justru sebaliknya jika anak tidak diberikan hak-hak sebagai mestinya, selain berdosa, anak akan membawa celaka untuk kita di dunia dan akhirat.



DASAR KEWAJIBAN MENDIDIK KELUARGA

Keluarga merupakan pendidikan pertama yang diterima oleh anak. Kesuksesan membina keluarga bisa dicapai jika pemimpinnya mampu menggerakan keluarganya pada ketaatan kepada Allah swt dan mengaplikasikan nilai nilai agama dalam kesehariannya. Jika ingin mencapai kesuksesan ukhrawi  maka seorang kepala keluarga bisa menjaga istri dan anak anaknya selamat dan terhindar dari api neraka. Keluarga merupakan amanat yang harus dipelihara kesejahteraannya baik jasmani dan rohani. 

Seperti  firman Allah swt dalam surat At-Tahrim (66) : 6 
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar menjaga dirinya dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu, dengan taat dan patuh melaksanakan perintah Allah. Mereka juga  diperintahkan untuk mengajarkan kepada keluarganya agar taat dan patuh kepada perintah Allah untuk menyelematkan mereka dari api neraka, ini merupakan amanah yang harus dilaksanakan pada setiap keluarga orang orang beriman.
Bagi seorang kepala keluarga yaitu seorang ayah, atau bapak dan istri beserta anak-anakya agar bisa menghayati ayat ini. Peran Ayah dalam membentuk ketaatan kepada Allah mempunyai peranan yang dominan dan amat penting. Ayah sebagai pemimpin dan guru bagi istri dan anak anaknya. Istri mempunyai peranan dominan sebagai guru bagi anak anaknya.

Oleh sebab diawalcmuqadimmah, seorang laki laki harus bisa memilih wanita yang baik dalam standar agama agar bisa menjadi ibu yang baik untuk anak anaknya kelak. Di beberapa negara sudah diterapkan program pra-nikah untuk memdalam ilmu tentang membina keluarga, menjadi suami dan istri yang tahu akan hak dan kewajibannya sesuai anjuran agama. Maka ketika mereka berkeluarga kelak mereka sudah bisa saling memahami dan membina keluarga yang bahagia sesuai anjuran agama.

Maka beruntunglah jika pasangan suami istri cepat dikarunia seorang anak, menjadi dambaan hati dalam keluarga. Berapa banyak pasangan suami istri setelah menikah mereka memohonkan agar bisa berikan keturunan untuk menambah kebahagiaan mereka. Namun banyak juga pasangan suami istri yang sudah lama membina rumah tangga namun belum diberikan keturunan, atau sudah beberapa tahun menunggu kehadiran buat hati kemudian Allah baru menganugerahkan seorang anak ditengah mereka.

Disamping anugerah, anak juga amanah atau titipan Allah yang harus dipelihara, dijaga, dengan sebaik baiknya. Bayi yang baru dilahirkan adalah dalam keadaan suci, oleh sebab itu orang tua mempunyai tanggungjawab untuk selalu menjaga kesucian pribadi sang anak, sehingga pada saat kembali dalam keadaan kematiannya, ia juga mati dalam keadaan suci sebagaimana saat dilahirkan. Rosulullah bersabda,”Seorang bayi yang dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi yahudi, Nasrani, ataupun Majusi”. (HR. Bukhari)

Sebagaimana Rosulullah saw membina keluarga dengan penuh kasih sayang, tutur kata yang menyejukkan hati, dengan sikap yang bijaksana. Sebagai pemimpin keluarga, Rosulullah memberikan contoh dan suri tauladan yang baik. Rosulullah kadang melakukan sendiri  tanpa meminta bantuan istri jika ada sesuatu yang memang perlu untuk diperbaiki. Maka sudah sepatutnya sebagai orang beriman kita mampu menjadikan Rosulullah sebagai contoh dalam membina rumah tangga.

