Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Khutbah Jum’at
Tafakkur sebagai introspeksi diri”
Oleh : Moch. Deni Darmawan, M.Pd.I

Hadirin Jama’ah sholat Jum’at yang dimuliakan Allah swt.
Mengawali khutbah kali ini, tiada henti-hentinya khotib berwasiat untuk senantiasa tingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah swt. Khususnya pada diri khotib sendiri dan umumnya jamaah sekalian agar hidup kita selalu terisi dengan nilai-nilai ketakwaan kepada Allah swt. Sebab dengan kualitas ketakwaan kebahagiaan hidup akan dicapai, baik di dunia maupun di akhirat.
Ketahuilah, ketika seseorang telah benar-benar bertakwa, maka ia akan mendapatkan fasiltas yang istimewa dari Allah swt, diantaranya, diampuni dosa-dosanya, diberikan padanya jalan keluar yang baik dan rizki dari arah yang tiada disangka sangkanya, segala urusanya akan dimudahkan, dan kelak di akhirat telah disediakan surga yang penuh dengan kenikmatan sebagai tempat tinggalnya.
 Jamaah sidang Jum’ah yang dirahmati Allah.
Kita baru saja melewati pergantian tahun baru Islam dari 1434 H dan memasuki tahun 1435 H. Bahkan sebentar lagi kita juga akan melewati pergantian tahun baru masehi yaitu tahun 2014. Setiap detik waktu yang sudah kita lewati mustahil dapat diganti. Setiap menit dan jam yang sedang kita lewati mustahil dapat diperpanjang. Setiap pekan, bulan dan tahun yang kita habiskan mustahil dapat diulangi lagi. Setiap waktu yang sudah berlalu, tidak akan pernah dapat diganti dan diulangi. Itulah sunnatullah (sistem/hukum Allah) dalam kehidupan dunia ini. Kemampuan kita tak lebih dari sekedar menghitung detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun. Sebab itu, beruntunglah orang-orang yang kualitas keimanan dan amal shaleh mereka pada hari ini lebih baik dari kemarin. Rugilah orang-orang yang kualitas iman dan amal shaleh mereka pada hari ini sama dengan hari kemarin. Celakalah orang-orang yang kualitas iman dan amal shalehnya mereka pada hari ini lebih rendah dan lebih sedikit dari hari kemarin.
Sebagian dari umat Islam dinegeri ini mungkin ada yang merayakan pergantian tahun dengan pesta fora, bergadang hingga larut malam, bahkan berbuat maksiat, menghabiskan waktu dengan sia-sia dan melakukan dosa tanpa ia sadari, tahun demi tahun yang terlewati ia habiskan waktu seperti itu hingga suatu saat nanti itu akan membawa penyesalan mendalam di kehidupan kelak. Namun ada juga sebagian dari kita melewati pergantian tahun dengan melakukan kegiatan positif. Kegiatan keagamaan dalam rangka untuk instropeksi diri dan evaluasi dalam memperbaiki diri agar menjadi manusia yang lebih baik lagi. Hasibuu qobla antu hasibuuu (hisablah diri kalian sebelum kamu dihisab nanti)
Kaum muslimin yang berbahagia.
Tentu sebagai orang beriman, Allah selalu mengingatkan kita untuk selalu mempergunakan waktu dan umur kita untuk beramal soleh dan meningkatkan kualitas iman dan takwa  kita. Namun tanpa disadari, tahun demi tahun silih berganti, umur kita pun bertambah, hakikatnya umur kita malah berkurang dan bertambah pula dosa kita, jatah hidup di dunia pun semakin sedikit. Oleh sebab itu, agar kita bisa menjalani hidup lebih berarti dan bermakna terhadap Allah, maka cobalah sejenak kita instropeksi diri dan bertafakur yaitu dengan memikirkan dan merenungkan dengan sungguh-sungguh kebesaran akan Allah swt, nikmat-nikmat Allah, janji janji Allah, ancaman Allah, dan ketaatan serta kebaikkan kita kepada Allah.
Manusia yang mempunyai akal tentu ia selalu berdzikir dan memikirkan tentang ciptaan Allah swt. Seperti Allah firmankan didalam Al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 191
tûïÏ%©!$# tbrãä.õtƒ ©!$# $VJ»uŠÏ% #YŠqãèè%ur 4n?tãur öNÎgÎ/qãZã_ tbr㍤6xÿtGtƒur Îû È,ù=yz ÏNºuq»uK¡¡9$# ÇÚöF{$#ur
 (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.
Saking pentingnya ibadah tafakur ini, Sayyidina Ali Rodiallahuanhu pernah berkata :
                                         لاَعِبَادَةِ كَالتَّفَكُّرِ 
“Tiada ibadah yang nilainya sebanding dengan tafakur”
Bahkan sebagian ahli ma’rifat berkata; “Tafakur itu merupakan pelita hati. Ketika tafakur hilang, maka tidak ada pelita lagi bagi hati”

Rosulullah saw pernah bersabda:
تَفَكُّرُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّيْنَ سَنَةٍ
“Tafakur sesaat lebih baik daripada ibadah selama 60 tahun”
Menurut Syaikh Al-Hifni maksud hadist ini adalah bahwa tafakur tentang semua ciptaan Allah, tentang sakaratul maut, tentang siksa kubur, dan tentang kesulitan kesulitan yang terjadi pada hari kiamat, lebih baik daripada ibadah yang banyak. Tafakur tidak akan bisa terwujud tanpa ada lisan yang terbiasa berdzikir kepada Allah yang disertai dengan kekhusyu’an hati, sehingga memungkin adanya dzikir di dalam hati.
Ma’a syirol muslimin rohimakumullah
Jumhur ulama berkata, tafakur itu ada 5 macam. Yang pertama adalah :
Tafakur mengenai tanda-tanda kekuasaan Allah, sehingga lahir tauhid dan keyakinan kepada Allah
Tafakur mengenai tanda-tanda kekuasaan Allah adalah tafakur tentang semua keajaiban ciptaan Allah yang spektakuler dan tentang bukti-bukti kekuasaan-Nya, baik yang terlihat oleh mata maupun yang tidak, yang semuanya terbentang di langit dan di bumi, termasuk ciptaan Allah yang sungguh menakjubkan adalah diri manusia. Allah berfirman dalam surat Yunus : 101
 (#rãÝàR$# #sŒ$tB Îû ÅVºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur 4
"Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.
Îûur ÇÚöF{$# ×M»tƒ#uä tûüÏZÏ%qçHø>Ïj9 ÇËÉÈ   þÎûur ö/ä3Å¡àÿRr& 4 Ÿxsùr& tbrçŽÅÇö7è? ÇËÊÈ  
“dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan? (Qs. Adz-Dzaariyat (20-21)
Tafakur mengenai tanda-tanda kekuasaan Allah akan melahirkan tauhid dan keyakinan kepada Allah, akan menambah ma’rifah kita kepada Allah dan kepada sifat-sifat dan nama-Nya. Adapun di antara lahirnya keyakinan kepada Allah adalah merasa tenang dan tentram akan janji Allah, percaya penuh akan jaminan-Nya, sangat antusia menyambut seruan-Nya, berusaha meninggalkan semua larang-Nya, mengerahkan segala kemamuan dalam meraih ridho-Nya.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Adapun macam tafakur yang kedua yaitu
“Tafakur mengenai nikmat-nikmat Allah, sehingga lahir rasa cinta dan syukur kepada Allah”
Begitu banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita baik yang sifatnya materi maupun immateri, yang terlihat maupun yang tidak. Mari kita renungkan ayat ini tatkala Allah swt berfirman dalam surat Al-A’raaf: 69
( (#ÿrãà2øŒ$$sù uäIw#uä «!$# ÷/ä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÏÒÈ  
Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah agar kamu beruntung”
Mengingat-ingat akan nikmat Allah akan menjadikan kita sebagai hamba yang bersyukur. Semua nikmat Allah berikan kepada setiap hambanya, sehingga kita hanya mampu mengingat-ingat tanpa mampu untuk menghitungnya. Perintah Allah agar kita senantiasa mengingat-ingat akan semua nikmat yang Allah berikan, bukan untuk menghitung-hitung nikmat-Nya, Seperti Allah jelaskan didalam surat Qs. An-Nahl ayat 18
bÎ)ur (#rãès? spyJ÷èÏR «!$# Ÿw !$ydqÝÁøtéB 3
dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya
Maka sudah semestinya sekecil atau besarnya nikmat  yang diberikan oleh  Allah  kepada kita wajib untuk selalu menyukurinya, namun bila kufur, maka azab Allah amat pedih.
Ada beberapa cara mensyukuri nikmat Allah swt. Pertama, syukur dengan hati. Ini dilakukan dengan mengakui sepenuh hati apa pun nikmat yang diperoleh bukan hanya karena kepintaran, keahlian, dan kerja keras kita, tetapi karena anugerah dan pemberian Alloh Yang Maha Kuasa. Keyakinan ini membuat seseorang tidak merasa keberatan betapa pun kecil dan sedikit nikmat Allah yang diperolehnya.

Kedua, syukur dengan lisan. Yaitu, mengakui dengan ucapan bahwa semua nikmat berasal dari Allah swt. Pengakuan ini diikuti dengan memuji Alloh melalui ucapan alhamdulillah. Ucapan ini merupakan pengakuan bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Allah.

Ketiga, syukur dengan perbuatan. Hal ini dengan menggunakan nikmat Allah pada jalan dan perbuatan yang diridhoi-Nya, yaitu dengan menjalankan syariat , menta'ati aturan Alloh dalam segala aspek kehidupan

Oleh sebab itu pentingnya kita bertafakur tentang nikmat-nikmat Allah sehingga akan lahir rasa cinta dan syukur kepada Allah.
Kaum muslimin rohimakumullah
Adapun tafakur yang ke-3 yaitu :
“Tafakur tentang janji-janji Allah, sehingga akan lahir cinta kepada Akhirat”
Di dalam Al-Quran terdapat sekian banyak janji mulia dan istimewa yang ditawarkan kepada orang-orang yang memiliki keimanan dan ketaqwaan, baik janji-janji di dunia maupun janji-janji di akhirat.
Apa saja janji-janji Allah itu? Di dalam Al-Qur’an Allah SWT berjanji pada orang-orang yang beriman. Diantara janji-janji Allah yaitu akan menolong orang-orang yang beriman dalam setiap kesulitan. Allah berjanji akan memberikan pembelaan kepada orang2 yang beriman, Allah berjanji akan memberikan perlindungan kasih sayang, berjanji akan memberikan jalan yang benar dan lurus, berjanji memberikan kekuasaan di dunia dan kemapanan dalam segala bidang, Allah juga berjanji kepada orang-orang yang beriman akan memberikan keberkahan dari langit dan bumi dan memberikan kemuliaan dan kejayaan, memberikan kehidupan yang baik dan kemenangan.
Inilah janji Allah yang benar. Allah menjanjikan surga diakhirat nanti untuk orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Seperti Allah firmankan didalam Al-Qur’an Qs Maryam : 61
ÏM»¨Zy_ Abôtã ÓÉL©9$# ytãur ß`»oH÷q§9$# ¼çnyŠ$t7Ïã Í=øtóø9$$Î/ 4 ¼çm¯RÎ) tb%x. ¼çnßôãur $|Ï?ù'tB ÇÏÊÈ  
Yaitu syurga 'Adn yang telah dijanjikan oleh Tuhan yang Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya, Sekalipun (syurga itu) tidak nampak. Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditepati.
Itulah Tafakur tentang janji-janji Allah yang benar dan pasti bagi orang beriman dan bertakwa; sehingga tafakur ini akan lahirnya rasa cinta kepada akhirat.

Sidang jum’ah yang berbahagia
Tafakur macam yang ke-4 yaitu :

“Tafakur tentang ancaman Allah, sehingga lahir rasa takut kepada Allah”
Bagaimana ancaman Allah terhadap orang-orang yang lalai terhadap perintah Allah dan orang-orang kafir, pelaku maksiat serta orang-orang yang durhaka kepada Allah. Allah berfirman di dalam surat Al-Infithaar (82) : ayat 14.
 ¨bÎ)ur u$£Úàÿø9$# Å"s9 5OŠÏtrb ÇÊÍÈ  
“ dan Sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka”
Allah Subhanahuwata’ala telah mengancang kepada siapa saja yang telah menyekutukannya dengan ancaman yang sangat dahsyat dan mengerikan, yaitu keabadian untuk tinggal dalam neraka, serta menerima dan merasakan adzab yang sangat pedih balasan atas pendustaan yang mereka perbuat selama didunia. Na’udzubillah min dzalik.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah.
Dan macam tafakur yang ke-5 yaitu :
“Tafakur tentang sejauh mana ketaatan kepada Allah, padahal Allah berbuat baik kepadanya, sehingga lahir kegairahan dalam beribadah”
Di usia kita saat ini, dalam proses perjalanan hidup kita di dunia. Apakah kita pernah sudah bertanya kepada hati kita yang paling dalam, apakah selama ini kita taat kepada Allah atau disadari atau tidak kita sering berbuat dosa.
Maka coba kita renungkan surat Adz-Dzaariyat ayat 56
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ  
“dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku
Didalam ayat ini dijelaskan bahwa kita diciptakan Allah agar kita terus mengabdi dan beribadah kepada Allah swt hingga akhir hayat kita. Kita diciptakan oleh Allah bukan untuk main-main, bersenang-senang hingga kita lalai tanpa membawa bekal amal sholeh.
Hal yang termasuk tafakur tentang sejauh mana ketaatan kita kepada Allah dan kebaikkan Allah kepada diri kita adalah  mentafakuri bahwa Allah Maha Mengetahui keberadaan kita dan Maha Melihat apa pun yang kita kerjakan. Allah juga mengetahui setiap hati manusia walaupun hanya bisikan dan lintasan hati sebab Allah lebih dekat daripada urat nadi kita. Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tiada pembicaraan antara 3 orang melainkanlah Dia yang keempatnya. Sehingga buah dari tafakur ini adalah kita merasa malu kepada Allah apabila melanggar perintah dan larangan Allah.
Dalam hal ketaatan dan kebaikkan dari Allah coba kita renungi  kehidupan dunia yang sesaat dan kenikmatan yang sementara, penuh sendau gura dan main-main. Kematian cepat atau lambat akan dating, jangan sampai penyesalan dan kerugian terjadi sesudahnya. Sungguh, kehidupan akhirat itulah yang sebenarnya dan surge yang penuh kenikmatan yang kekal selamanya. Demikian Allah menjelaskan melalui ayat-ayatnya agar manusia berfikir tentang dunia dan akhirat sehingga tafakur ini membuat kita zuhud kepada dunia. Tafakur ini akan menimbulkan kegairahan dan semangat mengejar akhirat dan mencari bekal pulang ke kampung akhirat.
Sudah seyogyanya bagi setiap muslim untuk mempraktekkan semua tafakur yang telah diuraikan ini, hanya saja yang perlu diperhatikan adalah agar jangan sampai terjebak pada tafakur tentang dzat Allah.
Tafakkaruu fii aayaatillah, wa laa tafakkaruu fillah, fainnakum lam taqduruuhu haqqo qodrihi 
Bertafakurlah kalian tentang tanda-tanda kebesaran Allah, dan janganlah kamu berfikir tentang zat Allah, sebab kalian benar-benar tidak akan mampu melakukannya


* Disampaikan saat menjadi khatib di Masjid Al-Muqarromah, Bintaro Veteran RS. Dr. Suyoto, Jum'at, 6 Desember 2013.

























Tentang uncle Dee

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment