Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

MEMAKNAI PERGANTIAN TAHUN

Oleh : Deni Darmawan

Dalam perputaran waktu, detik demi detik, menit demi menit, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan begitu seterusnya akan kita alami selama kita hidup. Tanpa terasa,  waktu begitu cepat berlalu, waktu yang begitu berharga dan amat mahal harganya, sebab dia tidak akan kembali lagi. Kualitas hidup seseorang bisa di lihat bagaimana Ia mempergunakan waktu  dan umurnya sebaik mungkin, yaitu untuk ibadah kepada Allah, mencari ilmu, berbuat kebaikan atau mengisi waktunya untuk hal yang positif.

Namun kita bisa lihat, dari belahan negara atau di tanah air kita, begitu antusiasnya mereka menanti dan merayakan setiap pergantian tahun. Diantara mereka ada yang membeli dan menikmati pesta kembang api dalam jumlah besar. Meniup  terompet hingga suaranya terdengar disetiap sudut kota. Asap panggang jagung, ayam dan ikan bakar yang baunya semerbak dimana-mana.

Atau kerap kali kita juga melihat dan mendengar berita-berita dimedia tentang banyaknya pemuda dan pemudi, kerap melakukan hal-hal negatif, seperti mabuk-mabukkan, kebut-kebutan, berzina, dan perbuatan maksiat lainnya atau yang lebih ekstrim mencoba mem-bom rumah-rumah ibadah, merusak fasilitas sehingga membuat keresahan, dan ketakutan di tengah masyarakat. Sehingga kepolisian dan warga harus bersiap berjaga-jaga mengantisipasi itu semua.
 
Lalu bagaimana memaknai pergantian tahun, agar tiap umat muslin dan umat Islam semakin tahun ada perubahan, ada peningkatan iman dan takwa, peningkatan kualitas diri, dsb. Maka sudah sepatutnya sebagai umat Islam mengacu pada arahan dan pedoman Al-Quran dan hadis nabi serta menapaki jejak-jejak spritual para ulama agar senantiasa tidak menjadi orang-orang merugi dan lalai.

Hendaklah memperhatikan hari ini, esok dan kelak (akhirat)

Betapa besarnya Islam memberikan perhatian tentang waktu, hari dan seterusnya. Allah bersumpah demi waktu, maka sudah dipastikan manusia akan dalam keadaan merugi kecuali orang yang beriman, beramal sholeh, saling menasehati, menyeru dan mengajak dalam kebenaran dan kesabaran. Mencari bekal sebanyak mungkin untuk negeri akhirat kelak, mempergunakan waktu dan sisa usia untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dan menjauhi dari hal kesia-siaan.

Oleh sebab itu, umat Islam untuk banyak melakukan muhasabah diri sambil mengevaluasi diri, berapa banyak dosa apa yang telah diperbuat, amal apa yang sudah dikerjakan, bekal apa yang sudah kita bawa untuk ke negeri akhirat. Semua akan dipertanyakan dan akan dipertanggung jawabkan kelak. Kaki, tangan dan anggota tubuh akan bersaksi semua saat kita masih hidup di dunia.

Di sisi lain bisa juga kita lihat, pemuda-pemudi yang melakukan kegiatan positif di masjid-masjid dan mushola dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Melakukan kajian, itikaf, tausiah, sholat tahajud bersama, dsb. Mereka isi pergantian tahun untuk mengevaluasi dan bermuhasabah. Inilah yang juga dikatakan oleh Umar bin Khattab, bahwasannya agar tiap diri mampu menghisab diri sebelum nanti di hisab (di hitung amalnya) diakherat kelak. Merenungi kembali semua perjalanan waktu yang sudah dilewati. Memperhatikan hari ini, esok dan kelak diakherat nanti, begitulah yang tertera dalam surat Al-Hasr ayat 18  

Sesungguh Allah SWT telah memberikan modal untuk kita yaitu waktu dan umur. Kita harus menyadari tahun yang semakin bertambah, maka waktu jatah hidup kita di dunia makin berkurang. Umur yang bertambah, maka pada hakikatnya dosa kita juga makin bertambah. Oleh sebab itu, seorang mukmin harus mempergunakan sebaik-baiknya waktu dan umurnya yang diberikan dari Allah SWT. Orang yang telah diberikan umur panjang dan baik amal perbuatannya maka itu yang di sebut oleh nabi sebagai seaik-baik manusia. “man tholla ’umruhu wa hasuna ‘amaluhu. Begitupun sebalik, nabi menyebut seburuk-buruk manusia yang panjang umurnya namun juga buruk amalnya. “Man tholla umruhu wa saa a ‘amaluhu”

Seorang mukmin harus menyadari, bahwa hidup di dunia ini hanya sementara dan sebentar. Usia rata-rata umat nabi Muhammad itu antara 60 hingga 70 tahun, kalaupun begitu umat Nabi juga diberikan karunia, keutamaan, keberkahan dan begitu banyak pahala yang diberikan oleh Allah swt. Oleh sebab itu, jangan sampai kita tertipu dengan kehidupan dunia, sebab kita tinggal di dunia ini, hanya seperti orang asing atau musafir yang numpang lewat seperti perkataan Ibnu Umar “ kun fii dunya kannaka ghoriibun aw ’aabiri sabiili” Dalam kehidupan yang kita jalani saat ini, tentu kita semua akan kembali ke pangkuan Allah dan akan dipertanyakan atas umur yang sudah kita habiskan, atas harta yang kita peroleh dan kita pergunakan, atas ilmu yang kita manfaatkan.  Semua akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.

Tingkatkan Syukur kepada Allah SWT.

Seorang mu’min wajib untuk meningkatkan rasa syukur atas semua fasilitas yang diberikan Allah swt. Hingga detik ini, hari ini, Allah masih memberikan berbagai macam nikmat, diantara umur panjang dan waktu luang. Maka sudah sepatutnya kita syukuri itu semua, dengan selalu mengucapkan alhamdulillah, dengan istiqomah menjalankan ibadah dan taat kepada Allah swt. Dan senantiasa meyakini di hati jika semua nikmat itu dari Allah swt. Jika kita mau menghitung-hitung nikmat Allah niscaya kita tidak akan mampu untuk menghitungnya. Jangan menjadi hamba yang kufur, setelah apa yang telah kita peroleh tapi kita tidak mampu mensyukuri itu semua, maka azab Allah amat pedih.

Taubat kepada Allah SWT

Alhamdulilah kita diberikan kesempatab hidup di dunia ini, umur dan waktu jangan di sia-sia tanpa amal dan menggapai ridho-Nya. Setiap tahun kita sering berbuat salah disadari atau tidak.  Maka bertobatlah kepada Allah, sebelum ajal menjemput. Menyesali semua perbuatan yang pernah dilakukan, menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi, meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti dan zalimi, kepada Allah dan manusia. Taubatlah dengan sungguh-sungguh, agar kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat.


Tentang uncle Dee

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

1 komentar: