Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Khutbah Idul Fitri
Ramadhan sebagai peningkatan kualitas diri
          Oleh : Moch. Deni Darmawan, M.Pd.I

                                                             Allahu Akbar 3x. Walillahilhamdu.
Kaum muslimin Rahimakumullah.

puji dan syukur tak henti-henti kita panjatkan ke khadirat Allah swt yang telah memberikan nikmat Iman, Islam dan sehat wal’afiat. Dengan nikmat-nikmat tersebut  Allah sampaikan usia kita pada hari yang amat membahagiakan yaitu hari raya Idul Fitri. Sebagai tanda syukur itulah, kita berkumpul di tempat ini dengan menggemakan takbir, tahlil, dan tahmid serta menunaikan sholat Idul Fitri bersama.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad saw yang telah berjuang menyebarluaskan dan menegakkan nilai-nilai Islam sehingga kita menjadi salah seorang pengikutnya yang setia hingga akhir kehidupan kita nanti.
Alhamdulilah bulan Ramadhan telah kita lewati bersama, perasaan gembira dan sedih meliputi diri kita. Pertama, kita merasa gembira karena doa kita di ijabah karena umur kita sampai pada bulan Ramadhan. Seperti doa yang sering kita lafadzkan;
Allahumma baariklana fii rojaba wa sya’banaa balighnaa romadhoon.
“Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah umur kami pada bulan Ramadhan”  
Berbahagia kita sebulan penuh kita bisa berpuasa dan melakukan ibadah-ibadah baik wajib maupun sunnah, dengan harapan semua amal ibadah kita lakukan senantiasa di terima Allah swt, segala doa yang kita panjatkan mudah-mudahan di ijabah oleh Allah, Allah hapuskan segala dosa-dosa kita, mendapat rahmat, ampunan dan dibebaskannya kita dari api neraka, sehingga kita berharap menjadi manusia yang lebih baik lagi, bersih dari dosa dan kita semua menjadi insan bertakwa, suatu predikat yang mulia disisi Allah swt. Sungguh, bulan Ramadhan yang  kita tinggalkan telah memberikan kebahagiaan serta kesan tersendiri bagi kita, karena di bulan ini memberikan nilai pembinaan yang sangat dalam, memberikan hikmah untuk kehidupan dunia dan khususnya kehidupan akhirat kelak. Kegembiraan itu telah mengantarkan kita pada hari yang fitri ini, menuju kemenangan seiring takbir menggema.
Kedua, di sisi lain kita merasa sedih karena Ramadhan telah meninggalkan kita, begitu cepat sepertinya waktu berlalu. Didalam benak kita seakan-akan bulan yang agung itu baru datang sore kemarin, kini telah berkemas dan hendak meninggalkan kita sampai sebelas bulan kedepan. Yang kita gusarkan, kita tak tahu pasti apakah sebelas bulan nanti kita masih mampu berdiri di shaf yang sama, ibadah bersama orang-orang kita cintai, apakah kita masih memiliki iman yang sama, atau apakah kita telah terpekur didalam tanah yang dingin, dibalut secarik kain usang dan kesakitan dihimpit kubur yang gelap. Di penghujung bulan Ramadhan, Rasulullah dan para sahabat menangis sedih karena Ramadhan akan berlalu, bulan yang penuh barokah dan ampunan, dan bulan di mana doa-doa dikabulkan oleh Allah SWT dan bulan yang didalamnya ada hari yang lebih baik dari 1000 bulan, sehingga Beliau senantiasa berdo’a, Ya Allah janganlah jadikan puasa ini sebagai puasa yang terakhir dalam hidupku. Seandainya Engkau berketetapan sebaliknya, jadikanlah puasa yang dirahmati bukan yang hampa semata. Semoga perpisahanku dengan bulan Ramadhan ini bukanlah perpisahan untuk selamanya dan bukan pula akhir pertemuanku. dengan demikian aku dapat kembali bertemu pada tahun mendatang dalam keadaan penuh keleluasan rezeki dan keutamaan harapan” . Mereka menangis karena merasa belum banyak mengambil manfaat dari Ramadhan. Mereka sedih karena khawatir amalan-amalan mereka tidak diterima dan dosa-dosa mereka belum dihapuskan. Mereka berduka karena boleh jadi mereka tidak akan bertemu lagi bulan Ramadhan yang akan datang.  Bahkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud RA pernah berkata “Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalannya untuk kita beri ucapan selamat, dan siapakah gerangan di antara kita yang ditolak amalannya untuk kita ‘layati’. Wahai orang yang diterima amalannya, berbahagialah engkau. Dan wahai orang yang ditolak amalannya, keperkasaan Allah adalah musibah bagimu” Lantas bagaimana dengan kita, tatkala Ramadhan akan meninggalkan kita, apakah kita merasa sedih atau sebaliknya kita disibukkan dengan segala macam persoalan, seperti persiapan mudik, kue dan baju lebaran, dsb.

Allahu Akbar 3x. Walillahilhamdu.
Kaum muslimin Rahimakumullah.
Ramadhan telah meninggalkan kita, dan kita akan menginjak pada bulan syawal yang artinya adalah peningkatan, mulai hari ini berarti harus kita tunjukkan peningkatan-peningkatan ketakwaan kepada Allah swt sebagai hasil dari ibadah Ramadhan. Maka setiap Ramadhan yang dilalui oleh setiap umat Islam maka ada hal-hal yang harus kita tunjukkan baik sifat dan sikap seorang mu’min setelah menjalankan ibadah Ramadhan, antara lain:
Pertama, merasa dekat kepada Allah swt (taqarrub ilallah). Dengan sikap ini kita akan merasa diawasi dan takut kepada Allah swt. Tatkala kita ingin berbuat maksiat sekecil apapun walaupun hanya dengan getaran hati, kita akan merasa takut akan azab dan murka Allah swt. Tatkala kita menjalankan ibadah puasa, dengan letih kepayahan, sholat taraweh dan sholat malam, membaca Al-Qur’an, kita berjihad untuk mendapat keridhoan-Nya, kita merasa dekat dengan Allah, maka kita pun akan berusaha semaksimal mungkin mempersembahkan ibadah terbaik kita kepada Allah, sebab Allah melihat kesungguhan kita, perlombaan kita. Sikap ini merupakan amat penting bagi kita, apalagi dalam kehidupan di negeri ini, tatkala begitu banyak kemaksiatan dan jahatan, korupsi membudaya, pelacuran merajalela bahkan terbesar di Asia Tenggara, tawuran antar kelompok, misalnya dulu antar pelajar, sekarang antar mahasiswa, mungkin pada saatnya akan terjadi tawuran antar dosen. Perkosaan dan perzinaan juga semakin meningkat. Apabila dahulu terjadi perkosaan terjadi antara laki-laki dengan wanita lain, tapi justru sekarang terjadi ayah dengan anak kandungnya sendiri. Belum lagi masalah minuman keras dan narboba seolah-olah menjadi trend hidup dikalangan anak muda zaman sekarang. Dahulu anak-anak yang mabuk adalah yang bernama Alex, Billy, Riki, tapi sekarang nama-nama seperti Hamid, Sholeh, Mahmud dan sebagainya juga ikut menjadi pemabuk. Baru-baru ini kalo kita perhatikan pada saat bulan Ramadhan begitu banyak club sepak bola papan atas datang ke Indonesia, bisa kita bayangkan disaat umat Islam menjalankan ibadah Ramadhan, namun berapa banyak umat Islam berduyun duyun ke Istora senayan membanjiri dari sore hari hingga malam hari, tentu bisa kita amati berapa banyak mayoritas umat Islam ke sana tanpa mempedulikan lagi sholat ashar, sholat maghrib, sholat isya dan sholat taraweh. Kita merasa tidak bangga lagi akan kehadiran Ramadhan yang mulia. Coba kalo kita perhatikan di negeri jiran Malaysia, mereka terang-terangan menolak club sepak bola itu bermain di negeri mereka di karenakan menjaga kemuliaan bulan Ramadhan, menjalankan lebih khusyuk ibadah-ibadah Ramadhan. Bahkan jika ada seorang muslim yang makan dan minum sembarang di jalan akan dimasukan kedalam penjara. 
Jika kita mau menyadari walaupun tidak ada orang yang melihat dan mengawasinya, kitapun akan jujur kepada Allah, jujur kepada orang lain dan jujur pada diri sendiri, sebab di bulan Ramadhan kita diajarkan pendidikan Moral agar setiap manusia mampu berucap jujur. Diajarkan agar tidak memandang dunia justru lebih mementingkan kehidupan akhirat. Orang yang dekat dengan Allah pasti akan merasa diawasi dan takut jika melanggar perintah Allah. Menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib Rasa takut kepada Allah merupakan hakikat takwa. Namun sebagai manusia biasa mungkin saja seorang berbuat kesalahan, namun jika ia berbuat kesalahan dia segera bertaubat kepada Allah swt dan meminta maaf kepada orang yg tersebut jika dia berbuat salah. Mengembalikan hak orang lain jika ada yang diambilnya, maka seorang mu’min senantiasa jika ia berbuat salah ia akan memohon ampun, beristighfar dan bertaubat. Allah swt berfirman dalam Qs. Ali Imran ayat 133:
 “dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”



Allahu Akbar 3x. Walillahilhamdu.
Kaum muslimin dimuliakan Allah swt.
Salah satu sifat dan sikap apalagi yang harus kita miliki sebagai seorang muslim setelah di gembleng di bulan Ramadhan. Yang Kedua, memiliki kemampuan mengendalikan diri. Tanpa memiliki kemampuan diri akan terjadi malapetaka dan binasa, baik pada diri sendiri, keluarga, masyarakat maupun bangsa dan Negara. Hawa nafsu merupakan hal fitrah yang diberikan manusia, namun bukan berarti kita memperturutkan segala keinginan hawa nafsu sehingga melanggarkan ketentuan yang digariskan oleh Allah swt. Allah sudah menjelaskan di dalam Al-Qur’an bagaimana Nabi Adam as dan Siti Hawa berbuat dosa karena memperturutkan hawa nafsu serta digoda oleh Iblis karena berkeinginan untuk merasakan lezatnya buah dari pohon yang telah dilarang oleh Allah swt, maka Allah murka namun diterimalah taubatnya Nabi Adam dengan penuh menyesal. Kejadian Nabi Adam akan terus relevan hingga saat ini. Allah swt berfirman di dalam surat Ali-Imran ayat 14 :
 “dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”
Jangan sampai segala hawa nafsu terhadap wanita, anak, harta benda dan sebagainya membuat kecintaan kita berlebihan terhadap cinta kita kepada Allah. Namun jika kecintaan itu dilandasi dengan takwa, maka kecintaan itu akan di iringan dengan kecintaan kepada Allah swt. Mempunyai harta tapi dilandasi dengan takwa, maka harta yang dimiliki akan dipergunakan di jalan Allah, begitu juga mempunyai istri yang dilandasi dengan takwa, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis semata. Mempunyai anak yang dilandasi dengan takwa, maka dididiknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah menuju ridho Allah swt.
Bulan Ramadhan, kita diwajibkan untuk berpuasa, sedangkan  sasaran puasa adalah agar umat Islam selalu bertakwa kepada Allah swt dan sasaran sholat adalah agar umat Islam menjauhi atau mencegah perbuatan yang keji (maksiat) dan munkar. Dengan menjalankan ibadah puasa dibulan Ramadhan kita melatih untuk mengendalikan diri dari hawa nafsu, sehingga puasa kita membawa dampak positif terhadap diri sendiri dan bermasyarakat. Jangan sampai puasa hanya menjadi rutinitas ritual atau sekedar formalitas yang biasa kita lakukan setiap tahun. Apabila hal ini yang terjadi, maka tepatlah apa yang dkatakan Rosulullah saw dalam sebuah hadist shahih.
“Banyak orang yang berpuasa tapi tidak ada balasan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus. Dan banyak orang yang mengerjakan sholat malam, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari shalatnya kecuali rasa ngantuk” (HR. Ahmad, al-Baihaqi, dan al-Thabrani)
 
Allahu Akbar 3x. Walillahilhamdu.
Jamaah sholat idul fitri yang berbahagia.
Salah satu sifat dan sikap apalagi yang harus kita miliki sebagai seorang muslim setelah mengarungi di bulan Ramadhan. Yang Ketiga, yaitu memiliki ketajaman hati. Selama Ramadhan hati kita terasa lebih dekat kepada Allah. Segala ibadah yang kita lakukan hati kita selalu disertai Allah. Ketika kita semakin memiliki ketajaman hati maka kita bisa menangkap dan membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, mana yang halal dan mana yang haram. Tatkala kita diamanahkan sebagai seorang pemimpin atau jabatan tertentu, begitu banyak praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. tentu orang yang memiliki ketajaman hati bisa menangkap dan memilah mana perbuatan yang halal dan haram, orang lain bisa kita bohongi tapi Allah tidak bisa kita bohongi.
Dengan berpuasa di bulan Ramadhan kita tidak hanya sehat secara jasmani tapi juga sehat secara rohani, terlebih hati kita juga menjadi sehat. Sebab Di bulan Ramadhan Allah menginginkan agar di hati kita bisa membuang sifat dengki dan hasud, karena di bulan Ramadhan kita dianjurkan untuk selalu berpikir positif (husnu dzon) terhadap orang lain, dianjurkan berdzikir, berdoa dan membaca qur’an, sehingga Ramadhan yang kita lalui akan memberikan ketajaman hati dalam mengambil hikmah-hikmah dari Allah, sebab hati kita selalu diarahkan supaya tertuju pada kehidupan akhirat. Sebab penyakit hati akan timbul tatkala hati selalu cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsu. Hati adalah tuan dan rajanya seluruh anggota dan merupakan sumbernya keimanan serta akhlak dan niat yang tercela ataupun terpuji. Dan tidak akan bahagia kehidupan seseorang di dunia dan di akhirat kecuali dengan membersihkan dan mensucikan hati kita yang hitam penuh nosa dari dosa-dosa menuju jiwa yang suci dan bersih. Allah swt berfirman dalan Ws. As-Syams ayat 8-10 :
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Allahu Akbar 3x. Walillahilhamdu.
Jamaah sholat idul fitri yang berbahagia.

Salah satu sifat dan sikap apalagi yang harus kita miliki sebagai seorang muslim setelah di melewati fase-fase di bulan Ramadhan. Yang Ke-empat, yaitu rasa malu. Setelah melewati pasca Ramadhan setiap muslim mempunyai rasa malu yang tertanam dalam dirinya. Malu bila melakukan sesuatu yang tidak dibenarkan oleh Allah dan Rosul-Nya. Rasa malu merupakan sesuatu yang sangat penting karenanya salah satu cabang dari iman. Keimanan seseorang perlu di pertanyakan apabila didalam dirinya tidak ada rasa Malu. Rosulullah saw bersabda : al-hayaa u syu’batun minal iimaan. “malu itu cabang dari iman”
Keimanan dan rasa malu menjadi sesuatu yang tidak dipisahkan seperti dua sisi mata uang. Jika dikatakan beriman, maka sudah barang tentu mempunyai rasa malu. Rasa malu itu akan berdampak setelah Pasca Ramadhan, setelah di tempa untuk berbuat baik selama Ramadhan, maka seseorang akan merasa malu jika berbuat kejahatan, kemungkaran, kemaksiatan. Seseorang yang tidak lagi memiliki rasa malu biasanya akan menunjukkan hal-hal yang kurang etis dimasyarakat dan bertentangan dengan norma-norma agama. Melihat realita di zaman sekarang, berapa banyak wanita muslimah yang terang-terangan mempertontonkan auratnya dengan mengendarai motor, remaja putra putri Islam tidak malu-malu lagi berpacaran sambil berpelukan dan berciuman di jalan bahkan berhubungan layaknya suami istri dan akhirnya hamil sebelum pernikahan.
Berapa banyak para pejabat pemerintah yang sudah terang-terangan korupsi bahkan berselingkuh. Kejadian ini menjadi seperti hal yang lumrah terjadi di masyarakat. Seharusnya setiap musmin yang menjalankan puasa d ibadah Ramadhan, sasaramya menjadi manusia yang bertakwa. Maka akan timbul rasa malu jika melakukan perbuatan dosa yang akhirnya menimbulkan murka Allah swt. Ingatlah akan firman Allah bagi orang yang selalu melakukan perbuatan dosa yang dilakukan oleh tangan dan kakinya. Sebagaiman Allah berfirman dalam Qs. Yasin ayat 65:

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”

Untuk itulah setiap muslim harus memiliki sifat malu kepada Allah swt dengan sebenar-benarnya, kapan dan dimanapun dan dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun juga. Rasolullah bersabda :

Malulah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar malu” (HR. Tirmidzi)

Dengan demikian, bila manusia masih memiliki malu tentu tidak akan melakukan hal-hal yang melanggar perintah Allah swt dan Rosul-Nya. Jika seorang muslim sudah berpuasa selama Ramadhan, maka sebelas bulan ke depan maka kita harusnya benar-benar malu jika selalu berbuat berdusta dan berkata-kata kotor, jika seudah melaksanakan sholat di bulan Ramadhan, maka sebelas bulan ke depan, kita harus benar-benar malu jika meninggalkan sholat dan berbuat keji dan munkar. Jika kita sudah haji, maka kita benar-benar malu jika kita tidak menjadi contoh untuk orang-orang disekitar kita. Seandainya kita mau memahami semua ini, tentu bangsa Indonesia yang tiap tahun melaksanakan Ramadhan tiap tahun, harusnya bisa lebih baik dan membawa perubahan bagi perorangan dan segala aspek kehidupan.   


Allahu Akbar 3x. Walillahilhamdu.
Jamaah sholat idul fitri yang berbahagia.

Salah satu sifat dan sikap apalagi yang harus kita miliki sebagai seorang muslim setelah di melewati fase-fase di bulan Ramadhan. Yang Ke-lima adalah terjalinnya silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah yang kokoh dan kuat. Ketika Ramadhan akan datang, seluruh umat Islam diseluruh dunia menyambut dengan suka cita, bersatu padu dalam ikatan ilahi rabbi dan tidak suka bercerai berai. Begitu terasa ikhuwah Islamiyah kita, kekuatan iman dan spiritual yang melahirkan perasaan yang dalam terhadap kasih sayang, mahabbah (kecintaan), kemuliaan dan saling percaya dengan sesama muslim yang dilandasai iman dan takwa. Perasaan persaudaraan ini melahirkan sikap keikhlasan, kasih sayang seperti tolong menolong, pemaaf, pemurah, setia kawan dan sikap mulia lainnya.
Silaturahmi yang dulu pernah putus, dengan keluarga maupun dengan orang-orang  yang ada di lingkungan kita, baik jamaah di mushollah atau masjid, maka di hari idul fitri ini kita jalin kembali, saling memaafkan dan melupakan kesalahan. Jangan sampai silaturahmi yang sudah terjalin hanya dengan perbedaan pendapat kita eggan untuk saling memaafkan. Bukankah Rosul pernah bersabda “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali silaturahmi. Jangan sampai, hanya berebut warisan dan harta kita harus mengorbankan putusnya silaturahmi antar saudara. Jangan sampai perbedaan pendapat yang bersifat cabang, hingga terjadi saling baku hantam dan saling mengancam masuk neraka. Umat Islam harus bersatu, mari perangi kebodohan, kemiskinanm dsb. Masih banyak persoalan umat Islam yang harus kita perbaiki menuju kejayaan dan peradaban Islam. Umat Islam janganlah bercerai berai. Seperti Allah swt firmankan didalam surat Qs. Ali Imran ayat 103 :
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara”
­



Allahu Akbar 3x. Walillahilhamdu.
Jamaah sholat idul fitri yang dimuliakan Allah.

Dari uraian khutbah singkat ini, dapatlah kita simpulkan bahwa berakhirnya bulan suci Ramadhan bukan berarti surut pula semangat keislaman kita, tapi justru marilah kita jadikan Ramadhan titik tolak untuk perbaikan diri, dan peningkatan kualitas iman kita. Minimal ada 5 sifat dan sikap yang harus kita miliki setelah menjalankan fase-fase Ramadhan. Pertama, memiliki sifat dan sikap dekat kepada Allah (taqorrub illahi). Kedua, sikap pengendalian diri. Ke-tiga, mempunyai ketajaman hati. Ke-empat, mempunyai rasa malu. Ke-lima, terjalinnya silaturahmi dan ukhuwah islamiyah yang kokoh. Mudah-mudah dalam menjalankan Ibadah Ramadhan tidak kita jadikan rutinitas ritual yang biasa kita lakukan tiap tahun sehingga tidak ada perubahan apa-apa. Semoga khutbah singkat pagi ini bermanfaat bagi kita dan marilah kita akhiri dengan sama-sama berdoa. 

Tentang uncle Dee

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, "Biodata Penulis".
«
Next
This is the most recent post.
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment