Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Tadabbur Qur'an : Beriman Tanpa Data Empiris, Meyakini mutlak kebenaran Al-Quran .





(Edisi Tadabur Quran Al-Furqan ayat 40 – 44)

Assalamualaikum Wr Wb

Alhamdulilahi rabbil ‘alamin, Wassholatu wassalamu ‘alaa asyrofil anbiyaai wal mursalin. Sayyidina wa maulana Muhammadin,Wa ‘alaa ‘alihi wa shohbihi ajmain.

Hadirin, Hadirat, Jamaah kuliah duha Masjid Raya Pondok Indah yang saya muliakan.

Kita bersyukur pada pagi ini kita diberikan kesabaran dari Allah, dan ini merupakan anugrah yang terbesar dikarenakan kita di berikan kesabaran. Jika iman ini memiliki bagian, maka separuhnya adalah kesabaran.

Kata Nabi disampaikan pada hadist Al-Baihaqi, didalam kitabnyaSyu'abul Iman, sahabat Anas bin Maliq meriwayatkan bahwasanya iman ini memiliki 2 bagian, yang pertama ialah nisfu sobrin, dan separuhnya adalah nifsu syukrin.Pada pagi hari inikita sudah mengekspresikan betapa sabarnya kita.
Pada pagi hari ini saya diamanahkan untuk membacakan beberapa ayat dari surat Al-Furqan, kita mulakan dari ayat 40.

 Dan sesungguhnya mereka (kaum musyrik Mekah) telah melalui sebuah negeri (Sadum) yang (dulu) dihujani dengan hujan yang sejelek-jeleknya (hujan batu). Maka apakah mereka tidak menyaksikan runtuhan itu, bahkan adalah mereka itu tidak mengharapkan akan kebangkitan.(QS Al-Furqan : 40)

Bapak ibu yang dihormati Allah SWT, ayat 40 berbicara tentang orang Quraisy. Ditengah kehebatan mereka untuk mendapatkan suatu hujjah, mereka tetap tidak beriman pada Allah. Orang Quraisy pada zaman dahulu  dikenal sebagai sebuah bangsa yang memiliki kekuatan mengembara. Salah satu diantara tempat yang sudah mereka kunjungi adalha kampung yang telah Allah SWT adzab dengan hujan batu.

Dalam Al-Quran hujan disebut sebagai anugrah, dengan rahmat, dengan berkah. Tapi rupa rupanya ada hujan yang memiliki makna berbalik dengan itu semua. Para ulama tafsir sering menyebut kampung ini dengan Sadum, atau kita menyebutnya sebagai Sodom. Mendengar istilah ini kita sudah tau mengapa Allah mengadzabnya menggunakan batu, mereka di adzab karena perilaku mereka yang melewati batas kewajaran dan malawah fitrah dari Allah.



Bapak bapak yang saya muliakan.

Ada orang yang sudah mendapatkan bukti tapi masih saja belum beriman. Ini Namanya keterlaluan. Kalua seseorang itu ingin percaya pada Tuhan selepas mendapatkan bukti dan hujjah, itu bagus, keimanannya berdasarkan keilmuan. Tapi ada yang lebih bagus lagi kalau orang itu memiliki keimanan tanpa  harus mendapatkan data yang empiris, karena dia sudah terlalu yakin bahwasanya yang ada di dalam Al-Quran itu sudah mutlak benar.
Jadi contoh keimanan yang paling tinggi itu setingkat Abu Bakar. Ketika dia sudah tahu bagaimana backgroundnya Muhammad , maka apapun yang dibawa Muhammad, Abu bakar percaya walau yang terjadi itu diluar logikanya.

Dilevel dibawahnya, ada keimanan yang harus mendapatkan data untuk mendapatkan keimanan yang kuat. Pada level sahabat ialah Umar bin Khattab. Umar dahulu begitu benci pada Nabi, namun setelah mendengar adiknya membacakan ayat Al-Quran maka dia langsung beriman pada Allah.

Ketika Nabi wafat, semua orang syok, dan Umar mengatakan “siapa yang mengatakan Nabi telah wafat?” sambil menghunuskan pedangnya. Akan tetapi Abu Bakar meredakan suasana dengan mengatakan “Barang siapa yang Islam dan beribadah karna Muhammad ketahuilah Muhammad telah wafat, tetapi barang siapa yang menyembah Allah maka Allah maha hidup dan tidak akan mati ”. Abu Bakar berkata “Padahal ayat ini sering saya baca, tetapi seakan akan ayat ini baru saja turun”.
Jadi ada orang yang karakternnya seperti itu, kalua ada orang yang mendebat kita tentang suatu persoalan, maka kiat harus santai meresponnya, jangan dibalas dengan data yang hoax, tapi harus kendalikan diri, dan suguhkan data yang valid agar harapannya orang itu bisa menerima.
Pelajaran yang kita ambil disini adalah jika kita ingin menyelesaikan sebuah masalah maka kita harus memiliki iman yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang berada dalam masalah. Jika tidak kita akan menjadi masalah baru lagi.

Level ketiga dibawahnya ada orang yang beriman, dia tidak perlu datang, tapi dia ikut ikutan. Ini baik juga. Dan yang paling parah ada orang yang sudah dikasih bukti tapi masih tidak percaya, dan inilah orang Quraisy. Allah berkata, sungguh aneh orang Quraisy itu, bukankah dia dulu sudah sering melewati tempat - tempat yang dulu sudah ditenggelamkan oleh Allah karna mereka tidak mau nurut pada Allah, bukankah kamu sudah pergi ke Yordan, bukankah kamu sudah pergi ke Yaman. Orang Quraisy ini dulu sering pergi ketempat - tempat itu, tapi kenapa mereka masih tidak nurut dengan Nabi Muhammad SAW.

Sudah jelas jelas Nabi yang sekarang ini mereka tolak dan mereka kafiri adalah orang yang sama dengan yang dulu pernah disebut sebagai Al-Amin.
Jadi Muhammad yang sekarang mereka musuhi, ternyata orang yang sama dengan yang selama 40 tahun dianggap sebagai pemuda hebat, jujur, punya intregitas, punya amanah, dan kapabilitas. Tapi rupanya setelah Allah meminta Muhammad untuk berdakwah secara terang - terangan, orang yang mereka dulu jempolin tiba - tiba mereka musuhi. Permasalahannya bukan karena mereka tidak percaya, bukan mereka tidak yakin dengan apa yang dibawa oleh Muhammad. Permasalahnya karena mereka tidak mau ada hari pembalasan.

Orang kalo udah terlalu nakal , memang gak mau audit. Makanya dalam surat An-Naba’ dikatakan bahwa mereka itu tidak mau ada audit, karna mereka tau kalo mereka ada audit maka dirinya akan gagal. Bagaimana tidak, Abu Lahab dan Abu Jahal kriminal apa yang mereka tidak pernah lakukan? Mereka tidak mampu mengendalikan jiwanya

Ust. Chorin bersama moderator, Deni Darmawan


Bapak bapak yang saya muliakan.

Orang yang tidak Bersama kita ini ada dua : pendosa dan pendurhaka
Didalam surat Al-Insan Allah katakan, orang yang ada bersama kita ini gak usah diomongin, karena sudah jelas arahnya, tapi orang yang tidak bersama kita, ini Allah kasih info ada dua golongan besar dan kita tidak boleh taati. Yang pertama ini bisa jadi hajatnya sama tapi mereka berbuat dosa artinya lalai. Yang kedua orang yang pendurhaka, mereka yang tidak bersyahadat.
Dan apabila mereka melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan): "Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul? (QS Al-Furqan : 41)

Karena  prinsipnya mereka gak mau nerima Nabi, gak mau percaya dengan adanya akhirat, maka ketika berjumpa dengan Nabi isinya adalah penghinaan. Makanya saya ingin bilang, era yang sekarang kita hidup memiliki unsur - unsur kaya gini. Ini bukan barang baru. Sejak Nabi dulu sudah dihina, justru dengan adaan hinaan seperti itu kita jadikan sebagai introspeksi.

Orang yang menjalankan, dan meneruskan syariat Nabi, pasti mereka akan mendapatkan hinaan, dan seharusnya ejekan itu membuat mereka merasa layak untuk menerimanya, karena Nabi yang begitu baiknya saja di hina, apalagi kita. Jika kita ingin merespon maka kita harus meresponnya dengan cara yang bijak, dan dengan cara yang terkontrol.

Jadi bapak ibu sekalian, begitulah perilaku orang kafir, ketika dulu mereka suku Quraisy memutuskan untuk tidak melanjutkan ajaran Isa, dan sepakat untuk menggutusan yang membawa ajaran yang benar. Ketika mereka sudah memuji - muji Rasul pada masa mudanya, lalu ketika Rasul berdakwah terang – terangan, mereka langsung menolaknya hanya karena mereka tidak menerima apa yang dibawakan oleh Muhammad.