MEMBERI NAMA YANG BAIK

Kewajiban orangtua pada fase kelahiran adalah memberi nama yang baik kepada anak. Menantikan seorang anak dari sebuah pernikahan merupakan dambaan dari pasangan suami istri. Setelah sekian lama menikah atau baru saja menikah Allah menganugerahkan anak yang patut disyukuri dan menjaga amanah kesucian anak. Dalam proses ini Nabi saw mengajurkan kaum muslimin untuk selalu berdoa agar mendapat generasi penerus yang sholeh dan sholehah. Diantara doa yang beliau ajarkan jika hendak melakukan hubungan suami istri. Beliau bersabda”Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak-anak yang Engkau berikan kepada kami.” (HR. Bukhari dan Muslim). Diantara kewajiban orangtua setelah anak lahir adalah memberi nama yang baik. Memberi nama anak yang baik adalah mengikuti sunnah Rosulullah saw. Sebab nama yang baik adalah sebuah doa harapan dari kedua orangtuanya. Nama itu akan selalu melekat kebaikkan pada dirinya hingga dewasa nanti.



Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra., dia berkata Rosulullah  saw pernah bersabda, “Sesungguhnya nama yang paling disenangi Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” Pernah nabi saw, memberi nama kepada anak-anak laki Abu Thalhah dengan nama Abdullah. Begitu juga pada anak laki-laki Abbas, Nabi saw memberi namanya dengan nama Ibrahim, yang diambil dari Nabi Ibrahim, Juga memberikan nama kepada anak laki laki Abu Usaid dengan nama Al-Mundzir. Bisa juga memakai nama Muhammad sebagai nama depan anaknya yang menunjukkan arti terpuji dengan mengandung kemuliaan.

Dan Nabi saw melarang orang tua memberi nama yang jelek, atau mempunyai arti dan makna yang tidak bagus. Dari Jabir bin Andullah ra., berkata, salah seorang dari kami mempunyai seorang anak laki-laki lalu dinamakan Qasim, kemudian kami katakan pada orang itu, “Kami tidak boleh menjulukimu Abul Qasim, dan kami tidak senang dengan anakmu itu.”Maka orang tersebut kepada Nabi saw., kemudia dia laporkan apa yang kami sampaikan tadi, lalu nabi saw, bersabda. “Namailah anakmu: Abdurrahman.”. Jangan juga menamai anak Harb (perang) atau Murrah (pahit), atau nama apa saja sekiranya yang mengadung arti yang kurang baik sebaiknya tidak diberikan nama itu ke anak.
Menjadi kesunnahan juga agar bayi yang baru lahir agar ditahnik yaitu menyuapi bayi dengan makanan yang manis-manis, seperti kurma. Penyuapan ini juga akan menyenangkan bayi karena diperhatikan. Kunyahan pada kurma akan meningkatkan kadar gula kurma sehingga membuatnya lebih manis, dan tentu akan disukai bayi. Tuntunan ini juga dapat diartikan sebagai upaya melath bayi agar kelak bisa dengan mudah menyusui air susu ibunya dan pandai bicara dengan kata-kata yang manis. 
Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim, bahwa Asma ra. datang menemui Rasulallah saw. Dengan membawa bayinya. Asma menceritakan bahwa saat itu Nabi SAW men-taknik-nya dengan kurma lalu berdoa dan memohonkan berkah untuknya. Dalam hadis ini terdapat anjuran membawa bayi yang baru lahir kepada orang-orang shalih agar mendapat k keberkahan dengan doa mereka.

MENGAQIQAHKAN ANAK

Kewajiban orangtua setelah lahirnya anak maka dianjurkan untuk melaksanakan aqiqah sebagai rasa syukur dan tergadaikan atas kelahirannya maka pada hari ke tujuh orangtua membuat aqiqahnya dengan menyembelih kambing, satu ekor kambing untuk anak perempuan dan dua ekor kambing untuk anak laki-laki. Biasanya ketika merayakan aqiqah, orangtua juga sekaligus memberitahukan disecarik kertas nama anaknya yang baru saja lahir agar didoakan menjadi anak yang sesuai dengannya akhlak dan namanya yang indah.


Manfaat aqiqah telah banyak dijelaskan oleh para ulama. Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Tuhfal al-Maudud, menjelaskan bahwa aqiqah sama halnya dengan ibadah qurban yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah, melatih diri agar bersikap darmawan, dan mengalahkan sifat kebakhilan yang terdapat dalam jiwa manusia. Memberikan jamuan (suguhan) sebagai rasa syukur kepada Allah swt karena diberikan anugerah seorang anak.

Aqiqah dapat membebaskan bayi dari rintangan menghadangnya untuk dapat memberikan syafaat (pertolongan) kepada kedua orang tuanya, atau dari keterhalangan dirinya untuk mendapatkan syafaat dari kedua orang tuanya. Memperkokoh syariat dengan menghilangan khurafat (mistik) jahiliyah.

Islam juga menganjurkan agar rambut bayi dicukur pada hari ketujuh hari kelahirannya. Disamping itu, Islam menganjurkan rambut yang dicukur ditimbang dengan nilai emas dan perak. Diriwayatkan dari Ali ra., ia berkata: “Rosulullah saw. Menyembelih aqiqah untuk Al-Hasan berupa seekor kambing, beliau bersabda:”Wahai Fatimah, cukurlah rambut kepalanya, sedekahkanlah perat seberat timbangan rambutnya. Kami kemudian menimbang rambut itu, dan ternyata timbangannya adalah satu dirham, atau setengah dirham. (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).



MENGKHITANKAN ANAK

Khitan adalah syariat yang dianjurkan dalam agama, dengan berkhitan agar tidak ada sisa najis saat kencing dan menempel di kulup. Manfaatnya juga sangat besar untuk kesehatan, mengandung nilai kebaikkan, kebersihan, dan keindahan.  Anjuran khitan yang diriwayatkan dari Usamah, dari Ayahnya ra,. bahwasannya Nabi saw. Bersabda: “Khitan adalah sunnah bagi laki-laki dan merupakan penghormatan bagi kaum perempuan.” (HR. Ahmad)



Seorang anak yang sudah berani secara mental biasanya akan di khitan pada usia 7 tahun. Orang-orang dahulu mengkhitankan anaknya ketika usianya menginjak tamyyiz (mengerti). Khitan merupakan bagian dari fitrah manusia. Seperti didalam hadirs riwayat Bukhari dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. Bersanbda: “Fitrah itu terdiri atas lima hal: khitan, membersihhkan bulu kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak.”

MEMBERIKAN PENDIDIKAN AGAMA

Pendidikan agama merupakan hal yang sangat penting untuk diberikan kepada anak-anak. Pendidikan agama sebagai pondasi keluarga dan anak-anak agar terhindar dari kegiatan negatif yang bertentangan dengan agama dan nilai-nilai dimasyarakat. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Zakiyah Daradjat dalam bukunya Ilmu Jiwa Agama bahwa, “Perkembangan Agama pada anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya, terutama pada masa-masa pertumbuhan yang pertama (masa anak) dari umur 0-12 tahun.

Dengan demikian, jelaslah bahwa pendidikan agama dalam keluarga  sangat diperlukan dalam membina kepribadian anak terutama pribadi muslim. Karena pendidikan tersebut dilakukan dalam keluarga, maka orang tualah yang bertanggung jawab dalam pendidikan anaknya demi tercapainya pribadi anak yang kuat.



Maka sudah menjadi kewajiban bagi orangtua untuk memberikan pendidikan agama terlebih dahulu, khususnya pendidikan tauhid yaitu mengenalkan kebesaran Allah, agar tertanam aqidah yang kuat sejak dini. Sehingga dengan menanamkan aqidah secara kuat kepada keluarga akan terhindar dari segala kemaksiatan kepada Allah, mampu memfilter dan menimbang yang bathil dan yang haq. Yang halal dan yang haram, dsb.

Dalam pendidikan keluarga ada pelajaran yang menarik dari kisah Lukman dalam mendidik keluarganya. Sebagai orang beriman sudah sepatutnya setiap orangtua mengambil pelajaran dan hikmah dari keluarga Lukman dalam memberikan pelajaran kepada anaknya. Tercantum dalam surat Lukman ayat 12 saat Ia diwaktu memberikan pelajaran, mengingatkan agar tidak mempersekutukan Allah sebab itu adalah kezaliman dan dosa yang besar. Jika dalam keluarga khususnya anak anak sudah mempunyai aqidah yang kokoh maka tidak akan berpaling kepada Allah saw, merasa diawasi oleh Allah, merasa dekat, ada rasa takut dan harap kepada-Nya. Jika hasil pendidikan aqidah anak-anak berhasil maka bagi mereka akan berusaha menjalankan perintah Allah swt  dan menjauhin larangan-Nya.  

Seteleh pendidikan Tauhid, maka orangtua juga memberikan pendidikan Akhlak. Misalnya, akhlak kepada Orang tua, sanak saudara, akhlak kepada tetangga, kepada kerabat dan teman-temanya baik di rumah ataupun disekolah. Jika membiarkan anaknya bodoh, tidak memberikan pendidikan akhlak,  maka kedua orangtuanyalah akan berdoa setiap yang dilakukan anak. Nabi saw. Bersabda: “Muliakanlah anak-anak kalian dan baikkan tatakrama mereka.” (HR. Ibnu Majah dari Anas).

Maksudnya dengan mengajarkan anak-anak dengan akhlak yang mulia dan melatih diri. Nabi saw. Yang kepasitasnya sebagai pemimpin dunia, bersikap rendah hati dan tawadhu kepada anak-anaknya, secara umum, khususnya kepada putra putrinya? Beliau menggendong Hasan, ra. diatas pundaknya, beliau mengajak tertawa, membuka mulutnya dan beliau mengecupnya, berlari kesana kemari, bermain diatas perutnya, menaiki punggungnya saat beliau sujud dalam shalatnya.Merangkak sementara cucunya menaiki punggungnya. Kendati demikian, Nabi saw. Sambil bercanda tetap menggunakan kata-kata yang sopan. Tidak memaki, mencela atau memarahi jika si anak melakukan hal kesalahan. Disinilah kita bisa mencontoh bagaimana akhlak beliau didalam keluarganya.



Semua ini bisa terlihat pada penjelasan Anas bin Malik ra. mengenai pendidikan anak yang pernah diajarkan oleh Rosulullah saw. Anas ra. berkata: “Sungguh aku menjadi pelayan Rasulullah selama sepuluh tahun, maka tidak pernah aku mendengar beliau itu mengatakan “ah”. Dan tidak pula mengatakan kepada sesuatu yang aku kerjakan dengan kata:”Mengapa engkau kerjakan ini?” dan puls beliau tidak mengomentari apa yang tidak aku kerjakan dengan kata-kata.”Mengapa kamui tidak melakukan degan cara begini?” (Muttaafaq ‘Alaih)

Seorang imam dalam keluarga tentu memberikan contoh terlebih dahulu sebelum mengajak. Sebab anak-anak yang masih kecil adalah bukan pendengar yang baik, tapi mereka adalah peniru dan pencontoh terbaik. Apa yang dilihat, maka si anak akan meniru baik ucapan atau perbuatan orangtuanya. Untuk membangun kebersamaan dalam keluarga maka orangtua khususnya Ayah bisa mengajak anaknya untuk sholat berjamaah dimasjid, atau dikesempatan lain bisa melakukan sholat berjamaah dengan keluarga, makan malam bersama, memilih tempat rekreasi yang sesuai untuk anak-anak.

Pendidikan agama adalah hal yang harus diprioritaskan terlebih dahulu sambil memberikan pendidikan umum yang lainnya. Jika kedua orang tua sibuk dalam bekerja, maka harus ada quality time untuk anak-anak mereka untuk berdiskusi dan membicarakan  masalah agama. Untuk memperdalam agama si anak orangtua bisa memanggil guru agama secara privat ke rumah.


MEMBERIKAN KASIH SAYANG

Sudah sepatutnya orangtua memberikan kasih sayang dan perhatiannya pada anak. Buah cinta dan kasih sayang dari perkawinan adalah lahirnya seorang anak yang merupakan titipan dan amanah Allah swt.  Dengan kasih sayang itu orangtua mampu memberikan kebutuhan anak, memperhatikan perkembangan anak, memberikan pendidikan yang terbaik, dan fasilitas yang menunjang untuk potensi dan bakatnya. Kalo kita begitu sayang kepada anak, maka untuk urusan pendidikan dan akhlak jangan kita titipkan buah hati kepada seorang pembantu, merasa khawatir bisa jadi anak akan mencontoh segala perilaku dan tutur katanya yang kurang baik sehingga waktu kebersamaanya relatif sedikit dengan orangtua daripada dengan pembantu.



Rosulullah begitu sayang kepada keluarga, anak-anaknya dan keturunanya juga umatnya. Pernah Rosulullah mencium anak dari sahabatnya dengan penuh kasih sayang. Apalagi jika anak itu adalah anak sendiri, sudah tentu pasti kita akan lebih sayang. Dari Abu Hurairah ra., ia menceritakan bahwa “Suatu hari Rasulullah saw. Mencium Al-Hasan, sedangkan dihadapan beliau waktu itu terdapat Al-Aqra’ ibn Habis yang sedang duduk. Al-Aqra’ berkata:”Sesungguhnya aku memiliki sepuluh orang anak, namun aku belum pernah mencium seorang pun dari mereka.”Rasulullah saw. Melihat ke arahnya dan bersabda: “Barang siapa tidak memiliki rasa belas kasihan maka ia tidak mendapatkan belas kasihan dari siapa pun.” (HR. Nukhari bab “Al adab”, 5538).

Dalam menerapkan kasih sayang dalam keluarga dan mempunyai anak-anak yang bebeda-beda dari segi umur, kepintaran, hobby, dsb. Maka orangtua wajib memberikan rasa kasih sayang itu ke semuanya tanpa pilih kasih. Adil dan sama perlakuan. Jangan ada sikap orangtua yang selalu membanding-bandingkan anak dari aspek tertentu akan membuat anak tidak nyaman, tersisihkan, dan putus asa.

Dengan mencontoh kasih sayang dari nabi saw. Orangtua bisa menerapkan dan bisa menceritakan dengan bahasa yang sederhana menceritakan kisah nabi saw. Bagaimana beliau mempunyai kasih dan selalu mengasihi keluarga, sahabat, anak-anak bahkan binatang. Ketika orangtua banyak bercerita dengan bahasa yang sederhana maka akan menimbulkan kecintaan anak-anak kita kepada baginda nabi Muhammad saw. Kecintaan kita terhadap nabi saw. sebagai penyempurna iman kita. Nabi bersabda: “Tidaklah sempurna iman seseorang diantara kalian sebelum aku lebih dicintai olehnya daripada kecintaan kepada ayahnya, anaknya dan manusia semuanya.”(HR. Bukhari).




Rasulullah saw. Juga mengikat hati mereka dengan kecintaan kepada keluarga beliau. Sehubungan dengan Hasan dan Husain putra Ali ra., Rosulallah bersabda: “Ya Allah sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah keduaya dan barang siapa yang mencintai keduanya, sesungguhnya dia telah mencintaiku.”(HR. Bukhari). Begitu cintanya nabi kepada keluarganya. Sebab tujuan membentuk keluarga juga terdapat dalam Al-Quran surat Ar-Rum ayat 21, Pembinaan keluarga dimulai dari tujuan pernikahan, yaitu ketenangan dan kebahagiaan. “Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah ia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih (mawaddah) dan  sayang (rahmah). Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kamu yang berfikir.”


MENGAJARKAN ADAB

Agama Islam adalah agama yang sempurna. Segalanya diatur sedemikian rupa agar setiap manusia memperoleh kemuliaan dalam melaksanakan syariat Islam. Allah telah mengutus nabi saw. sebagai suri teladan dalam hidup dan idola dunia akhirat. Sebab  Allah ta’ala berfirman:”Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti luhur.” (Qs. Al-Qalam: 4).
Mengaplikasikan adab dalam keluarga sejak awal membentuk keluarga merupakan hal yang sangat penting. Adab inilah yang menjadikan manusia penuh kemuliaan yang membedakan dengan binatang dalam hal bertutur dan bertindak. Bahkan para santri atau para penuntut ilmu mendahulukan adab sebelum menuntut ilmu, sebab jika seseorang mempunyai adab yang bagus maka kemuliaan bagi dirinya. Namun jika orang berilmu tapi tidak beradab maka kehinaan yang akan diperolehnya. Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash ra., ia berkata:”Pribadi Rasulullah saw. Bukan orang yang keji dan bukan orang yang jahat. Bahkan beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik budi pekertinya.” (Mutatafaq ‘Alaih)



Dalam sebuah keluarga orangtua mempunyai peran yang sangat kuat dalam membentuk akhlak dan adab anak-anak mereka. Seorang Ayah mampu memberikan contoh serta adab kepada istri dan anak-anaknya dari hal hal kecil hingga hal-hal yang lebih besar. Sedangkan dalam Islam banyak mengajarkan segala macam adab sehari-hari dalam keluarga. Misalnya adab berbicara, adab makan, adab dalam rumah
Hendaklah orangtua jika berada didalam rumah atau diluar rumah selalu membiasakan mengucapkan salam kepada anak-anak mereka. Sebagaimana  hadis dari Anas ra. “Bahwasannya ia berjalan melewati anak-anak, kemudian mengucapkan salam untuk mereka, serta berkata:”Rasulullah saw., biasa melakukan hal demikian ini.”(HR. Bukhari dan Muslim). Nabi juga jika bejalan melewati sekelompok wanita beliau mengucapkan salam.


MEMBERIKAN NAFKAH

Kewajiban yang harus diperhatikan oleh orang tua  terhadap anaknya adalah memberi nafkah. Mencari rizki yang halal merupakan hal yang diperintahkan oleh Allah. Apalagi memberi nafkah atau rizki kepada istri dan anak-anak kita sekuat mungkin kita berikan hasil rizki yang halal, yang baik dan yang berkah. Rizki yang kita cari merupakan jerih keringat sendiri. Allah ta’ala berfirman: ”Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para Ibu dengan cara yang ma’ruf. (Qs. Al-Baqarah: 233).

Jangan risau akan semua karunia Allah, burung saja Allah berikan rizki dari arah mana saja, apalagi seorang hamba Allah yang beriman yang berusaha menafkahi istri dan anak-anak, maka Allah akan gantikan dengan pahala yang lebih baik. Jangan sampai ada kata yang terbesit dalam pikiran kita bahwa mencari rizki yang haram saja susah apalagi yang halal, ini adalah ucapan orang yang tidak beriman. Luasnya tempat Allah di bumi tentu begitu banyak rizki yang berlimpah apalagi kita hidup di Indonesia, negeri yang makmur akan sumber daya alam. Allah berjanji dala, firmannya : “Dan barang siapa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya.” (Qs. Saba: 39).

Bahkan Rosulullah saja menyukai seorang muslim yang kerjakeras bahkan tangannya hingga kapalan karena menafkahi keluarganya. Tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah. Artinya memberi itu lebih baik daripada meminta, mencari dan berusaha itu lebih baik daripada diam tanpa usaha. Perlu kita cermati hadis dari Abu Hurairah ra., ia berkata:”Rasulullah bersabda: “Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya yaitu satu dinar yang kamu nafkahkan kepada  keluargamu.” (HR. Muslim)



Seorang kepala keluarga yang tidak sungguh-sungguh mencari nafkah, bahkan tidak mempunyai tanggung jawab dalam menafkahi istri dan anak-anaknya. Seorang Ayah yang sungguh-sungguh mencari rizki, sungguh Allah menjadi senang kepadanya dan iapun disejajarkan dengan orang yang berhihad dijalan Allah swt. “Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barangsiapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azaa Wa Jalla.” (HR. Ahmad)

Wahai keluarga cermatilah hadis yang disampaikan dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash ra., ia berkata:”Rasulullah saw bersabda: ”Seseorang cukup dianggap berdosa apabila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud, Nasa’i dan Hakim). Cukuplah hadis ini mengingatkan kita agar kita tidak menyia-nyiakan kewajiban kita terhadap istri dan anak-anak kita. Jangan sampai kita lalai hingga istri dan anak-anak kita malah membawa kita terjerumus ke api neraka. Sebab anak-anak sholeh dan sholeheh akan menjadi penyelamat diri kita diakhirat. Anak-anak yang sholeh dan sholeh adalah investasi dunia dan akhirat yang bisa menolong kita di negeri akhirat yang nan abadi. 


DAFTRA BACAAN
Al-hidayah Al-Qur’an tafsir perkata tajwid kode angka, PT. Kalim
Shahih Bukhari, penerjemah Achmad sunarto, CV. Asy Syifa’, Semarang, 1993
Ringkasan Shahih Muslim, penerjemah Drs. Achmad Zaidun, Pustakan Amani, Jakarta 2003.
Hidup sebelum mati, Achmad Najieh, Penerbit Ampel Mulia Surabaya, Surabaya, 2012. 
Ilmu Jiwa Agama, Zakiyah Daradjat,  PT. Bulan Bintang, Jakarta 1991.

Catatan :
Tulisan “Kewajiban orang tua terhadap anak” ini pernah disampaikan dalam tausiah arisan keluarga besar walimurid saya di Pondok Indah. Semoga bermanfaat.





Tentang Deni Darmawan

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment