Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Khutbah Ramadhan 1434 H

Khutbah Idul Fitri
Ramadhan sebagai peningkatan kualitas diri
          Oleh : Moch. Deni Darmawan, M.Pd.I

                                                             Allahu Akbar 3x. Walillahilhamdu.
Kaum muslimin Rahimakumullah.

puji dan syukur tak henti-henti kita panjatkan ke khadirat Allah swt yang telah memberikan nikmat Iman, Islam dan sehat wal’afiat. Dengan nikmat-nikmat tersebut  Allah sampaikan usia kita pada hari yang amat membahagiakan yaitu hari raya Idul Fitri. Sebagai tanda syukur itulah, kita berkumpul di tempat ini dengan menggemakan takbir, tahlil, dan tahmid serta menunaikan sholat Idul Fitri bersama.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad saw yang telah berjuang menyebarluaskan dan menegakkan nilai-nilai Islam sehingga kita menjadi salah seorang pengikutnya yang setia hingga akhir kehidupan kita nanti.
Alhamdulilah bulan Ramadhan telah kita lewati bersama, perasaan gembira dan sedih meliputi diri kita. Pertama, kita merasa gembira karena doa kita di ijabah karena umur kita sampai pada bulan Ramadhan. Seperti doa yang sering kita lafadzkan;
Allahumma baariklana fii rojaba wa sya’banaa balighnaa romadhoon.
“Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah umur kami pada bulan Ramadhan”  
Berbahagia kita sebulan penuh kita bisa berpuasa dan melakukan ibadah-ibadah baik wajib maupun sunnah, dengan harapan semua amal ibadah kita lakukan senantiasa di terima Allah swt, segala doa yang kita panjatkan mudah-mudahan di ijabah oleh Allah, Allah hapuskan segala dosa-dosa kita, mendapat rahmat, ampunan dan dibebaskannya kita dari api neraka, sehingga kita berharap menjadi manusia yang lebih baik lagi, bersih dari dosa dan kita semua menjadi insan bertakwa, suatu predikat yang mulia disisi Allah swt. Sungguh, bulan Ramadhan yang  kita tinggalkan telah memberikan kebahagiaan serta kesan tersendiri bagi kita, karena di bulan ini memberikan nilai pembinaan yang sangat dalam, memberikan hikmah untuk kehidupan dunia dan khususnya kehidupan akhirat kelak. Kegembiraan itu telah mengantarkan kita pada hari yang fitri ini, menuju kemenangan seiring takbir menggema.
Kedua, di sisi lain kita merasa sedih karena Ramadhan telah meninggalkan kita, begitu cepat sepertinya waktu berlalu. Didalam benak kita seakan-akan bulan yang agung itu baru datang sore kemarin, kini telah berkemas dan hendak meninggalkan kita sampai sebelas bulan kedepan. Yang kita gusarkan, kita tak tahu pasti apakah sebelas bulan nanti kita masih mampu berdiri di shaf yang sama, ibadah bersama orang-orang kita cintai, apakah kita masih memiliki iman yang sama, atau apakah kita telah terpekur didalam tanah yang dingin, dibalut secarik kain usang dan kesakitan dihimpit kubur yang gelap. Di penghujung bulan Ramadhan, Rasulullah dan para sahabat menangis sedih karena Ramadhan akan berlalu, bulan yang penuh barokah dan ampunan, dan bulan di mana doa-doa dikabulkan oleh Allah SWT dan bulan yang didalamnya ada hari yang lebih baik dari 1000 bulan, sehingga Beliau senantiasa berdo’a, Ya Allah janganlah jadikan puasa ini sebagai puasa yang terakhir dalam hidupku. Seandainya Engkau berketetapan sebaliknya, jadikanlah puasa yang dirahmati bukan yang hampa semata. Semoga perpisahanku dengan bulan Ramadhan ini bukanlah perpisahan untuk selamanya dan bukan pula akhir pertemuanku. dengan demikian aku dapat kembali bertemu pada tahun mendatang dalam keadaan penuh keleluasan rezeki dan keutamaan harapan” . Mereka menangis karena merasa belum banyak mengambil manfaat dari Ramadhan. Mereka sedih karena khawatir amalan-amalan mereka tidak diterima dan dosa-dosa mereka belum dihapuskan. Mereka berduka karena boleh jadi mereka tidak akan bertemu lagi bulan Ramadhan yang akan datang.  Bahkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud RA pernah berkata “Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalannya untuk kita beri ucapan selamat, dan siapakah gerangan di antara kita yang ditolak amalannya untuk kita ‘layati’. Wahai orang yang diterima amalannya, berbahagialah engkau. Dan wahai orang yang ditolak amalannya, keperkasaan Allah adalah musibah bagimu” Lantas bagaimana dengan kita, tatkala Ramadhan akan meninggalkan kita, apakah kita merasa sedih atau sebaliknya kita disibukkan dengan segala macam persoalan, seperti persiapan mudik, kue dan baju lebaran, dsb.

Allahu Akbar 3x. Walillahilhamdu.
Kaum muslimin Rahimakumullah.
Ramadhan telah meninggalkan kita, dan kita akan menginjak pada bulan syawal yang artinya adalah peningkatan, mulai hari ini berarti harus kita tunjukkan peningkatan-peningkatan ketakwaan kepada Allah swt sebagai hasil dari ibadah Ramadhan. Maka setiap Ramadhan yang dilalui oleh setiap umat Islam maka ada hal-hal yang harus kita tunjukkan baik sifat dan sikap seorang mu’min setelah menjalankan ibadah Ramadhan, antara lain:
Pertama, merasa dekat kepada Allah swt (taqarrub ilallah). Dengan sikap ini kita akan merasa diawasi dan takut kepada Allah swt. Tatkala kita ingin berbuat maksiat sekecil apapun walaupun hanya dengan getaran hati, kita akan merasa takut akan azab dan murka Allah swt. Tatkala kita menjalankan ibadah puasa, dengan letih kepayahan, sholat taraweh dan sholat malam, membaca Al-Qur’an, kita berjihad untuk mendapat keridhoan-Nya, kita merasa dekat dengan Allah, maka kita pun akan berusaha semaksimal mungkin mempersembahkan ibadah terbaik kita kepada Allah, sebab Allah melihat kesungguhan kita, perlombaan kita. Sikap ini merupakan amat penting bagi kita, apalagi dalam kehidupan di negeri ini, tatkala begitu banyak kemaksiatan dan jahatan, korupsi membudaya, pelacuran merajalela bahkan terbesar di Asia Tenggara, tawuran antar kelompok, misalnya dulu antar pelajar, sekarang antar mahasiswa, mungkin pada saatnya akan terjadi tawuran antar dosen. Perkosaan dan perzinaan juga semakin meningkat. Apabila dahulu terjadi perkosaan terjadi antara laki-laki dengan wanita lain, tapi justru sekarang terjadi ayah dengan anak kandungnya sendiri. Belum lagi masalah minuman keras dan narboba seolah-olah menjadi trend hidup dikalangan anak muda zaman sekarang. Dahulu anak-anak yang mabuk adalah yang bernama Alex, Billy, Riki, tapi sekarang nama-nama seperti Hamid, Sholeh, Mahmud dan sebagainya juga ikut menjadi pemabuk. Baru-baru ini kalo kita perhatikan pada saat bulan Ramadhan begitu banyak club sepak bola papan atas datang ke Indonesia, bisa kita bayangkan disaat umat Islam menjalankan ibadah Ramadhan, namun berapa banyak umat Islam berduyun duyun ke Istora senayan membanjiri dari sore hari hingga malam hari, tentu bisa kita amati berapa banyak mayoritas umat Islam ke sana tanpa mempedulikan lagi sholat ashar, sholat maghrib, sholat isya dan sholat taraweh. Kita merasa tidak bangga lagi akan kehadiran Ramadhan yang mulia. Coba kalo kita perhatikan di negeri jiran Malaysia, mereka terang-terangan menolak club sepak bola itu bermain di negeri mereka di karenakan menjaga kemuliaan bulan Ramadhan, menjalankan lebih khusyuk ibadah-ibadah Ramadhan. Bahkan jika ada seorang muslim yang makan dan minum sembarang di jalan akan dimasukan kedalam penjara. 
Jika kita mau menyadari walaupun tidak ada orang yang melihat dan mengawasinya, kitapun akan jujur kepada Allah, jujur kepada orang lain dan jujur pada diri sendiri, sebab di bulan Ramadhan kita diajarkan pendidikan Moral agar setiap manusia mampu berucap jujur. Diajarkan agar tidak memandang dunia justru lebih mementingkan kehidupan akhirat. Orang yang dekat dengan Allah pasti akan merasa diawasi dan takut jika melanggar perintah Allah. Menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib Rasa takut kepada Allah merupakan hakikat takwa. Namun sebagai manusia biasa mungkin saja seorang berbuat kesalahan, namun jika ia berbuat kesalahan dia segera bertaubat kepada Allah swt dan meminta maaf kepada orang yg tersebut jika dia berbuat salah. Mengembalikan hak orang lain jika ada yang diambilnya, maka seorang mu’min senantiasa jika ia berbuat salah ia akan memohon ampun, beristighfar dan bertaubat. Allah swt berfirman dalam Qs. Ali Imran ayat 133:
 “dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”



Allahu Akbar 3x. Walillahilhamdu.
Kaum muslimin dimuliakan Allah swt.
Salah satu sifat dan sikap apalagi yang harus kita miliki sebagai seorang muslim setelah di gembleng di bulan Ramadhan. Yang Kedua, memiliki kemampuan mengendalikan diri. Tanpa memiliki kemampuan diri akan terjadi malapetaka dan binasa, baik pada diri sendiri, keluarga, masyarakat maupun bangsa dan Negara. Hawa nafsu merupakan hal fitrah yang diberikan manusia, namun bukan berarti kita memperturutkan segala keinginan hawa nafsu sehingga melanggarkan ketentuan yang digariskan oleh Allah swt. Allah sudah menjelaskan di dalam Al-Qur’an bagaimana Nabi Adam as dan Siti Hawa berbuat dosa karena memperturutkan hawa nafsu serta digoda oleh Iblis karena berkeinginan untuk merasakan lezatnya buah dari pohon yang telah dilarang oleh Allah swt, maka Allah murka namun diterimalah taubatnya Nabi Adam dengan penuh menyesal. Kejadian Nabi Adam akan terus relevan hingga saat ini. Allah swt berfirman di dalam surat Ali-Imran ayat 14 :
 “dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”
Jangan sampai segala hawa nafsu terhadap wanita, anak, harta benda dan sebagainya membuat kecintaan kita berlebihan terhadap cinta kita kepada Allah. Namun jika kecintaan itu dilandasi dengan takwa, maka kecintaan itu akan di iringan dengan kecintaan kepada Allah swt. Mempunyai harta tapi dilandasi dengan takwa, maka harta yang dimiliki akan dipergunakan di jalan Allah, begitu juga mempunyai istri yang dilandasi dengan takwa, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis semata. Mempunyai anak yang dilandasi dengan takwa, maka dididiknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah menuju ridho Allah swt.
Bulan Ramadhan, kita diwajibkan untuk berpuasa, sedangkan  sasaran puasa adalah agar umat Islam selalu bertakwa kepada Allah swt dan sasaran sholat adalah agar umat Islam menjauhi atau mencegah perbuatan yang keji (maksiat) dan munkar. Dengan menjalankan ibadah puasa dibulan Ramadhan kita melatih untuk mengendalikan diri dari hawa nafsu, sehingga puasa kita membawa dampak positif terhadap diri sendiri dan bermasyarakat. Jangan sampai puasa hanya menjadi rutinitas ritual atau sekedar formalitas yang biasa kita lakukan setiap tahun. Apabila hal ini yang terjadi, maka tepatlah apa yang dkatakan Rosulullah saw dalam sebuah hadist shahih.
“Banyak orang yang berpuasa tapi tidak ada balasan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus. Dan banyak orang yang mengerjakan sholat malam, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari shalatnya kecuali rasa ngantuk” (HR. Ahmad, al-Baihaqi, dan al-Thabrani)
 
Allahu Akbar 3x. Walillahilhamdu.
Jamaah sholat idul fitri yang berbahagia.
Salah satu sifat dan sikap apalagi yang harus kita miliki sebagai seorang muslim setelah mengarungi di bulan Ramadhan. Yang Ketiga, yaitu memiliki ketajaman hati. Selama Ramadhan hati kita terasa lebih dekat kepada Allah. Segala ibadah yang kita lakukan hati kita selalu disertai Allah. Ketika kita semakin memiliki ketajaman hati maka kita bisa menangkap dan membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, mana yang halal dan mana yang haram. Tatkala kita diamanahkan sebagai seorang pemimpin atau jabatan tertentu, begitu banyak praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. tentu orang yang memiliki ketajaman hati bisa menangkap dan memilah mana perbuatan yang halal dan haram, orang lain bisa kita bohongi tapi Allah tidak bisa kita bohongi.
Dengan berpuasa di bulan Ramadhan kita tidak hanya sehat secara jasmani tapi juga sehat secara rohani, terlebih hati kita juga menjadi sehat. Sebab Di bulan Ramadhan Allah menginginkan agar di hati kita bisa membuang sifat dengki dan hasud, karena di bulan Ramadhan kita dianjurkan untuk selalu berpikir positif (husnu dzon) terhadap orang lain, dianjurkan berdzikir, berdoa dan membaca qur’an, sehingga Ramadhan yang kita lalui akan memberikan ketajaman hati dalam mengambil hikmah-hikmah dari Allah, sebab hati kita selalu diarahkan supaya tertuju pada kehidupan akhirat. Sebab penyakit hati akan timbul tatkala hati selalu cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsu. Hati adalah tuan dan rajanya seluruh anggota dan merupakan sumbernya keimanan serta akhlak dan niat yang tercela ataupun terpuji. Dan tidak akan bahagia kehidupan seseorang di dunia dan di akhirat kecuali dengan membersihkan dan mensucikan hati kita yang hitam penuh nosa dari dosa-dosa menuju jiwa yang suci dan bersih. Allah swt berfirman dalan Ws. As-Syams ayat 8-10 :
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Allahu Akbar 3x. Walillahilhamdu.
Jamaah sholat idul fitri yang berbahagia.

Salah satu sifat dan sikap apalagi yang harus kita miliki sebagai seorang muslim setelah di melewati fase-fase di bulan Ramadhan. Yang Ke-empat, yaitu rasa malu. Setelah melewati pasca Ramadhan setiap muslim mempunyai rasa malu yang tertanam dalam dirinya. Malu bila melakukan sesuatu yang tidak dibenarkan oleh Allah dan Rosul-Nya. Rasa malu merupakan sesuatu yang sangat penting karenanya salah satu cabang dari iman. Keimanan seseorang perlu di pertanyakan apabila didalam dirinya tidak ada rasa Malu. Rosulullah saw bersabda : al-hayaa u syu’batun minal iimaan. “malu itu cabang dari iman”
Keimanan dan rasa malu menjadi sesuatu yang tidak dipisahkan seperti dua sisi mata uang. Jika dikatakan beriman, maka sudah barang tentu mempunyai rasa malu. Rasa malu itu akan berdampak setelah Pasca Ramadhan, setelah di tempa untuk berbuat baik selama Ramadhan, maka seseorang akan merasa malu jika berbuat kejahatan, kemungkaran, kemaksiatan. Seseorang yang tidak lagi memiliki rasa malu biasanya akan menunjukkan hal-hal yang kurang etis dimasyarakat dan bertentangan dengan norma-norma agama. Melihat realita di zaman sekarang, berapa banyak wanita muslimah yang terang-terangan mempertontonkan auratnya dengan mengendarai motor, remaja putra putri Islam tidak malu-malu lagi berpacaran sambil berpelukan dan berciuman di jalan bahkan berhubungan layaknya suami istri dan akhirnya hamil sebelum pernikahan.
Berapa banyak para pejabat pemerintah yang sudah terang-terangan korupsi bahkan berselingkuh. Kejadian ini menjadi seperti hal yang lumrah terjadi di masyarakat. Seharusnya setiap musmin yang menjalankan puasa d ibadah Ramadhan, sasaramya menjadi manusia yang bertakwa. Maka akan timbul rasa malu jika melakukan perbuatan dosa yang akhirnya menimbulkan murka Allah swt. Ingatlah akan firman Allah bagi orang yang selalu melakukan perbuatan dosa yang dilakukan oleh tangan dan kakinya. Sebagaiman Allah berfirman dalam Qs. Yasin ayat 65:

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”

Untuk itulah setiap muslim harus memiliki sifat malu kepada Allah swt dengan sebenar-benarnya, kapan dan dimanapun dan dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun juga. Rasolullah bersabda :

Malulah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar malu” (HR. Tirmidzi)

Dengan demikian, bila manusia masih memiliki malu tentu tidak akan melakukan hal-hal yang melanggar perintah Allah swt dan Rosul-Nya. Jika seorang muslim sudah berpuasa selama Ramadhan, maka sebelas bulan ke depan maka kita harusnya benar-benar malu jika selalu berbuat berdusta dan berkata-kata kotor, jika seudah melaksanakan sholat di bulan Ramadhan, maka sebelas bulan ke depan, kita harus benar-benar malu jika meninggalkan sholat dan berbuat keji dan munkar. Jika kita sudah haji, maka kita benar-benar malu jika kita tidak menjadi contoh untuk orang-orang disekitar kita. Seandainya kita mau memahami semua ini, tentu bangsa Indonesia yang tiap tahun melaksanakan Ramadhan tiap tahun, harusnya bisa lebih baik dan membawa perubahan bagi perorangan dan segala aspek kehidupan.   


Allahu Akbar 3x. Walillahilhamdu.
Jamaah sholat idul fitri yang berbahagia.

Salah satu sifat dan sikap apalagi yang harus kita miliki sebagai seorang muslim setelah di melewati fase-fase di bulan Ramadhan. Yang Ke-lima adalah terjalinnya silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah yang kokoh dan kuat. Ketika Ramadhan akan datang, seluruh umat Islam diseluruh dunia menyambut dengan suka cita, bersatu padu dalam ikatan ilahi rabbi dan tidak suka bercerai berai. Begitu terasa ikhuwah Islamiyah kita, kekuatan iman dan spiritual yang melahirkan perasaan yang dalam terhadap kasih sayang, mahabbah (kecintaan), kemuliaan dan saling percaya dengan sesama muslim yang dilandasai iman dan takwa. Perasaan persaudaraan ini melahirkan sikap keikhlasan, kasih sayang seperti tolong menolong, pemaaf, pemurah, setia kawan dan sikap mulia lainnya.
Silaturahmi yang dulu pernah putus, dengan keluarga maupun dengan orang-orang  yang ada di lingkungan kita, baik jamaah di mushollah atau masjid, maka di hari idul fitri ini kita jalin kembali, saling memaafkan dan melupakan kesalahan. Jangan sampai silaturahmi yang sudah terjalin hanya dengan perbedaan pendapat kita eggan untuk saling memaafkan. Bukankah Rosul pernah bersabda “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali silaturahmi. Jangan sampai, hanya berebut warisan dan harta kita harus mengorbankan putusnya silaturahmi antar saudara. Jangan sampai perbedaan pendapat yang bersifat cabang, hingga terjadi saling baku hantam dan saling mengancam masuk neraka. Umat Islam harus bersatu, mari perangi kebodohan, kemiskinanm dsb. Masih banyak persoalan umat Islam yang harus kita perbaiki menuju kejayaan dan peradaban Islam. Umat Islam janganlah bercerai berai. Seperti Allah swt firmankan didalam surat Qs. Ali Imran ayat 103 :
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara”
­



Allahu Akbar 3x. Walillahilhamdu.
Jamaah sholat idul fitri yang dimuliakan Allah.

Dari uraian khutbah singkat ini, dapatlah kita simpulkan bahwa berakhirnya bulan suci Ramadhan bukan berarti surut pula semangat keislaman kita, tapi justru marilah kita jadikan Ramadhan titik tolak untuk perbaikan diri, dan peningkatan kualitas iman kita. Minimal ada 5 sifat dan sikap yang harus kita miliki setelah menjalankan fase-fase Ramadhan. Pertama, memiliki sifat dan sikap dekat kepada Allah (taqorrub illahi). Kedua, sikap pengendalian diri. Ke-tiga, mempunyai ketajaman hati. Ke-empat, mempunyai rasa malu. Ke-lima, terjalinnya silaturahmi dan ukhuwah islamiyah yang kokoh. Mudah-mudah dalam menjalankan Ibadah Ramadhan tidak kita jadikan rutinitas ritual yang biasa kita lakukan tiap tahun sehingga tidak ada perubahan apa-apa. Semoga khutbah singkat pagi ini bermanfaat bagi kita dan marilah kita akhiri dengan sama-sama berdoa. 

MEMAKNAI PERGANTIAN TAHUN

MEMAKNAI PERGANTIAN TAHUN

Oleh : Deni Darmawan

Dalam perputaran waktu, detik demi detik, menit demi menit, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan begitu seterusnya akan kita alami selama kita hidup. Tanpa terasa,  waktu begitu cepat berlalu, waktu yang begitu berharga dan amat mahal harganya, sebab dia tidak akan kembali lagi. Kualitas hidup seseorang bisa di lihat bagaimana Ia mempergunakan waktu  dan umurnya sebaik mungkin, yaitu untuk ibadah kepada Allah, mencari ilmu, berbuat kebaikan atau mengisi waktunya untuk hal yang positif.

Namun kita bisa lihat, dari belahan negara atau di tanah air kita, begitu antusiasnya mereka menanti dan merayakan setiap pergantian tahun. Diantara mereka ada yang membeli dan menikmati pesta kembang api dalam jumlah besar. Meniup  terompet hingga suaranya terdengar disetiap sudut kota. Asap panggang jagung, ayam dan ikan bakar yang baunya semerbak dimana-mana.

Atau kerap kali kita juga melihat dan mendengar berita-berita dimedia tentang banyaknya pemuda dan pemudi, kerap melakukan hal-hal negatif, seperti mabuk-mabukkan, kebut-kebutan, berzina, dan perbuatan maksiat lainnya atau yang lebih ekstrim mencoba mem-bom rumah-rumah ibadah, merusak fasilitas sehingga membuat keresahan, dan ketakutan di tengah masyarakat. Sehingga kepolisian dan warga harus bersiap berjaga-jaga mengantisipasi itu semua.
 
Lalu bagaimana memaknai pergantian tahun, agar tiap umat muslin dan umat Islam semakin tahun ada perubahan, ada peningkatan iman dan takwa, peningkatan kualitas diri, dsb. Maka sudah sepatutnya sebagai umat Islam mengacu pada arahan dan pedoman Al-Quran dan hadis nabi serta menapaki jejak-jejak spritual para ulama agar senantiasa tidak menjadi orang-orang merugi dan lalai.

Hendaklah memperhatikan hari ini, esok dan kelak (akhirat)

Betapa besarnya Islam memberikan perhatian tentang waktu, hari dan seterusnya. Allah bersumpah demi waktu, maka sudah dipastikan manusia akan dalam keadaan merugi kecuali orang yang beriman, beramal sholeh, saling menasehati, menyeru dan mengajak dalam kebenaran dan kesabaran. Mencari bekal sebanyak mungkin untuk negeri akhirat kelak, mempergunakan waktu dan sisa usia untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dan menjauhi dari hal kesia-siaan.

Oleh sebab itu, umat Islam untuk banyak melakukan muhasabah diri sambil mengevaluasi diri, berapa banyak dosa apa yang telah diperbuat, amal apa yang sudah dikerjakan, bekal apa yang sudah kita bawa untuk ke negeri akhirat. Semua akan dipertanyakan dan akan dipertanggung jawabkan kelak. Kaki, tangan dan anggota tubuh akan bersaksi semua saat kita masih hidup di dunia.

Di sisi lain bisa juga kita lihat, pemuda-pemudi yang melakukan kegiatan positif di masjid-masjid dan mushola dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Melakukan kajian, itikaf, tausiah, sholat tahajud bersama, dsb. Mereka isi pergantian tahun untuk mengevaluasi dan bermuhasabah. Inilah yang juga dikatakan oleh Umar bin Khattab, bahwasannya agar tiap diri mampu menghisab diri sebelum nanti di hisab (di hitung amalnya) diakherat kelak. Merenungi kembali semua perjalanan waktu yang sudah dilewati. Memperhatikan hari ini, esok dan kelak diakherat nanti, begitulah yang tertera dalam surat Al-Hasr ayat 18  

Sesungguh Allah SWT telah memberikan modal untuk kita yaitu waktu dan umur. Kita harus menyadari tahun yang semakin bertambah, maka waktu jatah hidup kita di dunia makin berkurang. Umur yang bertambah, maka pada hakikatnya dosa kita juga makin bertambah. Oleh sebab itu, seorang mukmin harus mempergunakan sebaik-baiknya waktu dan umurnya yang diberikan dari Allah SWT. Orang yang telah diberikan umur panjang dan baik amal perbuatannya maka itu yang di sebut oleh nabi sebagai seaik-baik manusia. “man tholla ’umruhu wa hasuna ‘amaluhu. Begitupun sebalik, nabi menyebut seburuk-buruk manusia yang panjang umurnya namun juga buruk amalnya. “Man tholla umruhu wa saa a ‘amaluhu”

Seorang mukmin harus menyadari, bahwa hidup di dunia ini hanya sementara dan sebentar. Usia rata-rata umat nabi Muhammad itu antara 60 hingga 70 tahun, kalaupun begitu umat Nabi juga diberikan karunia, keutamaan, keberkahan dan begitu banyak pahala yang diberikan oleh Allah swt. Oleh sebab itu, jangan sampai kita tertipu dengan kehidupan dunia, sebab kita tinggal di dunia ini, hanya seperti orang asing atau musafir yang numpang lewat seperti perkataan Ibnu Umar “ kun fii dunya kannaka ghoriibun aw ’aabiri sabiili” Dalam kehidupan yang kita jalani saat ini, tentu kita semua akan kembali ke pangkuan Allah dan akan dipertanyakan atas umur yang sudah kita habiskan, atas harta yang kita peroleh dan kita pergunakan, atas ilmu yang kita manfaatkan.  Semua akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.

Tingkatkan Syukur kepada Allah SWT.

Seorang mu’min wajib untuk meningkatkan rasa syukur atas semua fasilitas yang diberikan Allah swt. Hingga detik ini, hari ini, Allah masih memberikan berbagai macam nikmat, diantara umur panjang dan waktu luang. Maka sudah sepatutnya kita syukuri itu semua, dengan selalu mengucapkan alhamdulillah, dengan istiqomah menjalankan ibadah dan taat kepada Allah swt. Dan senantiasa meyakini di hati jika semua nikmat itu dari Allah swt. Jika kita mau menghitung-hitung nikmat Allah niscaya kita tidak akan mampu untuk menghitungnya. Jangan menjadi hamba yang kufur, setelah apa yang telah kita peroleh tapi kita tidak mampu mensyukuri itu semua, maka azab Allah amat pedih.

Taubat kepada Allah SWT

Alhamdulilah kita diberikan kesempatab hidup di dunia ini, umur dan waktu jangan di sia-sia tanpa amal dan menggapai ridho-Nya. Setiap tahun kita sering berbuat salah disadari atau tidak.  Maka bertobatlah kepada Allah, sebelum ajal menjemput. Menyesali semua perbuatan yang pernah dilakukan, menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi, meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti dan zalimi, kepada Allah dan manusia. Taubatlah dengan sungguh-sungguh, agar kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat.


Majlis Ta'lim di Alam Terbuka




Banyak cara untuk belajar dan mengaji, tidak hanya dalam ruang tertutup tapi juga bisa kita laksanakan di ruang terbuka misalnya di taman, dipekarangan atau di tempat yang asri, ini merupakan upaya dalam mengatasi kebosenan di majlis yang ruangannya tertutup. Di suasana majlis yang terbuka kita bisa mengadakan pengajian atau membuka kitab, shalawatan dsb. Tentu ini akan memberikan warna baru dan angin segar karena jamaah bisa menghirup udara di alam terbuka. Para pengurus majlis mungkin mempunyai agenda untuk beberapa pertemuan ada kiranya untuk keluar sehingga majlis bisa tetap terlaksana dengan suasana yang berbeda, namun Insya Allah tidak mengurangi pahala duduknya kita di majlis ta'lim.


MUNAJAT MALAM

                                                                           
Ya Allah Ya Tuhan kami,
Begitu banyak nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami.
Begitu banyak karunia serta limpahan rahmat yang Engkau Anugerahkan kepada kami
Disetiap langkah kami, disetiap hembusan nafas kami, disela-sela kesibukan kami
Kau berikan hidayah agar kami bisa menjalankan ajaran-Mu.
Kau tambahkan rasa keimanan agar kami mengingat asma-Mu.

Ya Allah ya Tuhan kami,
Berilah kekuatan kepada kami,
Berilah kemudahan kepada kami,
Dari persoalan yang pelik, masalah yang rumit, dan kesulitan yang selalu menghadang.
Tuntunlah kami, agar kami bisa menjalankan tugas dan tanggung jawab sebaik mungkin
Tunjukillah kami, agar kami bisa menjalankan amanah ini dan kami bisa pertanggung jawabkan di hadapan-Mu kelak.

Ya Allah ya Robb,
Dengan segala munajat kami, permohonan kami dan doa kami
Jadikanlah tempat ini menjadi keberkahan ketika kami bekerja
Jadikan tempat ini penuh dengan ketenangan, kenyamanan, dan kedamaian di hati kami 
Jadikan tempat ini menjadi tempat keberhasilan dan kesuksesan untuk kami
Ya Allah dengan segenap kekuatan-Mu
Lindungilah tempat ini, dari mara bahaya
Dari orang-orang yang jahil dan orang-orang yang selalu menebar permusuhan
Maka jauhkahlah segala masalah yang tidak sanggup kami untuk memikulnya.
  

Ya Allah ya Tuhan kami,
Ingatkan kami, dikala kami lupa dan lalai karena sibuknya urusan dunia.
Ingatkan kami, Dikala kami khilaf memperturutkan ego dan hawa nafsu kami.
Kami sadar ya Allah, bahwa kami lebih banyak marahnya daripada sabarnya
Lebih banyak ngeluhnya ketimbang syukurnya.
Lebih banyak


Ya Allah Ya Maha Pengampun,
Tunjukkilah kami jalan yang lurus Ya Allah, jalan yang engkau ridhoi
Berilah kami rizki ya Allah, rizki yang yang banyak lagi halal.
Jadikan hari ini menjadi hari keberkahan untuk kami
Hari dimana engkau rahmati segala langkah dan niat kami.
Jadikanlah kami orang yang pandai bersyukur, agar kami tahu semua harta yang kami miliki hanya titipan-Mu ya Allah.


Terima kasih ya Allah, atas semua nikmat ini.

Cara Memeroleh Ilmu Manfaat

DALAM  bukunya berjudul Risalah al-Mu`awanah Imam Abdullah Al Haddad menganjurkan kepada kita untuk memiliki kebiasaan membaca kitab-kitab berisi ilmu yang bermanfaat. Ilmu sendiri dibagi menjadi dua: ilmu yang manfaat dan ilmu yang mengandung mudharat.

Pada tiap bagian ilmu, terkandung ciri-ciri tertentu. Ciri ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mengantarkan kita semakin mengenal Allah. Inilah ilmu tauhid.
Ciri pertama ini mengandung makna bahwa dengan semakin berilmu kita semakin mengenal sifat-sifat, firman-firman, dan ciptaan-ciptaan Allah.
Sebagai contoh ciri pertama, ketika kita telah mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui maka pengetahuan kita akan hal ini membuat kita mawas diri agar tidak terjatuh dalam lembah maksiat. Kita yakin bahwa Allah mengetahui segala apa yang kita lakukan.
Ketika kita tahu bahwa Allah Maha Mendengar, maka pengetahuan kita ini akan membuat kita berhati-hati dalam melontarkan tiap huruf, kata, dan kalimat. Kita yakin Allah mendengar segala yang terucap oleh lisan kita. Kita akan berusaha dengan sungguh-sungguh menjaga lisan agar tidak sampai mengucapkan kata-kata yang tercela di sisi-Nya. Sekali lagi, ciri ilmu bermanfaat yang pertama adalah ilmu yang mengenalkan kita tentang Allah dalam segala aspeknya.
Ciri kedua dari ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mengantarkan kita untuk patuh terhadap segala peraturan Allah, meliputi kewajiban dan larangan-Nya. Semakin kaya ilmu yang kita miliki semakin kaya pula kita dalam berusaha mengerjakan semua hal yang diperintahkan dan menjauhi segala hal yang dilarang.
Ciri ketiga adalah ilmu yang membuat kita tidak bergantung pada dunia dan dekat dengan akhirat. Bukan sebaliknya, ilmu yang membuat kita ingat dunia tapi lupa alam akhirat. Berilmu tapi lalai dalam menabung kebaikan bekal kehidupan selanjutnya adalah kebalikan dari ciri ketiga ini.
Ciri berikutnya adalah ilmu yang membuat kita semakin sadar terhadap kekurangan diri sendiri. Semakin kita berilmu, semakin kita sibuk mencari kekurangan diri sendiri dan tidak menggubris aib dan kekurangan pada diri orang lain.
Singkatnya, orang yang berilmu bukan yang pandai berdebat, berceramah, mengeritik setiap orang, tapi ilmu yang membuat kita semakin takut kepada Allah. Pengertian demikian telah dituangkan Allah dalam firman-Nya:
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang yang berilmu). “ (QS. Fathir [35] : 28).
Sungguh beruntung mereka yang mau mencari ilmu, mengamalkan, dan mengajarkannya. Mereka yang memiliki ilmu bermanfaat tentu akan terhindar dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam berikut:
أَشَدُّ الناَّسِ عَذَاباً يَوْمَ القِياَمَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ (الطبرانى، وابن عدي، والبيهقى فى شعب الإيمان عن أبى هريرة)
“Kelak, manusia yang paling pedih siksanya di hari kiamat adalah orang berilmu yang tidak bermanfaat ilmunya.” (HR. Thabrani, Ibnu Adiy dan Baihaqi dari Abu Hurairah).
Dalam doanya, Nabi pernah memanjatkan permohonan kepada Allah agar dilindungi dari ilmu yang tidak bermanfaat:
اَلَّلهُمَّ إِنِّىْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسِ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجاَبُ لَهاَ (مسلم عن زيد بن أرقم )
“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak tenang, jiwa yang tidak pernah merasa puas, dan doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim dari Zaid bin Arqam).
Cara Memperoleh Ilmu Manfaat
Menurut Imam Abdullah Al Haddad dalam bukunya Risalah al-Mu`awanah, keempat ciri ilmu tersebut dapat diraih dengan rajin membaca dan mengkaji kitab-kitab yang telah ditulis oleh Imam Al-Ghazali.
“Imam Ghazali telah menulis banyak buku yang sangat besar manfaat dan mutunya. Hanya orang yang mantap pandangan batinnya, kokoh agamanya dan sempurna keyakinannya yang mau mengkaji buku-buku beliau,” tulis Imam Abdullah.
Maka, seyogiyanya kita selalu mengkaji buku-buku Imam Ghazali jika kita mempunyai keinginan untuk bisa sampai pada derajat yang mulia.
Melihat pentingnya posisi karya-karya Imam Ghazali, maka tidaklah heran jika di berbagai tempat buku-bukunya dibaca dan dikaji secara mendalam. Di Tanah Air sendiri tidak terhitung berapa banyak majelis pembacaan kitab-kitab Imam Ghazali, khususnya kitabIhya` Ulumud-Din.
Selain itu, untuk lebih menyempurnakan syariat, seyogyanya kita juga membaca kitab-kitab tafsir dan hadits sebagai penjabaran dari al-Qur`an yang merupakan kitab suci umat Islam. Tujuannya adalah agar kita terhindar dari memahami al-Qur`an secara harfiyah saja tanpa mengetahui makna yang dikandung di dalamnya.
Membaca buku tafsir menjadi sangat penting sebab karena buku tafsir ditulis oleh sosok yang memiliki ilmu al-Qur`an, meliputi sebab turunnya suatu ayat atau surat, kandungan bahasa, nasikh-mansukh, dan sebagainya. Adapun membaca al-Qur`an dengan bersandar pada terjemahannya semata tak dapat dijadikan sebagai sebuah pemahaman yang benar.
Pentingnya membaca al-Qur`an dengan tafsirnya menjadikan pemahaman kita terhadap isi kandungan di dalamnya lebih utuh, tidak hanya memahami dari satu sudut pandangan saja. Begitu pula dalam membaca sebuah hadits. Agar pemahaman kita terbentuk dengan baik, kita harus merujuk pada keterangan-keterangan para ulama.
Tidak terkecuali membaca buku-buku agama. Hanya buku-buku yang ditulis oleh orang-orang shaleh sajalah yang bisa memperkaya wawasan keagamaan kita. Demikian halnya membaca buku atas rekomendasi para ulama, seperti yang telah diterangkan oleh Imam Abdullah Al-Haddad. Meski begitu, janganlah semua buku para wali Allah kita baca, seperti karangan Ibnu Arabi, atau beberapa karangan Imam Ghazali yaitu Al-Mi`raj.
Mengapa kita dilarang membaca buku-buku seperti itu?  Setidaknya ada dua alasan.
Pertama, khawatir salah dalam memahami disebabkan kedangkalan nalar kita. Kedua, khawatir kita menuduh yang tidak-tidak terhadap Ibnu Arabiy, seorang wali Allah, karena kebodohan diri kita sendiri.
Sedari dini, kita perlu melatih diri untuk tidak pernah merasa bosan memburu ilmu. Kehidupan merupakan universitas yang mengajarkan banyak hikmah dan pelajaran. Ambil, petik, manfaatkan sebaik-baiknya.
Tidak akan pernah rugi orang yang selalu haus ilmu dan betapa akan menyesalnya orang yang melewatkan usianya dalam keadaan miskin ilmu.
Bacalah buku karya para ulama yang telah teruji oleh sejarah. Buku-buku yang berisi ajakan kepada Allah dan Rasul-nya, bangkit menuju kemenangan dan kesuksesan. Tinta-tinta yang dibubuhkan di atas kertas menjelma menjadi sebuah karya untuk mencerahkan alam pikiran.
Dengan ilmu, dapat kita munculkan peradaban Islam yang gemilang. Dengan ilmu, kita rebut kemenangan demi Izzul Islam wal Muslimin. Wallahu A`lam bis Shawab.*

Penulis : Ali Akbar bin Aqil adalah Pengajar di Pesantren Darut Tauhid, Kota Malang

Memahami Rekomendasi Para Huffadz Terhadap Maulid Nabi Saw


Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Allahumma shalli wa sallim ‘alaa Sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa ash haabihi ila yawmiddien.
Setiap mendekati Rabiul Awwal, ada dua fenomena yang nampak di kalangan kaum muslimiin. Sebagian ( besar ) ada yang menyambut bulan tersebut dengan penuh kegembiraan. Jika pada bulan-bulan selain Rabiul Awwal kenangan dan kecintaan terhadap Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam mengisi kehidupan mereka, maka bulan tersebut kenangan mereka terhadap Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam semakin menguat. Mungkin ini adalah fitrah kemanusiaan, di mana ketika seseorang memasuki waktu di mana sebuah peristiwa besar pernah terjadi pada seseorang yang dicintai pada masa lalu, maka peristiwa tersebut akan terkenang dalam hati para pecinta. Dan kenangan tersebut akan semakin kuta jika seseorang memasuki waktu di mana peristiwa tersebut terjadi.
Sebaliknya, sebagian orang memasuki bulan Rabiul Awwal dengan penuh amarah. Sebab mereka menganggap ungkapan kecintaan kepada Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam di bulan Rabiul Awwal sebagai hal yang mungkar. Karena mereka beranggapan bahwa ungkapan cinta dan syukur atas kelahiran dan diutusnya Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam sebagai penambahan dalam agama ( bid’ah ) yang tidak pernah dicontohkan dan dilakukan oleh Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam. Dan menurut kelompok kedua ini, setiap amaliyah yang tidak pernah dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam adalah bid’ah dan kesesatan.
Padahal para hafidz hadist ( hafal sanad dan matan serta status 100.000 hadist ), seperti Ibnu Hajar, Ibnu Sholah, Ibnu Syamah, As Suyuthi, As Sakhawi, Al Iraqi dan ratusan atau ribuan huffadz lain memperbolehkan Maulid Nabi dan menganggap sebagai kebaikan. Semetara mereka yang mengaggap Maulid sebagai bid’ah dholalah ( kreasi sesat ) tidak ada satu pun yang yang mencapai tingkat hafidz. Ini merupakan sebuah fenomena yang aneh. Seseorang semakin tahu hadist ternyata semakin terbuka terhadap peringatan Maulid. Apakah para huffadz ini yang tidak istiqomah, atau justru mereka yang menentang maulid yang memang ilmunya belum sampai ?

Bid’ah, antara istilah bahasa dan syara’
Karena itulah, salah satu hal yang penting untuk diketahui oleh kaum muslimin adalah bid’ah. Sebab ketidaktahuan tentang bid’ah ini akan membawa seseorang kepada beberapa hal. Pertama adalah melakukan sebuah amalan yang disangkanya baik, namun karena amalan tersebut termasuk bid’ah, maka amalan tersebut menjadi sia-sia. Bahkan bisa menyebabkan seseorang masuk neraka. Kedua, ketidak tahuan tentang bid’ah akan menyebabkan seseorang dengan serampangan membid’ahkan amalan yang sebenarnya tidak bid’ah. Bahkan bisa menyulut pertumpahan darah sesama muslim. Sudah tentu, hal ini akan merugikan kaum muslimin. Apalagi di tengah gempuran global terhadap Islam saat ini. Pont kedua ini akan menyebabkan kekuatan Islam akan melemah hingga akibatnya musuh-musuh Islam mempunyai kesempatan untuk menguasai Islam. Setiap kata dalam syariah memiliki makna dari beberapa hakikat. Ada beberapa hakikat makna dalam kajian Islam. Yaitu hakikat lughawi, yaitu makna suatu kata dari sudut pandang bahasa. Makna hakikat lughawi ini biasanya diperoleh dalam kamus bahasa. Dan yang kedua, hakikat syar’i, yaitu makna suatu kata dari sudut pandang syariah. Hakikat syar’i ini dijelaskan oleh Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam atau oleh Allah SWT dalam Al Qur’an. Kata sholat misalnya. Secara bahasa artinya doa. Namun secara syariah, sholat ini berarti perbuatan dan perkataan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan tatacara dan syarat tertentu.
Nah, dalam kaitan dengan bid’ah, maka kata bid’ah ini secara bahasa berasal dari kata bada’a yang berarti menciptakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Dari sudut bahasa, makaseluruh kreasi manuisa, baik dalam lingkup keagamaan atau pun dalam lingkup keduniawian dinamakan bid’ah.
Dari sudut pandang bahasa inilah, maka Amirul Mukminiin Umar mengomentari sholat tarawih berjama’ah, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini“ ( Riwayat Bukhari dan Malik ). Dari sudut pandang bahasa ini pulalah, maka Imam Asy Syafi’i rahimahullah membagi bid’ah menjadi dua, yaitu bid’ah ghoiru madzmumah ( kreasi yang tidak tercela ), yaitu kreasi yang tidak menyalahi Al Qur’an dan Sunnah dan bid’ah dholalah ( kreasi sesat ), yaitu kreasi yang mensalahi ( Manaqib Al Imam Asy Syafi’i Juz I hal. 469 ). Dari sudut pandang ini pulalah, maka para huffadz, seperti Al Hafidz Ibnu Abdil Barr, Al Hafidz Ibnul Atsir, Al Hafidz Ibnu Hajar dan lain-lain membagi bid’ah menjadi dua, yaitu kreasi baik ( bid’ah hasanah ) dan kreasi tercela ( bid’ah sayyi’ah ).
Bid’ah dalam Syariah
Yang menjadi masalah adalah pengertian bid’ah secara syar’i. Ketika Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam bersabda, “setiap bid’ah adalah sesat” ( H.R. Muslim ), maka apakah maksud bid’ah dari ungkapan di sini?
Ada perbedaan pendapat di kalangan manusia dalam memaknai bid’ah secara syar’i yang dimaksudkan dalam hadist di atas. Kelompok pertama adalah mereka yang mengatakan bahwa bid’ah adalah semua kreasi baru tanpa pmemperdulikan aspek-aspek duniawi atau keagamaan.Kelompok ini diwakili oleh salah seorang tokoh Saudi, Al Utsaimin ( Al Ibda’ fi kamalisy syar’i hal. 13 ). Jika kita mengikuti kaidah kelompok pertama ini, maka seluruh kreasi manusia yang tidak ada di masa Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam adalah sesat dan masuk neraka. Sehingga dengan demikian, manusia tidak boleh menggunakan telephon, mobil, hp dan lain-lain.
Kelompok kedua adalah mereka yang mengatakan bahwa bid’ah semua amalan yang tidak pernah dilakukan, diperintahkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam dalam bidang keagamaan. Pengertian ini sering kali dimekmukakan oleh pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab ( Wahabi ). Berdasarkan pengertian kelompok kedua ini, maka semua kreasi doa ( seperti Hizb Nawawi, Hizb Barqi ), semua kreasi shalawat ( seperti Shalawat Nariyah, Munjiyat, Shalawat Barzinji dll ) adalah bid’ah, sesat dan tertolak.
Kelompok ketiga adalah mereka yang mengatakan bahwa bid’ah yang dimaksudkan dalam hadist di atas adalah segala sesuatu hal baru yang menyelisihi atau tidak bisa dikembalikan kepada Al Qur’an, Sunnah atau Ijma’. Tetapi jika hal baru tersebut masih bisa dikembalikan kepada dasar Al Qur’an, Sunnah atau Ijma’, maka hal tersebut bukan bid’ah dholalah ( bid’ah sesat ) yang dimaksudkan dalam hadist di atas. Di antara penganut tafsir ini adalah Al Imam Asy Syafi’i rahumahullah ( Manaqib Al Imam Asy Syafi’i Juz I hal. 469 ) dan para huffadz hadist.
Analisa
Dari ketiga pendapat tersebut maka jika kita memilih pendapat pertama, nampaknya mustahil dan hal ini bertentangan dengan kenyataan dalam sejarah. Sesunggunya para sahabat Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam banyak melakukan hal-hal baru yang tidak ada pada masa Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam. Seperi penggunaan nama Amirul Mukminin pada Khalifah, pelaksanaan tarawih berjama’ah secara terus menerus ( pada masa Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam pernah berjama’ah tapi kemudian secara sendiri-sendiri ), pembukuan Al Qur’an dan lain-lain.
Jika kita mengikuti kelompok kedua, maka kita pun akan menemui beberapa kontradiksi dengan kenyataan pada masa Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam maupun para sahabat. Jika kita mengatakan bahwa jika sesuatu itu baik, pastilah Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam akan paling dahulu melakukannya. Namun ternyata hal ini tidak sesuai dengan realita dalam kehidupan para shahabat dan tabi’in. Berikut ini beberapa contoh
1.   Dalam kasus pembukuan Al Qur’an menjadi satu buku, ini baru dilakukan pada masa Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq.
2.   Dan penunggalan kodifikasi model Al Qur’an baru dilakukan di masa Amirul Mukminin Utsman.
3.  Dalam kasus pembacaan qunut, Umar bin Khaththab memiliki doa qunut tersendiri yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam ( Al Adzkar An Nawawi hal. 49 ).
4.   Dalam masalah do’a, seorang tabi’in Agung, Imam Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib R.A. mengarang rangkaian doa yang kemudian diberi nama Ash Shahifah As Sajadiyyah.

Menurut saya, kelompok ketiga yang mengatakan bahwa bid’ah yang dimaksudkan dalam hadist di atas adalah segala sesuatu hal baru yang menyelisihi atau tidak bisa dikembalikan kepada Al Qur’an, Sunnah atau Ijma’. Tetapi jika hal baru tersebut masih bisa dikembalikan kepada dasar Al Qur’an, Sunnah atau Ijma’, maka hal tersebut bukan bid’ah dholalah ( bid’ah sesat ) yang dimaksudkan dalam hadist di atas Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam KULLU BID’ATIN DHOLAALAH ( Setiap bid’ah adalah sesat ). Ini lebih sesuai dengan realita dalam perjalanan sejarah Islam maupun kandungan hadist.
Hadist “Barang siapa yang membuat perkara baru dalam perkara kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak” ( H.R. Abu Dawud ) justru menguatkan bolehnya berkreasi menyusun bacaan=bacaan doa, shalawat dan kalimat-kalimat baik lainnya. Karena Hadist ini memiliki beberapa kandungan makna ( Mafhum ) sebagai berikut,
1.   Bahwa dalam hadist tersebut, ada perkara baru dalam urusan agama yang tidak berasal dari agama ( perkara yang tidak memiliki dasar baik secara umum maupun khusus ).
2.   Perkara ini tertolak perkara baru dalam urusan agama yang tidak berasal dari agama ( perkara yang tidak memiliki dasar baik secara umum maupun khusus ) ini tertolak. Point 1 dan 2 ini disebut mafhum manthuq ( pemahaman eksplisit )
3.   Secara tersirat ( implisit/mafhum ), ketika Rasulullah shallallah 3alayhi wa aalihi wa sallam menyatakan bahwa ada perkara baru dalam agama yang tidak berasal dari agama, hal ini mengisyaratkan adanya perkara baru dalam urusan agama yang berasal dari agama ( perkara yang memiliki dasar dari agama baik secara umum maupun khusus). Berbeda Jika redaksi hadist itu berbunyi, “Barang siapa yang membuat perkara baru dalam perkara kami ini, maka ia tertolak”. Jika redaksi hadist demikian, maka seluruh kreasi baru secara mutlak ditolak. Tapi nyatanya dalam hadist di atas ungkapan “Hal-hal baru dalam perkara kami” masih disifati dgn ungkapan ”yang tidak berasal darinya”. Sehingga dengan demikian, ungkapan ini mengharuskan adanya hal-hal baru yang berasal dari agama.
4.   Perkara pada poin no. 3, yaitu perkara baru dalam urusan agama yang berasal dari agama ( perkara yang memiliki dasar dari agama baik secara umum maupun khusus) tersebut secara otomatis tidak tertolak oleh cakupan hadist di atas. Karena penolakan hadist hanya pada perkara baru yang tidak ada dasarnya dari agama. Point 3 ini disebut dengan mafhum mukhalafah ( pemahaman implisit ). Inilah yang kemudian mendasari munculnya berbagai reaksi doa, shalawat atau bacaan2 lain dari para sahabat maupun tabi’in.
Karena itulah, sangat bijaksana ketika Al Imam Asy Syafi’I rahimahullah berkata, ”Setiap sesuatu yang mempunyai dasar dari dalil-dalil syara’ bukan termasuk bid’ah meskipun belum pernah dilakukan oleh salaf. Karena sikap mereka meninggalkan hal tersebut terkadang karena ada udzur yang terjadi pada saat itu, atau karena ada amaliah lain yang lebih utama atau barang kali belum diketahui oleh mereka“ ( Itqaan Shin’ah fi tahqiiqi ma’na bid’ah hal. 5 ).
Pemahaman ini pula lah yang kemudian memunculkan istilah bahasa ( bukan istilah syara’ ) bid’ah hasanah. Istilah bid’ah hasanah ini bukan berarti merupakan kontradiksi dari hadist “Kullu bid’ah dholaalah“. Karena bid’ah dalam hadist hadist “Kullu bid’ah dholaalah“ adalah bid’ah syar’I, sedangkan bid’ah hasanah yang diungkapkan oleh para huffadz merujuk pada istilah kebahasaan dengan pengertian; ”sesuatu yang tidak di lakukan/dicontohkan oleh Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam, namun berada dalam keumuman atau kekhusussan sebuah dalil“.
Sebagai contoh bid’ah hasanah, adalah penerapan Q.S. Al Baqarah 263 dan hadist Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam, “Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata yang baik atau diam“ ( H.R. Ahmad/Shahih ). Dari hadist ini, semua ucapan yang baik, baik itu bacaan Al Quran, berbagai bentuk pujian kepada Allah dan berbagai rangkaian doa. Karena itulah, maka,
1.   Sahabat Bilal r.a. melakukan sesuatu yang secara khusus tidak pernah diajarkan oleh Rasulullahshallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam, namun masih masuk dalam keumuman hadist dan ayat di atas, yaitu membaca kumpulan ayat dari surat yg berbeda-beda yang dibuatnya sendiri dan Rasulullah shallallah 3alayhi wa aalihi wa sallam berkata, Baik ( H.R. Ahmad no. 544 ). Al Hafidz Al Haitsami berkata Rijalnya terpercaya.
2.   Seorang laki-laki menambahi doa sesudah ruku yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam. Sesudah shalat, belaiu menanyakan orang tersebut dan beliau tidak membid’ahkan. Beliau justru bersabda, Aku melihat lebih 30 malaikat berebut menuliskan pahalanya (H.R. Bukhari no. 770 ).
3.   Umar bin Khatab menambahi bacaan talbiyyah haji yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam ( H.R. Bukhari 170 ).
4.   Seorang baduwi mendapatkan hadiah dari Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam karena membuat doa yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam ( bidah hasanah ) di dalam shalat ( H.R. Ath Thabrani dalam Mu’jam awssath no. 9447. Di sahihkan oleh Al Hafiidz Al haitsami dalam Majma3 Zawaid ).
5.   Ibnu Mas’ud membuat redaksi shalawat sendiri ( H.R. ibnu Majah no.906 dan diriwayatkan oleh Ibnul Qayyim dalam jalaa’ al afhaam no hal 36 dan 72 ).
6.   Utsman bin Affan menambah adzan jum’at menjadi 2 kali, suatu hal yang juga tidak pernah secara langsung diajarkan oleh Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam.
Bagaimana pendapat anda dengan para sahabat tadi, khususnya Umar bin khatab yang menambahi talbuyyah haji dan sahabat Ibnu Mas’ud yang membuat sendiri redaksi sholawat Nabi. Apakah amalan mereka bid’ah
Jika anda menganggap bahwa semua bacaan yang tidak dilakukan oleh Rasulullah Rasulullah shallallah 3alayhi wa aalihi wa sallam sebagai bid’ah, alangkah banyaknya sahabat Nabi yang melakukan bid’ah. Sayyidina Umar dan Ibnu Umar bid3ah karena menambahi talbiyah hajji, Utsman bid’ah karena menambahi adzan Jum’at, Sahabat Anas, Abdullah bin Mas’ud dan Imam Ali bid’ah karena membuat redaksi shalawat sendiri ( Mu’jam Awsath no.9448, Ibnu Majah hadist 906, Jala’ al Afhaam hal. 36 dan 72, Thabrani dalam al Awsath 9089 ). Ribuan para sahabat yang iktu perang Yamamah dengan pemahaman bid’ah kelompok kedua juga menjadi sesat karena mereka meneriakkan ucapan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam yaitu meneriakkan Yaa Muhammadah ( Duhai Muhammad ) sebagai slogan peperangan ( Ibnu Katsir, Al Bidaayah wan Nihaayah Juz VI hal. 32 ). Padahal bukankah dalam konsep Ahlussunnah Wal jama’ah para sahabat adalah manusia yang bersih dari bid’ah ?
Kita juga telah memasukkan Imam Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, seorang tabi’in yang disepakati ketsiqohannya karena mengarang doa sendiri ( lihat Al Faraj oleh Ibnu Abdi Dunya ), Imam Ja’far Ash Shadiq ( guru Imam Malik dan Abu Hanifah dan Tabiin terkemuka dari Ahlul Bayt )juga bid3ah karena membuat redaksi doa sendiri ( lihat, Abwab al Faraj ), Imam Asy Syafi’i juga bid’ah karena membuat redaksi bertawassul kepada Ahlul Bayt ( Tarikh Baghdad Juz 1 hal.133 ). Pemahaman bid’ah tentang bid’ah juga memasukkan Abu Hanifah sebagai ahli bid3ah karena menyusun redaksi tawassul ketika berziarah ke makam Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam ( lihat Fath Al Qadir dan Az Ziyaarah An nabawiyyah hal. 56 ), Imam Malik juga menjadi bid’ah karena mengajar Khalifah Al Manshur untuk berdoa menghadap makam Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam dan bertawassul kepada Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam ( Asy Syifa dgn sanad sahih ), juga telah memasukkan Imam Ahmad yang memerintahkan seseorang membaca Al Qur’an di sisi kuburan ( Ibnu Al Qayyim, Ar Ruh hal. 33 ). Kita juga memasukkan An Nawawi karena beliau menyusun Hizb Nawawi, suatu hal yang tidak pernah secara khusus diperintahkan oleh Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wasallam. Ribuan sahabat, termasuk Khulafa Rashidin, empat Imam Madzhab dan ribuan tabi’in bid’ah karena pemahaman bid’ah kelompok kedua ini. Dari sini, sudah tentu, pemahaman kelompok ketigalah yang lebih sesuai dengan jiwa hadist tentang bid’ah dan juga lebih sesuai dengan praktek para salaf shalih.
Maulid bukan sesat
Ketika kita memahami uraian di atas, maka kita tahu bahwa jika sebuah amalan masih dalam cakupan sebuah Nash, maka amalan tersebut diizinkan untuk dilakukan. Salah satu dasar peringatan Maulid adalah Q.S. Al Fathir : 3.
“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi ? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?“
Dalam ayat ini bukankah Allah memerintahkan untuk mengingat nikmat-nikmatNya ? Kalau nikmat makanan, minuman atau pakaian saja kita diperintahkan untuk mengingat, lantas bagaimana kita dilarang untuk mengingat nikmat teragung, yaitu diutusnya Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi sallam kepada kita. Dalam kaidah ilmu tafsir maupu ushul fiqh, sebuah ayat yang bersifat umum ( aam ) berlaku untuk seluruh unit-unit cakupan di bawah keumumannya, kecuali jika ada takhsis/pengkhususan. Artinya tidak ada hadist atau ayat yang menerangkan bahwa kita hanya diperintahkan untuk mengingat nikmat makanan, minuman, kesehatan dll, dan kita dilarang untuk mengingat nikmat diutusnya Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam kepada kita ? Ini sangat tidak masuk akal. Apa artinya nikmat makan, nikmat minum, nikmat mobil dibandingkan dengan nikmat diutusnya Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi sallam kepada kita.
Dasar yang lain dari peringatan Maulid adalah Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” ( Q.S. Yunus : 58 ). Ayat ini menjelaskan perintah bergembira dengan datangnya nikmat Allah. Bukankah Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi sallam juga nikmat Allah kepada kita ? Bahkan nikmat teragung. Tentu sudah sepantasnya kita bergembira karenanya.
Satu hal lagi yang perlu menjadi bahan renungan adalah bahwa Maulid Nabi shallallah ‘alayhi wa aalihi sallam hanyalah sebuah alat untuk menggiring manusia mendengarkan riwayat hidup Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi sallam. Bukan ghayah ( tujuan akhir ). Tujuan utama dari semua ini adalah agar manusia mengenal dan akhirnya mencintai Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi sallam serta meneladani beliau.
Nah, hukum alat/wasilah adalah mengikuti hukum tujuan. Al Utsaimin berkata, ”Di antara kaidah yang ditetapkan adalah bahwa perantara itu mengikuti hukum tujuan. Jadi perantara yang dari tujuan yang disyariatkan juga di syariatkan. Perantara dari tujuan yang tidak disyariatkan juga tidak disyariatkan. KARENA ITU, PEMBANGUNAN MADRASAH-MADRASAH, PENYUSUNAN ILMU PENGETAHUAN DAN KITAB-KITAB MESKIPUN BID’AH YANG BELUM PERNAH ADA PADA MASA RASULULLAH SHALLALLAH ALAYHI WA AALIHI WA SALLAM DALAM BENTUK SEPERTI INI, NAMUN ITU BUKAN TUJUAN MELAINKAN HANYA PERANTARA SEDANGKAN HUKUM PERANTARA MENGIKUTI HUKUM TUJUANNYA ( Al Ibda’ Fi Kamal Asy Syar’I ). Sebagai catatan kecil, dalam uraian ini Al Utsaimin juga menggunakan/mengakui istilah bid’ah dalam konteks kebaikan.
Para sahabat dan tabi’in tidak memerlukan seremonial Maulid karena mereka hidup pada masa terbaik dan kecintaan mereka telah memuncak pada Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi sallam. Namun kita yang hidup di zaman yang penuh hedonis ini sangat memerlukan Maulid sebagai salah satu sarana untuk memompa kecintaan kita kepada Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi sallam.
Berikut ini adalah para Huffadz yang merekomendasikan kebaikan Maulid Nabi shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam
1.   Imamul Qurra Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya Urif bitta rif Maulidissyariif
2.   Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy
3.   Imam Al Fafidh Ibn Abidin rahimahullah dalam bukunya, Syarahnya Maulid Ibn Hajar.
4.   Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
5.   dengan karangan maulidnya yg terkenal Al Aruusâ
6.   Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148
7.   Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad yang terkenal dengan Ibn Dihyah Al Kalbi dengan karangan maulidnya yang bernama Attanwir fi Maulid Al basyir an nadzir.
8.   Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri dengan maulidnya urfu at ta rif bi maulid assyarif.
9.   Imam al Hafidh Ibn Katsir yg karangan kitab maulidnya dikenal dengan nama : Maulid ibn katsir.
10.       Imam Al Hafidh Al Iraqy dengan Maulidnya Maurid Al Hana Fi Maulid Asana.
11.       Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy telah mengarang beberapa maulid : Jaamiâ Al Astar Fi Maulid Nabi Al Mukhtar 3 jilid,
12.       Imam As Syakhawiy dengan Maulidnya Al Fajr al Ulwi fi Maulid an Nabawi.
Sebagai kata penutup, maka izinkan saya menyampaikan bahwa perayaan Maulid pernah selama ratusan tahun menjadi amalan ummat Islam seluruh dunia, mulai Maroko hingga Papua. Mulai Cechnya di ujung utara hingga Yaman di ujung selatan. Dan ini dengan rekomendasi seluruh ulama pada masa itu, baik muhadditsin, mufassirin, fuqaha dll, baik kalangan awam maupun ulama. Jika di katakan bahwa jumlah bukan ukuran, maka pendapat ini adalah pendapat mereka yang menyimpang dari kebenaran. Ketika masing-masing pihak “merasa” memiliki hujjah dari Al Qur’an dan Sunnah, maka jumlah lah yang menjadi pedoman berikutnya. Bukankah “Sesungguhnya ummatku tidak akan sepakat dalam kesesatan. Dan jika kalian melihat perselisihan, maka berpeganglah dengan golongan yang terbesar“ ( H.R. Ibnu Majah ). Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam berabda, “Ikutilah kelompok terbesar“ ( H.R. At Turmudzi ). Jika jumlah bukan ukuran kebenaran, lalu apa maksud hadist tersebut ? Bahkan sebagaimana pendapat para ahli ushul, andaikan kita tidak menemukan dalil pun, berdasarkan hadist di atas, jika kita melihat kesepakatan para ulama, maka itu sudah cukup untuk menjadi hujjah tanpa memerlukan memeriksa dasar-dasar lebih lanjut. Demikian ulasan saya tentang Maulid Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam. Jika ada kekurangan mohon teguran dan saran. Jika ada kebaikan, semua dari Allah semata.
Wallahu A’lam bish showaab. Wa Shollallah ‘ala Sayyidinaa Muhammadin wa alaa aalihi wa shohbihi wa sallam. walhamdu liLlaahi Robbi alamien.