Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Tak Kenal Maka Tak Sayang


Saya adalah seorang pelajar, santri dan pengajar. Selain mengajar dibeberapa lembaga pendidikan, saya juga menjadi pengurus masjid dan majlis ta’lim, bahkan menjadi santri dan menjadi dosen di Universitas Swasta. Prinsipnya, dalam mengembangkan ilmu seperti hasil buruan yang harus di ikat.  Bahwa setiap ilmu yang sudah kita dapat, juga harus diikat, dan pengikatnya adalah tulisan.


Berdakwah itu sangat luas konteksnya. tidak hanya dengan lisan, harta, ide/gagasan, tenaga tetapi juga tulisan. Jihad dan dakwah tulisan inilah,  yang ingin saya tuangkan dan kembangkan dari setiap perolehan ilmu yang didengar dan dilihat, entah dari duduk majlis ta’lim, mendengar petuah guru, mengikuti seminar, pelatihan, bedah buku-buku, hasil kajian, bahkan hingga obrolan ringan. Setidaknya ini yang dapat saya lakukan, selain jihad menuntut ilmu dan mengajar, saya juga ingin belajar menjadi penulis dan menuliskan dari Ilmu yang sudah didapat. Apa yang sudah saya tuliskan, saya selalu berharap senantiasa mengharap ridho dari Allah SWT, dan berusaha untuk mendapat rahmat-Nya.  Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi saya khususnya dan umumnya untuk para pembaca. 

Salam
Deni Darmawan, M.Pd.I

HIKMAH DARI KISAH AL-QURAN


Al-Qur'an adalah kitab istimewa, mukjizat yang nyata, kandungannya adalah mutiara, mempunyai nilai sastra yang tinggi, memiliki banyak faidah,tergantung dari sudut mana pembaca mau mengambil hidayah dan manfaatnya, dokter dapat menjadikan alquran sebagai landasan, filosof mengambil dasar-dasar pemikiran dari nash-nashalquran.

Kandungan Al-Qura’an begitu beragam. Diantaranya aspek sejarah atau kisah dalam disebut dengan istilah Qishashul Quran, bahkan ayat-ayat yang berbicara tentang kisah jauh lebih banyak ketimbang ayat-ayat hukum. Hal ini memberikan isyarat bahwa Alquran sangat perhatian terhadap masalah kisah, yang memang di dalamnya banyak mengandung pelajaran (ibrah). Sesuai firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal”.

Oleh karena itu kisah dalam Alquran memiliki makna tersendiri bila dibandingkan isi kandungan yang lain. Maka perlu kiranya kita sebagai umat Islam untuk mengetahui sejarah yang ada dalam Alquran sehingga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah-kisah umat terdahulu.
Hikmah dari kisah-kisah yang diceritakan dalam al Quran adalah:

Pertama, sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firmanNyaMaka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir” (QS. Al A’raf: 176).

 Kedua, untuk menguatkan hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman AllahDan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman” (QS. Huud: 120) peneguhan hati dengan kisah Al Quran ini selain untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga untuk selain beliau. Betapa banyak para ulama dan orang-orang beriman memetik manfaat dari kisah para nabi dan yang lainnya. Betapa banyak kisah-kisah Quran tersebut menjadi penerang yang memberikan petunjuk kepada manusia.

Ketiga, dalam kisah-kisah al Quran terdapat hikmah bagi orang-orang yang berfikir.Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal” (Yusuf: 111)

Keempat, mengambil hikmah dan pesan dari kondisi umat-umat sebelumnya. Jika mereka adalah orang-orang yang binasa, maka umat ini pun perlu diberitahu dan diminta waspada terhadap apa yang membuat umat-umat terdahulu binasa. Jika mereka termasuk orang-orang yang sukses, maka umat ini pun perlu mengambil pelajaran dengan meniti jejak kesuksesan mereka.

Kelima, mengenal bagaimana kemampuan Allah memberikan berbagai macam hukuman kepada orang-orang yang menyimpang, sesuai dengan hikmah yang telah ditetapkanNya.


Keenam, mengenal penegakkan hujjah kepada manusia dengan diutusnya para Rasul, dan diturunkannya kitab-kitab. Mengenal bagaimana para umat terdahulu menghadapi Rosul mereka, apa yang terjadi ketika mereka ingkar kepada para Rasul dan apa yang terjadi ketika mereka menerima seruan para Rasul. Sebagaimana yang Allah firmankan setelah menceritakan sejumlah RasulNya:Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. An Nisaa: 164-165).


Catatan :
Kisah ini saya ringkas dari berbagai sumber dan saya sampaikan saat mengisi pesantren kilat di Mentari School Juni 2017 dengan tema "Kisah-kisah dalam Al-Qur'an". Semoga bermanfaat

Penulis
Deni Darmawan  

KISAH PEMILIK DUA KEBUN: (SURAT AL-KAHFI 32-44)



Surat Al-Kahfi adalah surat dalam Alquran yang bermuatan kisah-kisah hikmah. KISAH INI mengajak para pembaca memasuki muatan faidah dari kisah Pemilik Dua Kebun. Kisah yang Allah cantumkan antara ayat 32 hingga 44 dari surat Al-Kahfi. Alquran mengisahkan tentang dua orang lelaki di zaman dulu. Keduanya bersahabat. Yang satu beriman dan ingkar.

Pemilik kebun yang beriman dalam kisah ini, Allah uji dengan kesempitan hidup. Sedikit rezeki, harta, dan barang yang ia miliki. Tapi Allah memberinya nikmat terbesar, yaitu nikmat iman, yakin, dan ridha dengan takdir Allah. Serta berharap surga yang ada di sisi-Nya. Nikmat ini lebih utama dari harta dan materi yang fana. Pemilik kebun yang ingkar, Allah uji dengan kelapangan rezeki. Kemudahan duniawi. Dan Allah beri untuknya harta dan materi yang melimpah. Allah uji dia, apakah bersyukur atau malah kufur. Apakah rendah hati atau malah menyombongkan diri.

Allah mengaruniai yang ingkar dengan dua kebun. Alquran menyebutkan tentang dua kebunnya sebagai berikut:Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar.” (QS:Al-Kahfi | Ayat: 32-34).

Si kafir memiliki dua buah kebun anggur. Pohon-pohon kurma mengelilingi kebunnya sebagai pagar. Di antara dua kebun itu, ada ladang. Allah alirkan air ke kebun itu. Saat panen, ia merasakan limpahan anggur, kurma, dan hasil ladang. Ia kaya, menikmati hasil panennya.Dengan penataan kebun yang hebat ini, ia pun berbangga. Ia memiliki ilmu dalam mengatur dan memaksimalkan lahan. Ia mampu menggabungkan tanaman yang berbeda dengan susunan rapi, serta irigasi yang baik. Ditambah lagi, dengan perawatannya, ia bisa panen dengan maksimal. Ia pun masuk ke dalam kebun dengan congkak, padahal ia menzhalimi dirinya sendiri. Ia ingkar dengan anugerah Rabbnya. Dan sombong pada orang lain.

Ia berkata,Maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.” (QS:Al-Kahfi | Ayat: 34).Tak hanya itu, kenikmatan harta dan pengikut telah membuatnya lupa. Ia sangka miliknya itu kekal. Padahal bagaimana bisa sesuatu yang fana menjadi abadi. Ia berkata,Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.” (QS:Al-Kahfi | Ayat: 35).

Harta dan materi yang ia miliki benar-benar membuatnya tenggelam.Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu.” (QS:Al-Kahfi | Ayat: 36). Demikianlah perasaan seseorang ketika merasakan puncak kuasa dan kaya. Ia pongah. Menyangka karunia harta adalah bukti Allah sayang padanya. Sehingga ia mengira di akhirat akan mendapatkan kedudukan serupa. Atau lebih baik lagi.

Temannya yang beriman mengajaknya ingat kepada Allah. Berusaha menyelamatkan sang teman yang merasa sudah di awang-awang. Terbang, lupa daratan.Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya — sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? (QS:Al-Kahfi | Ayat: 37).

Temannya berusaha mengingatkan agar beriman kepada Allah. Bersandar dan berserah diri pada-Nya. Bukan berserah diri, mengandalkan harta dan pengikut yang ia miliki. Terkadang, seorang yang memiliki kelebihan harta dan popularitas mengatakan, “Mudah, bisa diurus.” Karena apa? Karena ia menganggap dengan materi semuanya bisa diselesaikan dan diatur karena bisa menundukkan orang lain.

Temannya melanjutkan, Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS:Al-Kahfi | Ayat: 39). Manusia itu asalnya sama. Pengaturan banyak sedikitnya harta, bukan hasil daya upaya manusia. Di dunia, manusia hanya memainkan peran sebagai orang kaya atau orang miskin. Ketika berperan sebagai orang kaya, gunakan untuk kebaikan, bukan malah sombong, karena ini cuma peranan. Ketika miskin, jangan sampai kehilangan iman. Dan bersabar. Nanti ada ‘upah’ setelah memainkan peranan dengan baik.

Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin. atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi”. (QS:Al-Kahfi | Ayat: 40-41).Sesuatu yang lebih baik dari kebunmu” ini maksudnya adalah bagian di akhirat kelak. Dan engkau karena kesombonganmu, yang menyangka kebunmu ini abadi, berbuat congkak tapi malah menyangka dapat bagian lebih baik di akhirat, semoga Allah memberi pelajaran dengan membuat kebunmu hancur. Mudah-mudahan engkau tersadar, sehingga membuatmu kembali mengingat Allah.Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”. (QS:Al-Kahfi | Ayat: 42).

Tak ada yang mustahil bagi Allah. Tak ada seorang pun yang mampu mencegah Allah melakukan kehendak-Nya. Anak, istri, atau siapapun, takkan mampu menolong seseorang dari hukuman Allah.Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya.” (QS:Al-Kahfi | Ayat: 43).Demikianlah kisah yang penuh hikmah ini. Kisah nyata yang pernah terjadi. Agar kita tidak meniru yang salah dan tidak lagi mengulangi. Sesungguhnya Allah Maha Mampu dan Maha Perkasa. Kami tutup kisah ini dengan hadits Nabi agar kita bisa memahami perbandingan nikmat iman dan nikmat dunia.

Catatan :
Kisah ini saya ringkas dari berbagai sumber dan saya sampaikan saat mengisi pesantren kilat di Mentari School Juni 2017 dengan tema "Kisah-kisah dalam Al-Qur'an". Semoga bermanfaat

Penulis

Deni Darmawan  

KISAH ASHABUL KAHFI



 Ashabul kahfi menceritakan tujuh orang pemudah dan seekor anjing yang ditidurkan oleh Allah swt selama 309 tahun. Kisah ashabul kahfi dapat kita temui dalam al-Quran surat al-Kahfi.Ashabul Kahfi adalah nama sekelompok orang beriman yang hidup pada masa Raja Diqyanus di Romawi, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya nabi Isa as. Mereka hidup ditengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang dzalim. Ketika sang raja mengetahui ada sekelompok orang yang tidak menyembah berhala, maka sang raja marah lalu memanggil mereka dan memerintahkan mereka untuk mengikuti kepercayaan sang raja. Tapi Ashabul Kahfi menolak dan lari, dikejarlah mereka untuk dibunuh. Ketika mereka lari dari kejaran pasukan raja, sampailah mereka di mulut sebuah gua yang kemudian dipakai tempat persembunyian.

Mereka adalah para pemuda yang diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala serta Dia mengilhami mereka keimanan, sehingga mereka mengenal Allah dan mengingkari keyakinan kaum mereka yang menyembah berhala. Pemuda tersebut bernama :

Tamlikha (تمليخا)
Maksalmina (مكسلمينا)
Marthunus (مرطونس)
Nainunus (نينونس)
Saryunus (ساريونس)
Zunuwanus (ذونوانس)
Falyastathyunus (فليستطيونس)

Dan semasa dalam perjalanan ke gua itu, ketujuh-tujuh mereka telah ditemani oleh seekor anjing bernama Qithmir (قطمير). Diriwayatkan juga bahawa Qitmir adalah anjing milik Tamlikha iaitu salah seorang daripada tujuh orang pemuda tersebut.Mereka mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah akidah mereka disertai dengan perasaan takut akan kekejaman dan kekerasan kaum mereka, seraya berkata, artinya,“Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru Ilah selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian.” (Al-Kahfi: 14), yakni jika seruan kami ditujukan kepada selain-Nya, maka sungguh kami telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” (Al-Kahfi: 14), yakni perkataan keji, dusta dan zhalim. Sedangkan “kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai ilah-ilah (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka). Siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-ada kebohongan terhadap Allah.” (Al-Kahfi: 15).

Allah Subhannahu wa Ta’ala senantiasa menjaga dan melindungi mereka dalam gua tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,artinya, “Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri” (Al-Kahfi: 18), supaya bumi tidak membusukan tubuh mereka.

Kemudian Allah Subhannahu wa Ta’ala membangunkan mereka setelah tertidur dalam jangka waktu yang cukup lama “supaya mereka saling bertanya diantara mereka sendiri.” (Al-Kahfi: 19). Akhirnya mereka menemukan jawaban yang sesungguhnya, sebagaimana hal tersebut ditegaskan oleh Allah Ta’ala di dalam firman-Nya, artinya,

“Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini).” Mereka menjawab, “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.” Berkata (yang lain lagi): “Rabb kamu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini.” (Al-Kahfi: 19). Allah Subhannahu wa Ta’ala menjelaskan kisah ini hingga akhir.

Sampai akhirnya mereka terbangun dari gua dan salh satu dari mereka yan bernama Tamlikha membeli roti. Uang yang dibawanya tidak berlaku lagi karena sudah kuno. Tamlikha sadar bahwa sekarang bukan di zaman negeri yang kejam lagi, melainkan seorang raja yang beriman kepada Allah swt. Pada akhirnya Raja, ingin berjumpa mereka di gua namun mereka berdoa kepada Allah agar diwafatkan. Mereka menyadari. bahwa mereka tertidur ratusan abad lamanya. Dengan mengucapkan syukur akan kebesaran Allah swt, mereka meninggal di gua tersebut. Kemudia sang Raja membangun masjid di pintu gua itu.


Catatan :
Kisah ini saya ringkas dari berbagai sumber dan saya sampaikan saat mengisi pesantren kilat di Mentari School Juni 2017 dengan tema "Kisah-kisah dalam Al-Qur'an". Semoga bermanfaat

Penulis

Deni Darmawan  


KISAH SAPI BETINA


Kisah Al Baqarah (Sapi Betina) di Zaman Nabi Musa – Singkatnya, di kalangan Bani Israil ada seorang kaya raya. Orang kaya ini mempunyai saudara sepupu yang fakir. Tidak ada ahli waris selain dirinya. Ketika orang kaya tersebut sakit dan tidak lekas mati, maka saudara sepupu ini membunuhnya agar dia dapat mewarisi hartanya. Dia bersama orang-orang mendatangi Nabi Musa ‘alaihissalam lalu mereka memohon kepada Nabi Musa ‘alaihissalam agar berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala supaya diberi keterangan mengenai pembunuh orang tersebut.

Atas perintah Allah swt, Kemudian Nabi Musa ‘alaihissalam memerintahkan mereka agar menyembelih sapi betina. Ternyata di balik hal tersebut ada hikmah besar, yaitu bahwa di kalangan Bani Israil terdapat orang shalih. Dia mempunyai anak laki-laki yang masih kecil dan dia mempunyai anak sapi betina. Dia membawa anak sapi tersebut ke dalam hutan dan berkata, “Ya Allah! Saya menitipkan anak sapi ini kepada-Mu untuk anakku kelak jika dia dewasa.”Selanjutnya orang shalih ini meninggal dunia, sehingga anak sapi ini masih di hutan sampai bertahun-tahun. Ketika anak orang shalih tadi telah dewasa, dia menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya dan rajin beribadah. Di pagi hari dia mencari kayu bakar yang ditaruh di punggungnya, lalu datang ke pasar untuk menjual kayunya sesuai kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian dia menyedekahkan sepertiganya, memakan sepertiganya, dan memberikan kepada sang ibu sepertiganya.

Pada suatu hari sang ibu berkata kepadanya, “Sesungguhnya ayahmu telah mewariskan anak sapi betina untukmu yang dia titipkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di hutan ini, maka berangkatlah! Berdoalah agar mengembalikan anak sapi tersebut kepadamu. Ciri-cirinya, jika engkau melihatnya, kamu membayangkan seakan-akan sinar matahari memancar dari kulitnya karena keindahan dan kejernihannya.

Kemudian anak tersebut memasuki hutan, lalu dia melihat anak sapi sedang merumput, lantas dia memanggilnya.  Kontan sapi itu menengok ke arahnya dan berjalan mendekatinya sehingga sapi tersebut berdiri di hadapannya. Dia lalu memegang lehernya dan menuntunnya.Dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, tiba-tiba sapi tersebut bicara, “Wahai anak yang berbakti kepada kedua orang tua! Tunggangilah aku, karena hal itu lebih meringankanmu.’Anak tersebut berkata, “Sesungguhnya ibuku tidak memerintahkanku melakukan hal itu. Akan tetapi, beliau berkata ‘peganglah lehernya.’”

Lantas pemuda tersebut berjalan bersama sapi menemui ibunya. Sang ibu berkata kepadanya, agar menjual sapinya karena kondisinya yang fakir, tidak mempunyai harta. Jual sapi ini!”Si anak bertanya , “Saya jual dengan harga berapa?”Ibunya menjawab, “Tiga dinar. Engkau jangan menjual tanpa pertimbanganku.” Harga sapi telah dipatok tiga dinar. Sang anak pun berangkat ke pasar.

Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus malaikat agar dia melihat makhluk-Nya dan kekuasaan-Nya sekaligus untuk menguji pemuda tersebut bagaimana baktinya kepada ibunya. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui hal tersebut.Sang malaikat bertanya, “Kamu jual sapi ini dengan harga berapa?”Dia menjawab, “Tiga dinar. Dengan catatan ibuku meridhainya.”Lantas malaikat berkata, “Saya beli enam dinar. Tetapi engkau tidak perlu meminta persetujuan ibumu.”Pemuda itu berkata, “Seandainya engkau memberiku emas seberat sapi ini pun, saya tidak akan mengambilnya melainkan dengan ridha ibuku.”Kemudian dia membawa pulang sapi kepada ibunya dan dia menceritakan tentang harganya. Lalu sang ibu berkata, “Kembali lagi! Juallah dengan harga enam dinar berdasarkan ridha dariku.’

Dia pun berangkat ke pasar dan menemui malaikat. Sang malaikat bertanya, “Apakah engkau telah meminta persetujuan ibumu?”Pemuda itu menjawab, “Beliau menyuruhku agar tidak mengurangi harganya dari enam dinar dengan catatan saya meminta persetujuan ibu.”Sang malaikat berkata, “Saya akan memberimu dua belas dinar.”Pemuda itupun menolak, lalu kembali kepada ibunya dan menceritakan hal tersebut kepadanya. Ibunya berkata, “Sungguh, orang yang mendatangimu adalah malaikat dalam bentuk manusia untuk mengujimu. Jika dia mendatangimu lagi, katakan padanya, ‘Apakah engkau memerintahkan kami untuk menjual sapi ini ataukah tidak?”

Pemuda itu pun melakukan hal tersebut, lalu malaikat berkata, “Kembalilah kepada ibumu. Dan tolong sampaikan padanya, ‘Biarkanlah sapi ini. Sungguh Nabi Musa bin Imran ‘alaihissalam akan membelinya dari kalian untuk mengungkap korban pembunuhan seseorang di kalangan kaum Bani Israil. Janganlah engkau menjualnya kecuali dengan kepingan dinar yang memenuhi kulitnya. Oleh karena itu, tahan dulu sapi ini.’”Allah Subhanahu wa Ta’ala memang menakdirkan orang-orang Bani Israil yang menyembelih sapi itu. Mereka terus-menerus menanyakan ciri-ciri sapi tersebut dan ternyata ciri-ciri yang diberikan sesuai dengan ciri-ciri sapi pemuda shalih tersebut. Hal ini merupakan imbalan bagi pemuda tersebut atas baktinya kepada sang ibu sebagai anugerah dan kasih sayang.


Akhirnya mereka pun membeli sapi tersebut dengan emas sepenuh kulit sapi. Lantas mereka menyembelih sapi tersebut kemudian memukulkan bagian dari sapi kepada korban pembunuhan sebagaimana perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selanjutnya orang yang terbunuh bangkit; hidup lagi dengan izin Allah. Lalu dia berkata, “Yang membunuh saya adalah sepupuku yang fakir.” Kemudian dia jatuh dan mati di tempatnya. Maka, si pembunuh terhalang mendapat warisan.

Catatan :
Kisah ini saya ringkas dari berbagai sumber dan saya sampaikan saat mengisi pesantren kilat di Mentari School Juni 2017 dengan tema "Kisah-kisah dalam Al-Qur'an". Semoga bermanfaat

Penulis
Deni Darmawan  


KEWAJIBAN MENDIDIK ANAK


 Penulis : Deni Darmawan

 MUQADDIMAH

Setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan di mintai pertanggung jawabannya. Seorang penguasa juga akan dimintai pertanggung jawabannya, begitu juga seorang ayah pemimpin bagi keluarganya, dan pasti akan dimintai pertanggung jawaban mengenai kepimpinannya dalam rumah tangganya.  Seorang istri pemimpin dirumah bagi anak-anaknya dan akan dimintai pertanggung jawabannya.

       Seperti yang dijelaskan dalam sabda nabi dari Ibnu Umar ra., ia berkata: ”Saya mendengar Rasulullah saw bersabda Kalian adalah pemimpin dan yang akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepimpinan kalian. Seorang penguasa adalah pemimpin dan akan dimintai petanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang istri adalah pemimpin terhadap rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawabannya atas kepimpinannya. Kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan dimintai pertanggungjawaban akan kepemimpinanmu(Muttafaq “Alahi)

       Dalam hal ini penulis ingin mengingatkan bahwa kepimpinan dalam rumah tangga, sebagai  orang tua, anak-anak mempunyai hak yang harus dilaksanakan, sehingga ini menjadi  bentuk  kewajiban untuk  mendidik dan membentuk anak-anaknya menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Mendidik dan membentuk akhlaknya sehingga mempunyai kepribadiannya yang santun, ramah, dan mulia. Seperti memberikan nama yang baik pada saat aqiqahnya, memberikakan pendidikan agama, memberikan rizki yang halal, dsb.

         Kewajiban seorang laki-laki yang belum menikah yaitu mencari calon ibu yang baik pula untuk anak-anaknya.  Sebab ibu yang baik akan memberikan pengaruh yang kuat dalam membentuk karakter anak. Keduanya sebelum menikah dan sesudah menikah mempunyai kewajiban untuk mencari ilmu agama agar bisa membina rumah tangga. Di beberapa negara sudah menerapkan program pra-nikah dan sesudah menikah untuk pembekalan dalam mengarungi rumah tangga agar terciptanya rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warrohmah.

       Pada dasarnya anak-anak merupakan titipan dan amanah dari Allah. Anak merupakan investasi dunia akhirat dan penyelamat untuk kedua orang tuanya kelak jika mereka men didik sesuai ajaran agama, justru sebaliknya jika anak tidak diberikan hak-hak sebagai mestinya, selain berdosa, anak akan membawa celaka untuk kita di dunia dan akhirat.



DASAR KEWAJIBAN MENDIDIK KELUARGA

Keluarga merupakan pendidikan pertama yang diterima oleh anak. Kesuksesan membina keluarga bisa dicapai jika pemimpinnya mampu menggerakan keluarganya pada ketaatan kepada Allah swt dan mengaplikasikan nilai nilai agama dalam kesehariannya. Jika ingin mencapai kesuksesan ukhrawi  maka seorang kepala keluarga bisa menjaga istri dan anak anaknya selamat dan terhindar dari api neraka. Keluarga merupakan amanat yang harus dipelihara kesejahteraannya baik jasmani dan rohani. 

Seperti  firman Allah swt dalam surat At-Tahrim (66) : 6 
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar menjaga dirinya dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu, dengan taat dan patuh melaksanakan perintah Allah. Mereka juga  diperintahkan untuk mengajarkan kepada keluarganya agar taat dan patuh kepada perintah Allah untuk menyelematkan mereka dari api neraka, ini merupakan amanah yang harus dilaksanakan pada setiap keluarga orang orang beriman.
Bagi seorang kepala keluarga yaitu seorang ayah, atau bapak dan istri beserta anak-anakya agar bisa menghayati ayat ini. Peran Ayah dalam membentuk ketaatan kepada Allah mempunyai peranan yang dominan dan amat penting. Ayah sebagai pemimpin dan guru bagi istri dan anak anaknya. Istri mempunyai peranan dominan sebagai guru bagi anak anaknya.

Oleh sebab diawalcmuqadimmah, seorang laki laki harus bisa memilih wanita yang baik dalam standar agama agar bisa menjadi ibu yang baik untuk anak anaknya kelak. Di beberapa negara sudah diterapkan program pra-nikah untuk memdalam ilmu tentang membina keluarga, menjadi suami dan istri yang tahu akan hak dan kewajibannya sesuai anjuran agama. Maka ketika mereka berkeluarga kelak mereka sudah bisa saling memahami dan membina keluarga yang bahagia sesuai anjuran agama.

Maka beruntunglah jika pasangan suami istri cepat dikarunia seorang anak, menjadi dambaan hati dalam keluarga. Berapa banyak pasangan suami istri setelah menikah mereka memohonkan agar bisa berikan keturunan untuk menambah kebahagiaan mereka. Namun banyak juga pasangan suami istri yang sudah lama membina rumah tangga namun belum diberikan keturunan, atau sudah beberapa tahun menunggu kehadiran buat hati kemudian Allah baru menganugerahkan seorang anak ditengah mereka.

Disamping anugerah, anak juga amanah atau titipan Allah yang harus dipelihara, dijaga, dengan sebaik baiknya. Bayi yang baru dilahirkan adalah dalam keadaan suci, oleh sebab itu orang tua mempunyai tanggungjawab untuk selalu menjaga kesucian pribadi sang anak, sehingga pada saat kembali dalam keadaan kematiannya, ia juga mati dalam keadaan suci sebagaimana saat dilahirkan. Rosulullah bersabda,”Seorang bayi yang dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi yahudi, Nasrani, ataupun Majusi”. (HR. Bukhari)

Sebagaimana Rosulullah saw membina keluarga dengan penuh kasih sayang, tutur kata yang menyejukkan hati, dengan sikap yang bijaksana. Sebagai pemimpin keluarga, Rosulullah memberikan contoh dan suri tauladan yang baik. Rosulullah kadang melakukan sendiri  tanpa meminta bantuan istri jika ada sesuatu yang memang perlu untuk diperbaiki. Maka sudah sepatutnya sebagai orang beriman kita mampu menjadikan Rosulullah sebagai contoh dalam membina rumah tangga.

MEMBERI NAMA YANG BAIK

Kewajiban orangtua pada fase kelahiran adalah memberi nama yang baik kepada anak. Menantikan seorang anak dari sebuah pernikahan merupakan dambaan dari pasangan suami istri. Setelah sekian lama menikah atau baru saja menikah Allah menganugerahkan anak yang patut disyukuri dan menjaga amanah kesucian anak. Dalam proses ini Nabi saw mengajurkan kaum muslimin untuk selalu berdoa agar mendapat generasi penerus yang sholeh dan sholehah. Diantara doa yang beliau ajarkan jika hendak melakukan hubungan suami istri. Beliau bersabda”Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak-anak yang Engkau berikan kepada kami.” (HR. Bukhari dan Muslim). Diantara kewajiban orangtua setelah anak lahir adalah memberi nama yang baik. Memberi nama anak yang baik adalah mengikuti sunnah Rosulullah saw. Sebab nama yang baik adalah sebuah doa harapan dari kedua orangtuanya. Nama itu akan selalu melekat kebaikkan pada dirinya hingga dewasa nanti.



Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra., dia berkata Rosulullah  saw pernah bersabda, “Sesungguhnya nama yang paling disenangi Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” Pernah nabi saw, memberi nama kepada anak-anak laki Abu Thalhah dengan nama Abdullah. Begitu juga pada anak laki-laki Abbas, Nabi saw memberi namanya dengan nama Ibrahim, yang diambil dari Nabi Ibrahim, Juga memberikan nama kepada anak laki laki Abu Usaid dengan nama Al-Mundzir. Bisa juga memakai nama Muhammad sebagai nama depan anaknya yang menunjukkan arti terpuji dengan mengandung kemuliaan.

Dan Nabi saw melarang orang tua memberi nama yang jelek, atau mempunyai arti dan makna yang tidak bagus. Dari Jabir bin Andullah ra., berkata, salah seorang dari kami mempunyai seorang anak laki-laki lalu dinamakan Qasim, kemudian kami katakan pada orang itu, “Kami tidak boleh menjulukimu Abul Qasim, dan kami tidak senang dengan anakmu itu.”Maka orang tersebut kepada Nabi saw., kemudia dia laporkan apa yang kami sampaikan tadi, lalu nabi saw, bersabda. “Namailah anakmu: Abdurrahman.”. Jangan juga menamai anak Harb (perang) atau Murrah (pahit), atau nama apa saja sekiranya yang mengadung arti yang kurang baik sebaiknya tidak diberikan nama itu ke anak.
Menjadi kesunnahan juga agar bayi yang baru lahir agar ditahnik yaitu menyuapi bayi dengan makanan yang manis-manis, seperti kurma. Penyuapan ini juga akan menyenangkan bayi karena diperhatikan. Kunyahan pada kurma akan meningkatkan kadar gula kurma sehingga membuatnya lebih manis, dan tentu akan disukai bayi. Tuntunan ini juga dapat diartikan sebagai upaya melath bayi agar kelak bisa dengan mudah menyusui air susu ibunya dan pandai bicara dengan kata-kata yang manis. 
Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim, bahwa Asma ra. datang menemui Rasulallah saw. Dengan membawa bayinya. Asma menceritakan bahwa saat itu Nabi SAW men-taknik-nya dengan kurma lalu berdoa dan memohonkan berkah untuknya. Dalam hadis ini terdapat anjuran membawa bayi yang baru lahir kepada orang-orang shalih agar mendapat k keberkahan dengan doa mereka.

MENGAQIQAHKAN ANAK

Kewajiban orangtua setelah lahirnya anak maka dianjurkan untuk melaksanakan aqiqah sebagai rasa syukur dan tergadaikan atas kelahirannya maka pada hari ke tujuh orangtua membuat aqiqahnya dengan menyembelih kambing, satu ekor kambing untuk anak perempuan dan dua ekor kambing untuk anak laki-laki. Biasanya ketika merayakan aqiqah, orangtua juga sekaligus memberitahukan disecarik kertas nama anaknya yang baru saja lahir agar didoakan menjadi anak yang sesuai dengannya akhlak dan namanya yang indah.


Manfaat aqiqah telah banyak dijelaskan oleh para ulama. Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Tuhfal al-Maudud, menjelaskan bahwa aqiqah sama halnya dengan ibadah qurban yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah, melatih diri agar bersikap darmawan, dan mengalahkan sifat kebakhilan yang terdapat dalam jiwa manusia. Memberikan jamuan (suguhan) sebagai rasa syukur kepada Allah swt karena diberikan anugerah seorang anak.

Aqiqah dapat membebaskan bayi dari rintangan menghadangnya untuk dapat memberikan syafaat (pertolongan) kepada kedua orang tuanya, atau dari keterhalangan dirinya untuk mendapatkan syafaat dari kedua orang tuanya. Memperkokoh syariat dengan menghilangan khurafat (mistik) jahiliyah.

Islam juga menganjurkan agar rambut bayi dicukur pada hari ketujuh hari kelahirannya. Disamping itu, Islam menganjurkan rambut yang dicukur ditimbang dengan nilai emas dan perak. Diriwayatkan dari Ali ra., ia berkata: “Rosulullah saw. Menyembelih aqiqah untuk Al-Hasan berupa seekor kambing, beliau bersabda:”Wahai Fatimah, cukurlah rambut kepalanya, sedekahkanlah perat seberat timbangan rambutnya. Kami kemudian menimbang rambut itu, dan ternyata timbangannya adalah satu dirham, atau setengah dirham. (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).



MENGKHITANKAN ANAK

Khitan adalah syariat yang dianjurkan dalam agama, dengan berkhitan agar tidak ada sisa najis saat kencing dan menempel di kulup. Manfaatnya juga sangat besar untuk kesehatan, mengandung nilai kebaikkan, kebersihan, dan keindahan.  Anjuran khitan yang diriwayatkan dari Usamah, dari Ayahnya ra,. bahwasannya Nabi saw. Bersabda: “Khitan adalah sunnah bagi laki-laki dan merupakan penghormatan bagi kaum perempuan.” (HR. Ahmad)



Seorang anak yang sudah berani secara mental biasanya akan di khitan pada usia 7 tahun. Orang-orang dahulu mengkhitankan anaknya ketika usianya menginjak tamyyiz (mengerti). Khitan merupakan bagian dari fitrah manusia. Seperti didalam hadirs riwayat Bukhari dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. Bersanbda: “Fitrah itu terdiri atas lima hal: khitan, membersihhkan bulu kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak.”

MEMBERIKAN PENDIDIKAN AGAMA

Pendidikan agama merupakan hal yang sangat penting untuk diberikan kepada anak-anak. Pendidikan agama sebagai pondasi keluarga dan anak-anak agar terhindar dari kegiatan negatif yang bertentangan dengan agama dan nilai-nilai dimasyarakat. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Zakiyah Daradjat dalam bukunya Ilmu Jiwa Agama bahwa, “Perkembangan Agama pada anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya, terutama pada masa-masa pertumbuhan yang pertama (masa anak) dari umur 0-12 tahun.

Dengan demikian, jelaslah bahwa pendidikan agama dalam keluarga  sangat diperlukan dalam membina kepribadian anak terutama pribadi muslim. Karena pendidikan tersebut dilakukan dalam keluarga, maka orang tualah yang bertanggung jawab dalam pendidikan anaknya demi tercapainya pribadi anak yang kuat.



Maka sudah menjadi kewajiban bagi orangtua untuk memberikan pendidikan agama terlebih dahulu, khususnya pendidikan tauhid yaitu mengenalkan kebesaran Allah, agar tertanam aqidah yang kuat sejak dini. Sehingga dengan menanamkan aqidah secara kuat kepada keluarga akan terhindar dari segala kemaksiatan kepada Allah, mampu memfilter dan menimbang yang bathil dan yang haq. Yang halal dan yang haram, dsb.

Dalam pendidikan keluarga ada pelajaran yang menarik dari kisah Lukman dalam mendidik keluarganya. Sebagai orang beriman sudah sepatutnya setiap orangtua mengambil pelajaran dan hikmah dari keluarga Lukman dalam memberikan pelajaran kepada anaknya. Tercantum dalam surat Lukman ayat 12 saat Ia diwaktu memberikan pelajaran, mengingatkan agar tidak mempersekutukan Allah sebab itu adalah kezaliman dan dosa yang besar. Jika dalam keluarga khususnya anak anak sudah mempunyai aqidah yang kokoh maka tidak akan berpaling kepada Allah saw, merasa diawasi oleh Allah, merasa dekat, ada rasa takut dan harap kepada-Nya. Jika hasil pendidikan aqidah anak-anak berhasil maka bagi mereka akan berusaha menjalankan perintah Allah swt  dan menjauhin larangan-Nya.  

Seteleh pendidikan Tauhid, maka orangtua juga memberikan pendidikan Akhlak. Misalnya, akhlak kepada Orang tua, sanak saudara, akhlak kepada tetangga, kepada kerabat dan teman-temanya baik di rumah ataupun disekolah. Jika membiarkan anaknya bodoh, tidak memberikan pendidikan akhlak,  maka kedua orangtuanyalah akan berdoa setiap yang dilakukan anak. Nabi saw. Bersabda: “Muliakanlah anak-anak kalian dan baikkan tatakrama mereka.” (HR. Ibnu Majah dari Anas).

Maksudnya dengan mengajarkan anak-anak dengan akhlak yang mulia dan melatih diri. Nabi saw. Yang kepasitasnya sebagai pemimpin dunia, bersikap rendah hati dan tawadhu kepada anak-anaknya, secara umum, khususnya kepada putra putrinya? Beliau menggendong Hasan, ra. diatas pundaknya, beliau mengajak tertawa, membuka mulutnya dan beliau mengecupnya, berlari kesana kemari, bermain diatas perutnya, menaiki punggungnya saat beliau sujud dalam shalatnya.Merangkak sementara cucunya menaiki punggungnya. Kendati demikian, Nabi saw. Sambil bercanda tetap menggunakan kata-kata yang sopan. Tidak memaki, mencela atau memarahi jika si anak melakukan hal kesalahan. Disinilah kita bisa mencontoh bagaimana akhlak beliau didalam keluarganya.



Semua ini bisa terlihat pada penjelasan Anas bin Malik ra. mengenai pendidikan anak yang pernah diajarkan oleh Rosulullah saw. Anas ra. berkata: “Sungguh aku menjadi pelayan Rasulullah selama sepuluh tahun, maka tidak pernah aku mendengar beliau itu mengatakan “ah”. Dan tidak pula mengatakan kepada sesuatu yang aku kerjakan dengan kata:”Mengapa engkau kerjakan ini?” dan puls beliau tidak mengomentari apa yang tidak aku kerjakan dengan kata-kata.”Mengapa kamui tidak melakukan degan cara begini?” (Muttaafaq ‘Alaih)

Seorang imam dalam keluarga tentu memberikan contoh terlebih dahulu sebelum mengajak. Sebab anak-anak yang masih kecil adalah bukan pendengar yang baik, tapi mereka adalah peniru dan pencontoh terbaik. Apa yang dilihat, maka si anak akan meniru baik ucapan atau perbuatan orangtuanya. Untuk membangun kebersamaan dalam keluarga maka orangtua khususnya Ayah bisa mengajak anaknya untuk sholat berjamaah dimasjid, atau dikesempatan lain bisa melakukan sholat berjamaah dengan keluarga, makan malam bersama, memilih tempat rekreasi yang sesuai untuk anak-anak.

Pendidikan agama adalah hal yang harus diprioritaskan terlebih dahulu sambil memberikan pendidikan umum yang lainnya. Jika kedua orang tua sibuk dalam bekerja, maka harus ada quality time untuk anak-anak mereka untuk berdiskusi dan membicarakan  masalah agama. Untuk memperdalam agama si anak orangtua bisa memanggil guru agama secara privat ke rumah.


MEMBERIKAN KASIH SAYANG

Sudah sepatutnya orangtua memberikan kasih sayang dan perhatiannya pada anak. Buah cinta dan kasih sayang dari perkawinan adalah lahirnya seorang anak yang merupakan titipan dan amanah Allah swt.  Dengan kasih sayang itu orangtua mampu memberikan kebutuhan anak, memperhatikan perkembangan anak, memberikan pendidikan yang terbaik, dan fasilitas yang menunjang untuk potensi dan bakatnya. Kalo kita begitu sayang kepada anak, maka untuk urusan pendidikan dan akhlak jangan kita titipkan buah hati kepada seorang pembantu, merasa khawatir bisa jadi anak akan mencontoh segala perilaku dan tutur katanya yang kurang baik sehingga waktu kebersamaanya relatif sedikit dengan orangtua daripada dengan pembantu.



Rosulullah begitu sayang kepada keluarga, anak-anaknya dan keturunanya juga umatnya. Pernah Rosulullah mencium anak dari sahabatnya dengan penuh kasih sayang. Apalagi jika anak itu adalah anak sendiri, sudah tentu pasti kita akan lebih sayang. Dari Abu Hurairah ra., ia menceritakan bahwa “Suatu hari Rasulullah saw. Mencium Al-Hasan, sedangkan dihadapan beliau waktu itu terdapat Al-Aqra’ ibn Habis yang sedang duduk. Al-Aqra’ berkata:”Sesungguhnya aku memiliki sepuluh orang anak, namun aku belum pernah mencium seorang pun dari mereka.”Rasulullah saw. Melihat ke arahnya dan bersabda: “Barang siapa tidak memiliki rasa belas kasihan maka ia tidak mendapatkan belas kasihan dari siapa pun.” (HR. Nukhari bab “Al adab”, 5538).

Dalam menerapkan kasih sayang dalam keluarga dan mempunyai anak-anak yang bebeda-beda dari segi umur, kepintaran, hobby, dsb. Maka orangtua wajib memberikan rasa kasih sayang itu ke semuanya tanpa pilih kasih. Adil dan sama perlakuan. Jangan ada sikap orangtua yang selalu membanding-bandingkan anak dari aspek tertentu akan membuat anak tidak nyaman, tersisihkan, dan putus asa.

Dengan mencontoh kasih sayang dari nabi saw. Orangtua bisa menerapkan dan bisa menceritakan dengan bahasa yang sederhana menceritakan kisah nabi saw. Bagaimana beliau mempunyai kasih dan selalu mengasihi keluarga, sahabat, anak-anak bahkan binatang. Ketika orangtua banyak bercerita dengan bahasa yang sederhana maka akan menimbulkan kecintaan anak-anak kita kepada baginda nabi Muhammad saw. Kecintaan kita terhadap nabi saw. sebagai penyempurna iman kita. Nabi bersabda: “Tidaklah sempurna iman seseorang diantara kalian sebelum aku lebih dicintai olehnya daripada kecintaan kepada ayahnya, anaknya dan manusia semuanya.”(HR. Bukhari).




Rasulullah saw. Juga mengikat hati mereka dengan kecintaan kepada keluarga beliau. Sehubungan dengan Hasan dan Husain putra Ali ra., Rosulallah bersabda: “Ya Allah sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah keduaya dan barang siapa yang mencintai keduanya, sesungguhnya dia telah mencintaiku.”(HR. Bukhari). Begitu cintanya nabi kepada keluarganya. Sebab tujuan membentuk keluarga juga terdapat dalam Al-Quran surat Ar-Rum ayat 21, Pembinaan keluarga dimulai dari tujuan pernikahan, yaitu ketenangan dan kebahagiaan. “Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah ia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih (mawaddah) dan  sayang (rahmah). Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kamu yang berfikir.”


MENGAJARKAN ADAB

Agama Islam adalah agama yang sempurna. Segalanya diatur sedemikian rupa agar setiap manusia memperoleh kemuliaan dalam melaksanakan syariat Islam. Allah telah mengutus nabi saw. sebagai suri teladan dalam hidup dan idola dunia akhirat. Sebab  Allah ta’ala berfirman:”Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti luhur.” (Qs. Al-Qalam: 4).
Mengaplikasikan adab dalam keluarga sejak awal membentuk keluarga merupakan hal yang sangat penting. Adab inilah yang menjadikan manusia penuh kemuliaan yang membedakan dengan binatang dalam hal bertutur dan bertindak. Bahkan para santri atau para penuntut ilmu mendahulukan adab sebelum menuntut ilmu, sebab jika seseorang mempunyai adab yang bagus maka kemuliaan bagi dirinya. Namun jika orang berilmu tapi tidak beradab maka kehinaan yang akan diperolehnya. Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash ra., ia berkata:”Pribadi Rasulullah saw. Bukan orang yang keji dan bukan orang yang jahat. Bahkan beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik budi pekertinya.” (Mutatafaq ‘Alaih)



Dalam sebuah keluarga orangtua mempunyai peran yang sangat kuat dalam membentuk akhlak dan adab anak-anak mereka. Seorang Ayah mampu memberikan contoh serta adab kepada istri dan anak-anaknya dari hal hal kecil hingga hal-hal yang lebih besar. Sedangkan dalam Islam banyak mengajarkan segala macam adab sehari-hari dalam keluarga. Misalnya adab berbicara, adab makan, adab dalam rumah
Hendaklah orangtua jika berada didalam rumah atau diluar rumah selalu membiasakan mengucapkan salam kepada anak-anak mereka. Sebagaimana  hadis dari Anas ra. “Bahwasannya ia berjalan melewati anak-anak, kemudian mengucapkan salam untuk mereka, serta berkata:”Rasulullah saw., biasa melakukan hal demikian ini.”(HR. Bukhari dan Muslim). Nabi juga jika bejalan melewati sekelompok wanita beliau mengucapkan salam.


MEMBERIKAN NAFKAH

Kewajiban yang harus diperhatikan oleh orang tua  terhadap anaknya adalah memberi nafkah. Mencari rizki yang halal merupakan hal yang diperintahkan oleh Allah. Apalagi memberi nafkah atau rizki kepada istri dan anak-anak kita sekuat mungkin kita berikan hasil rizki yang halal, yang baik dan yang berkah. Rizki yang kita cari merupakan jerih keringat sendiri. Allah ta’ala berfirman: ”Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para Ibu dengan cara yang ma’ruf. (Qs. Al-Baqarah: 233).

Jangan risau akan semua karunia Allah, burung saja Allah berikan rizki dari arah mana saja, apalagi seorang hamba Allah yang beriman yang berusaha menafkahi istri dan anak-anak, maka Allah akan gantikan dengan pahala yang lebih baik. Jangan sampai ada kata yang terbesit dalam pikiran kita bahwa mencari rizki yang haram saja susah apalagi yang halal, ini adalah ucapan orang yang tidak beriman. Luasnya tempat Allah di bumi tentu begitu banyak rizki yang berlimpah apalagi kita hidup di Indonesia, negeri yang makmur akan sumber daya alam. Allah berjanji dala, firmannya : “Dan barang siapa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya.” (Qs. Saba: 39).

Bahkan Rosulullah saja menyukai seorang muslim yang kerjakeras bahkan tangannya hingga kapalan karena menafkahi keluarganya. Tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah. Artinya memberi itu lebih baik daripada meminta, mencari dan berusaha itu lebih baik daripada diam tanpa usaha. Perlu kita cermati hadis dari Abu Hurairah ra., ia berkata:”Rasulullah bersabda: “Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya yaitu satu dinar yang kamu nafkahkan kepada  keluargamu.” (HR. Muslim)



Seorang kepala keluarga yang tidak sungguh-sungguh mencari nafkah, bahkan tidak mempunyai tanggung jawab dalam menafkahi istri dan anak-anaknya. Seorang Ayah yang sungguh-sungguh mencari rizki, sungguh Allah menjadi senang kepadanya dan iapun disejajarkan dengan orang yang berhihad dijalan Allah swt. “Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barangsiapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azaa Wa Jalla.” (HR. Ahmad)

Wahai keluarga cermatilah hadis yang disampaikan dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash ra., ia berkata:”Rasulullah saw bersabda: ”Seseorang cukup dianggap berdosa apabila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud, Nasa’i dan Hakim). Cukuplah hadis ini mengingatkan kita agar kita tidak menyia-nyiakan kewajiban kita terhadap istri dan anak-anak kita. Jangan sampai kita lalai hingga istri dan anak-anak kita malah membawa kita terjerumus ke api neraka. Sebab anak-anak sholeh dan sholeheh akan menjadi penyelamat diri kita diakhirat. Anak-anak yang sholeh dan sholeh adalah investasi dunia dan akhirat yang bisa menolong kita di negeri akhirat yang nan abadi. 


DAFTRA BACAAN
Al-hidayah Al-Qur’an tafsir perkata tajwid kode angka, PT. Kalim
Shahih Bukhari, penerjemah Achmad sunarto, CV. Asy Syifa’, Semarang, 1993
Ringkasan Shahih Muslim, penerjemah Drs. Achmad Zaidun, Pustakan Amani, Jakarta 2003.
Hidup sebelum mati, Achmad Najieh, Penerbit Ampel Mulia Surabaya, Surabaya, 2012. 
Ilmu Jiwa Agama, Zakiyah Daradjat,  PT. Bulan Bintang, Jakarta 1991.

Catatan :
Tulisan “Kewajiban orang tua terhadap anak” ini pernah disampaikan dalam tausiah arisan keluarga besar walimurid saya di Pondok Indah. Semoga bermanfaat.