Allah ketika berbicara orang kafir itu begitu clear, kalo bicara tentang soal Islam Allah lebih detail. Contohnya dalam Al-Bayyinah, dikatakan bahwa orang kafir digolongkan menjadi dua, yaitu ahlul kitab, dan yang kedua adalah  musyrikin. Ahlulkitab itu adalah agama langit, yaitu Islam, Yahudi, dan Nasrani. Selepas Islam hadir yang dimaksud disini ialah Yahudi dan Nasrani. Yang kedua adalah musyrikin, penyembah mahluk. Dalam konteks jaman Nabi ialah orang Quraisy itu, yang menyebah Lata dan Uza, dalam konteks kekinian banyak sebutannya, ada Budha, ada Hindu, ada Konghucu dan sebagainya.

Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita, seandainya kita tidak sabar (menyembah) nya" Dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalannya.(QS Al-Furqan : 42)

Secara tidak langsung orang Quraisy itu mengakui kehebatan Muhammad dan Al-Quran. Makanya mereka bilang hampir-hampir mereka menyesatkan kami dengan Tuhan kami. Maksudnya disini mereka hampir terbawa oleh ajaran Nabi.

Cara orang Quraisy dari zaman dulu sampai sekarang untuk bertahan ialah mengupayakan agar Al-Quran ini tidak diakses oleh pemeluknya. Makanya kalau bisa teminologi kafir dan jihad itu dihapuskan, supaya kita tidak bisa memiliki akses yang baik dengan Tuhan.

Dalam ayat ini ditunjukan bahwa lagi - lagi ada orang yang tidak berhenti dari kekafirannya sebelum melihat adzab. Dikatakan dalam akhir ayat bahwa nanti akan datang kepada mereka adzab di akhirat nanti. Karena penggunaan kata saufa yang memiliki arti akan dengan jangka waktu yang panjang, yang dimaksud disini ialah akhirat.

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?(QS Al-Furqan : 43)

Hawa nafsu adalah sesuatu yang dianggap oleh jiwa orang itu baik. Sesungguhnya kalau baik itu tidak perlu dianggap anggap baik. Sesuatu yang baik itu walaupun dianggap orang itu buruk, pasti akan tetap baik. Di akhir zaman ini banyak orang yang tersesat, karena jarak yang baik dan yang buruk itu tipis. Orang yang tidak memiliki literasi yang kuat, background keagamaannya memang mudah kena. Ada orang jahil tapi orangnya bener, ada yang pendidikan bagus tapi kok omongannya begitu. Begitu kabur, garis mana baik dan mana buruk.

Sekarang apabila bapak di peringati oleh istrinya, ada dari  bapak sekalian tidak terima dengan ucapan istrinya. Ibu - ibu juga jika diberitau oleh anaknya juga ada yang tidak menerimanya. Makanya Allah SWT mengatakan, bahwa orang yang mendapatkan surganya ialah orang yang takut sama Allah dan mampu menahan hawa nafsunya.

Orang kalo saking pinternya gak pernah mendengarkan nasehat dari orang lain. Jika dalam satu hari orang tersebut mengeluarkan 6 nasihat, dan dia tidak dengerin nasihat, ini juga berpotensi menjadikan hawa nafsunya, ilmunya, ketokohannya, menjadi Tuhan. Kalau kita tidak membiarkan hati mendengarkan nasihat oranglain, maka nanti hati ini akan menjadi Tuhan.

Makanya jika ada sebuah permasalahan sampai menyebabkan sengketa, permasalahan tersebut bukan hanya ada di pikiran, melainkan sudah sampai ktingkat hati. Jika kita lihat 4 mazhab itu selalu berbeda pendapat, akan tetapi mereka tidak pernah bertikai, tetapi kita malah bertikai dengan mazhab tersebut. Hal ini menunjukan bahwa keilmuannya itu belum sampai seperti ulama mazhab - mazhab itu, atau hatinya tidak pernah diberisihin. Imam syafii itu orang hebat, dia itu menggunakan 1/3 malam nya untuk bersih bersih (ibadah), 1/3 malamnya untuk tidur, dan 1/3 malam lainya untuk menulis, makanya hatinya selalu bersih.

Hawa nafsu yang menjadi Tuhan paling bahaya adalah kalo orang itu berilmu, karena efeknya besar. Oleh karena itu Allah menyuruh kita untuk memiliki literasi yang mendalam, agar kita tidak salah menjadikan orang sebagai pegangan.

 “Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).(QS Al-Furqan : 44)

Jadi yang kita sebutkan barusan, Allah menyebut mereka dengan sebutan hewan ternak. Bahkan lebih sesat jalannya. Sebusuk - busuknya orang beriman, Allah masih menjanjikan surga pada orang beriman, tetapi tidak untuk mereka. Setelah Allah hajar mereka dengan ciri - ciri yang sudah ditunjukan pada kita, kemudia status mereka, kemudian Allah mengatakan “Alam tara kaifa” dan seterusnya dalam surat Al-Fil.

Demikian yang bisa saya sampaikan, saya berharap kita ini semakin mengaji, makin sering mendatangi sharing ilmu, inshallah kita akan menjadi pribadi yang semakin memiliki maghfirah sesama orang Islam. Allah ketika orang yang takut sama Allah, tidak langsung diberikan surga, tetapi diberikan ampunan terlebih dahulu. Sebab bisa jadi orang yang memiliki keimanan tersebut punya masalah, dan pasti kita semua punya masalah. Jadi jika kita masuk surga memang karna kita sudah diampuni oleh Allah. Jadi, jika orang itu salah sama kita, kita harus mencari 999 alasan untuk memaafkannya, inshallah Allah memberikan ampunan

Assalamualaikum Wr Wb


Penulis : Bayu Aji Firmansyah
Editor : Deni Darmawan

Tadabbur Qur’an : Al-Qur’an Membentuk Umat Terbaik



Pembahasan Al-Furqon (25) ayat 31-39


Surat Al-Furqon, kandungannya sama dengan nama suratnya. Dimana surat ini diberi nama Al-Furqon yang artinya pembeda. Pembeda antara hak dan batil. Pembeda antara halal dan haram. Pembeda mu’jizat aqliyah dan mu’jizat salbiyyah.  Dimana mukjizatnya para nabi, biasanya fisik, seperti tongkat, dibakar, berbeda dengan mukjizat Nabi Muhammad SAW yang bernama Al-Quran, bersifat aqli. juga pembeda anata risalah Al ‘aliyah , dan risalah Al-Haliyah.

Quran isinya adalah global, sementara Nabi-Nabi terdahulu isinya adalah lokal. Nabi Musa Alaihi Salam diutus untuk kaumnya saja, Nabi Isa untuk kaumnya saja, tetapi Nabi Muhammad SAW Bersama Qurannya diutus untuk dunia.

Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong. (Al-Furqan 31)

Hubungannya dengan surat Al furqan ayat 31 adalah :
Tentang sunataullah
adalah sunatullah,ketentuan Allah, bahwa tidak ada Rasul, tidak ada Nabi diutus untuk Allah kecuali diperangi oleh orang orang yang berdosa. Siapapun yang mengikuti jalannya Nabi , jalannya Rasul, pasti diperangi oleh orang orang yang berdosa.

Jadi bapak ibu sekalian, sekedar mengingatkan, menurut para ulama, menafsirkan Al-Quran paling baik adalah menggunakan Al-Quran.

Nabi itu adalah orang yang disayang Allah, tapi mengapa banyak musuh? Bahkan dalam ayat lain dikatakan bahwa musuhnya adalah syaitan manusia, dan syaitan syaitan jin. Jadi yang dimaksud para pembuat dosa diatas siapa? Ternyata bukan manusia saja, tapi syaitan, dan jin.


Jamaah MPAP khusyu mendengarkan penjelasan yang diberikan


Apa hikmatnya Allah mengadakan para mujrimin atau para pembuat dosa bagi setiap nabi?

Agar kita tau dan jelas, perbedaan antara  dakwah yang benar, dan dakwah yang bohong, orang yang benar benar jujur berjuang karna Allah, atau hanya sekedar dunia. Apabila pendakwah itu hidupnya mulus mulus saja, punya rumah mewah, mobil mewah, dan istri banyak, apakah semua mau menjadi pendakwah? Tapi apakah jika pendakwah itu hidupnya penuh dengan tuduhan dan penuh dengan cobaan, kira-kira yang berdakwah akan semuanya atau hanya sebagian? Itulah sebabnya setiap Nabi dan Rasul dana pengikutnya ketika berdakwah pasti ada musuhnya (minal mujrimin).

Lalu apakah setelah Nabi dan Rasul sudah wafat, dan para penerusnya yang melanjutkan dakwah mengalami begitu banyak halangan  Allah akan membiarkan saja? Dijawab oleh Allah dalam akhir surat Al-Furqan ayat 31 :

Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong..
Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).  (Alfurqan 32)


Hikmatullah di dalam menurunkan Al-Quran secara berangsur angsur.

Allah SWT mampu tidak menurunkan Al-Quran dari langit ke bumi sekaligus? Tapi mengapa diturunkan berangsur angsur? Bapak ibu sekalian orang kafir mempertanyakan Quran tidak diturunkan sekaligus?

Sekarang mari kita berpikir. Seandainya Al-Quran diturunkan sekaligus ke dunia, apakah orang kafir akan beriman atau akan tetap kafir? Lalu apa tujuan orang kafir mengkritisi hal tersebut? Apakah hanya sekedar mengkritisi atau meminta dituruti diturunkan secara bersamaan?  Ini merupakan pelajaran bahwa tidak semua permintaan orang kafir harus dituruti. Ini persis di awal awal surat Al-Furqan, orang kafir minta bahwa rasul itu dari kalangan malaikat, bukan dari golongan manusia. Mereka berfikir bahwa rasul yang dari golongan manusia juga mencari makan seperti manusia lainnya.

Kenapa Al-Quran diturunkan berangsur angsur, padahal jika Allah turunkan Quran sekaligus, Allah kabulkan.
Karena Al-Quran diturunkan di dunia ini, bukan hanya sekedar untuk bacaan, bukan sekedar untuk pemahaman, tetapi Al-Quran diturunkan untuk membentuk masyarakat, untuk membentuk undang undang aturan, untuk membentuk umat yang kuat, bukan hanya sekedar umat, tetapi umat yang terbaik.

Untuk melahirkan si jabang bayi, kita membutuhkan watu 9 bulan mengandung. Sekarang jika kita ingin membentuk umat, apakah cukup Al-Quran diturunkan sehari semalam? Harus bertahap, dan


Al-Quran merupakan intruksi harian

Apabila Al-Quran diturunkan dalam semalam, manusia juga tidak akan mampu melaksanakan semua aturan aturan yang diberikan, oleh karena itu perlu diturunkan secara berangsur angsur.
Sekarang kita bisa melihat bahwa banyak diantara kita yang  tidak membaca Al-Quran setiap hari, dan banyak juga yang sudah membaca Al-Quran tapi hanya membaca surat yasin saja. namun yang kedua itu lebih baik. Cuman alangkah lebih baik jika diamalkan. Jika Allah saja menurunkan Al-Quran sudah berangsur angsur dan masih banyak diantara kita yang tidak mengamalkan, apalagi jika Al-Quran diturunkan secara bersamaan. Karena Al-Quran itu diturunkan berdasarkan keperluan atas kejadian yang terjadi di muka bumi ini.

Tema besar dari surat Al-Furqan adalah peperangan dari yang hak dan batil, dimana nabi dan rasul dimana pun setiap saat selalu mendapatkan respon yang positif dan respon negatif, apakah kita sebagai penerusnya yang sudah mengetahui hal tersebut akan diam saja, atau kita akan didiamkan oleh Allah?

Ternyata tidak. Allah memberikan jaminan, Allah selalu Bersama orang yang berdakwah, Allah memberikan jaminan untuk menentramkan hati Nabi Muhammad SAW ketika orang kafir itu selalu bertingkah.

Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya. (AL-Furqan: 33)

Allah SWT selalu membekali Nabi Muhammad SAW dengan argumentasi yang kuat, artinya adalah pengikutnya (muslimin) ketika kita menggunakan Al-Quran dan  Al-Hadist untuk berperang, maka kita tidak akan pernah kalah dengan orang kafir dalam berargumentasi. Contohnya, orang Islam ketika berjihad, dikatakan sebagai teroris, sedangkan para kafir menjajah negara negara islam, tidak ada yang mengatakan bahwa mereka adalah teroris. Sedangkan jika kita melihat sejarah, dari zaman Nabi, umat Islam tidak pernah menjadikan daerah kekuasaannya sebagai daerah jajahan. Umat Islam membangun Eropa, membangun Iran, membangun Mesir. Itulah perbedaannya dengan orang kafir, orang kafir menjajah, memperbudak daerah jajahannya. Ketika umat Islam berjihad, mereka membawa hidayah Allah, membawa rahmat, membangun daerahnya.

Jadi ketika kita menggunakan Al-Quran dan Al-Hadist ketika berargumen, kita tidak akan kalah, tapi banyak dari umat muslim tidak menggunakanya, sehingga ketika umat muslim di tuduh , selalu tidak bisa menjawab.

Orang-orang yang dihimpunkan ke neraka Jahannam dengan diseret atas muka-muka mereka, mereka itulah orang yang paling buruk tempatnya dan paling sesat jalannya. (Al-Furqan : 34)

kita diberikan pelajaran oleh Allah dengan ditayangkannya nanti diakhirat, orang orang musyrik itu di seret sebagai balasan didunia menghinakan Islam dan ulama ulama Islam. Maka balasan nya muka mereka akan di seret diakhirat nanti. Kenapa yang disebut muka, bukannya kaki atau bagian tubuh lain, padahal sama sama sakit? Karena hal tersebut lebih hina, mereka diseret ke dalam neraka jahannam yang merupakan tempat yang terhina.

Salah satu jamaah yang bertanya dalam sesi tanya jawab


Kisah Allah tentang kaum kaum yang mendustakan ajaran Allah.

Dan sesungguhnya kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa dan Kami telah menjadikan Harun saudaranya, menyertai dia sebagai wazir (pembantu). (Al-Furqan: 35)
Kemudian Kami berfirman kepada keduanya: "Pergilah kamu berdua kepada kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami". Maka Kami membinasakan mereka sehancur-hancurnya. (Al-Furqan : 36)
35 dan 36 kaum Nabi Musa dan Harun .
Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul. Kami tenggelamkan mereka dan kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih; (Al-Furqan: 37)
Siapapun pemeluk agama apapun, semua tahu kisah topan dan banjir yang menenggelamkan kaum nabi Nuh. Bahkan anak beliau sendiri, tidak selamat. Ini penting karena sekarang masih ada orang yang kurang paham, seolah olah anak orang baik pasti baik. Mana ada didunia kedudukan yagn lebih tinggi dari Nabi. Kita menghormati ustad, kita menghormati kiyai, tapi tidak otomatis anak ustad anak kiyai pasti baik. DIbuktikan dari kisah tersebut, bahwa ukuran kebenaran buakan dari keturunan, ukuran kebenaran ialah ketika mengikuti ajaran Allah SWT.
dan (Kami binasakan) kaum 'Aad dan Tsamud dan penduduk Rass dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum-kaum tersebut.(Al-Furqan: 38)
Dan Kami jadikan bagi masing-masing mereka perumpamaan dan masing-masing mereka itu benar benar telah Kami binasakan dengan sehancur-hancurnya. (Al-Furqan : 39)

Kita diajak jalan jalan oleh Allah untuk menyaksikan dari akhir perjalan orang orang yang mendustakan ajaran Allah, dari kaum apa saja sepanjang masa. Tujuannya adalah untuk kita umat manusia mengambil pelajaran, tidak ada bangsa, yang menentang ajaran Allah yang kecuali pasti diadzab oleh Allah dunia dan akhirat. Walaupun bangsa yang dahulunya diturunkan oleh mereka seorang Nabi, atau bangsa apapun yang mengaku Islam tetapi mendustakan Quran dan sunnah, pasti akan di azab oleh Allah.

Mendustakan ajaran Allah, siapapun orangnya, pemeluk agama manapun, ketika mendustakan ajaran Allah, pasti akan dihancurkan oleh Allah.

Kenapa ceritanya kok pendek pendek, padahal kalau kita lihat kisah Nabi Musa sampai berhalaman halaman, padahal pada surat Toha dan Al-Baqarah diceritakan panjang, tapi kok ini hanya satu ayat? Karena kisah ini, tujuannya bukan mengurangkan detail detail dari kisahnya, tetapi yang ingin ditekankan oleh Allah, bangsa manapun, umat siapapun, yang mendustakan agama Allah, pasti akan mendapatkan adzab dunia dan akhirat yang akan menghancurkannya.

Penulis : Bayu Aji Firmansyah
Editor : Deni Darmawan




Tadabbur Qur'an : Ayat Kauniyah Bernilai Ilmiah Dan Saintifik Yang Tinggi






Bismillahirrohmaanirrohiim
Assalamualaikum Wr. Wb

Bapak-bapak, ibu-ibu seluruh jamaah MPAP (majelis pengajian ahad pagi) Masjid Raya Pondok Indah yang dirahmati oleh Allah SWT.

Allhamdulillah kita selalu bersyukur, tidak pernah kita berhenti memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, karena Allah tidak pernah berhenti menganugerahkan nikmatnya dan karunianya kepada kita semua. Sholawat serta salam juga kita panjatkan pada nabi Muhammad SAW. Mudah mudahan kita juga tidak pernah berhenti berusaha mengagungkan, memuliakan, mengamalkan semua sunnah – sunnahnya, sehingga kita termasuk dalam umatnya yang mendapat syafaat di yaumil akhirat.

Surat yang akan kita bahas adalah surat Al-Furqan ayat 53.

Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi. (QS Al-Furqan : 53)

Ayat ayat Kauniyah yang bernilai ilmiah, memiliki nilai saintifik yang tinggi.

Ayat ini memiliki nilai saintifik, punya nilai ilmiah yang tinggi. Ayat ini juga termasuk dalam ayat kauniyah, tapi dia juga memiliki nilai ilmiah. Subahanallah.

Kekuasaan Allah menciptakan air dengan 2 rasa, tawar dan asin.

Allah jadikan dua laut berdampingan memiliki rasa tawar dan asin. Kalau semuanya asin maka ga bisa kita manfaatin sepenuhnya, kalau semuanya tawar kita juga butuh air yang asin. Kita butuh air tawar untuk kita konsumsi, tapi tidak mungkin kita mendapat ikan yang banyak dengan air tawar. Yakinlah bahwa ini adalah ayat kauniyah Allah, yang Allah sengaja bedakan rasanya karna keduanya untuk manfaat.

Air tawar itu biasanya didapatkan dari sumur dan sungai, tapi kali ini air tawar ada di tengah laut. Sehingga, inilah dalam pandangan para ulama, ayat kauniyah semata mata tujuan utamanya disamping analisis kehidupan oleh para ilmuan, tapi yang paling inti tujuannya adalah semakin mengagungkan Allah, semakin mengakui ketangguhan Allah. Semakin banyak kita menggali ayat – ayat kauniyah Allah, semakin kita mendapatkan banyak tanda – tanda kebesaaran Allah.

Jamaah MPAP sedang menyimak penjelasan nara sumber



Pola Tafsir Al-Qur’an, mengaitkan ayat dengan ayat yang lain dan dicari kesamaannya pada Hadist

Ayat ini sama seperti surat An-Naml ayat 61, dan surat Ar-Rahman ayat 19 -20. Ini berarti polanya selalu mengkaitkan tafsir Al-Quran dengan Al-Quran. Ada ayat yang berbicara suatu hal, makadi cari di surat yang membicarakan hal yang sama. Laut ini Allah izinkan bersatu, Allah izinkan bertemu, tapi subahanallah rasanya berbeda. Seringkali ini dikaitkan dengan fenomena laut mediterania, laut atlantic dan lau tengah, subahanallah secara ilmiah sudah dibuktikan bahwa kedua laut itu ada batas ditengahnya dan tidak bisa bercampur. Ini analisis ilmiah saintifik. Tetapi kalau para ulama analisisnya adalah semata mata untuk tauhid. Ini merupakan dua pandangan yang saling melengkapi. Analisis ilmiah ini membuat keyakinan kita kepada Allah, karena kita membaca ayat- ayat Allah dalam rangka menguatkan iman.

Bapak ibu, kita membaca Al-Quran sekarang untuk konsumsi ilmu atau konsumsi Aqidah? Untuk ilmiah atau untuk hati?

Apapun itu tujuannya adalah untuk menguatkan keyakinan pada Allah dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Bahkan Allah berfirman:

Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.QS An-Naml : 61)

Allah bertanya apakah ada tuhan tuhan Bersama Allah, yang menciptakan sungai, gunung, dan lautan yang terbelah dua itu? Apakah ada tuhan tuhan disamping Allah yang bisa menciptakan tersebut? Itu pertanyaan Aqidah, karnanya ayat ini diperkuat dengan Ar-Rahman kemudia diperkuat dengan surat An-Naml. Ayat ayat ini memiliki keilmuan yang sangat tinggi, tetapi juga memiliki nuansa keagamaan yang begitu tinggi juga, sehingga para ilmuan mulai menggali ayat- ayat kauniyah Allah SWT. Imam Ibnu Katsir  memiliki kebiasaan mempertemukan sabda Nabi dengan firman – firman Allah. Ini bagus, metode penafsiran Al-Quran menggunakan Al-Quran dan dicari kesamaannya pada Hadist.

Salah satu jamaah MPAP yang sedang bertanya



Air laut itu suci mensucikan, semua yang ada di dalam laut, bangkainya halal.

Bapak ibu sekalian, ada berapa air yang suci dan mensucikan? Ada air sumur,  sungai , embun, hujan, danau, air laut. Dari 6 jenis air itu yang asin hanyalah air laut. Makanya dispesifikasi oleh Rasul. Makanya dikatakan bahwa air laut, airnya itu suci, dan boleh digunakan untuk bersuci. Yang paling hebat adalah semua yang ada didalam laut, meskipun menjadi bangkai, tetap nilainya halal. Padahal tidak di sembelih. Ikan itu ga perlu di sembelih, bangkainya aja halal. Inilah keagungan dari ayat 53. Ada sisi ilmiahnya dan ada sisi Aqidahnya. intinya analisis saintifik kegunaannya untuk menguatkan Aqidah, karnanya hasil-hasil penemuan yang bertentangan dengan Aqidah itu merupakan hasil penemuan yang tidak diterima.


Kecintaan sahabat terhadap surat Al-Ikhlas menyebabkannya masuk Surga

Ini ada kaitannya dengan ilmu tafsir, dalam memahami ayat yang diawali dengan kaya Qul, dan diawali dengan kata huwa, maka ayat itu bicara tentang tauhidullah. Bicara untuk mengagungkan Allah, untuk menampilkan kekuasaan Allah.

Ada kisah yang menceritakan tentang sahabat Rasul yang selalu membaca surat Al-Ikhlas dalam setiap rakaat sholatnya. Sahabat lainnya bertanya pada beliau dan mengatakan alasannya selalu membaca surat tersebut karena beliau begitu mencintai surat tersebut. Kemudian Nabi menjawab “kecintaanmu pada surat itu membuat kamu masuk surga”. Subahanallah. Tapi sahabat tersebut pasti hafal 30 juz, bukan seperti kita yang hafal juz 30.

Hakikat dan fitrah manusia

Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa. (QS Al-Furqan : 4)

Ayat ini merupakan hakikat dan fitrah manusia. Hakikat manusia yang pertama ialah diciptakan dari air. Ini tidak bisa dibantahkan manusia tercipta dari air mani. Banyak ayat ayat lain yang mengatakan bahwa air yang dimaksud merupakan air mani yang terpancar. Ini kalo ayatnya ditafsirkan dengan salah, orang bisa macem macem mengartikannya. Manusia kok diciptakan dari air, bukannya kita dicipakan dari tanah. Nabi Adam memang diciptakan dari tanah, tapi setelah adam tercipta karena ada proses reproduksi, yang kemudian air yang dimaksud bukan dari yang lain, bukan dari air laut, bukan dari air sungai.

Subahanallah itulah pentingnya menafsirkan ayat satu menggunakan ayat  yang lainnya sehingga menjadi objektif. Karena jika hanya diambil dari satu ayat, akan salah penafsirannya, ayat adalah satu kesatuan.

Hakikat manusia yang kedua disini adalah manusia akan memiliki keturunan dan keluarga dari perbesanan. Kita bisa memperbanyak keturunan dari kelahiran, tapi Allah ada yang mentakdirkan manusia tidak berketurunan. Ini dijelaskan dalam surat As-Syura, ada yang Allah jadikan tidak punya anak, tapi dia bisa punya keluarga karena ini merupakan hakekat yang tidak terbantahkan.

Lalu bagaimana caranya? Melalui perbesanan.

Berkeluarga ini berarti kita memiliki banyak orang untuk menambah koleksi pahala kita. Bapak ibu, punya anak satu, peluang pahalanya satu, punya naka dua peluang usahanya 2, begitu seterusnya. Allah kasih kita harta yang banyak berarti kita ditakdirkan untuk memiliki peluang pahala yang banyak juga. Di ayat lain dikatakan bahwa anak dan harta kita merupakan ujian kita, tapi bagi Allah ujian itulah peluang pahala bagi kita.



Standarisasi pahala itu ada 3, semakin berat, semakin sulit, pahalanya pasti lebih besar disisi Allah. Yang kedua ialah pengaruhnya banyak atau engga, kalau pengaruhnya dikit ya pahalanya juga dikit.Yang ketiga ialah manfaatnya, semakin bermanfaat, maka semakin besar pahala yang didapat. Makanya shodaqoh  jariyah pahalanya besar karena manfaatnya untuk kepentingan yang lebih besar.

Inilah hakekat dan fitrah manusia dari ayat 54. Berikutnya Allah berfirman :

Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak memberi manfaat kepada mereka dan tidak (pula) memberi mudharat kepada mereka. Adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya.”(QS Al-Furqan : 55)

Aneh tapi nyata

Mereka mengabdi, menyembah, tapi kok tidak memberi manfaat bagi keduanya. Ketika Nabi Ibrahim bertanya pada ayahnya, mengapa menyembah yang tidak bisa dengar, tidak bisa melihat, tidak bisa ngasih apa apa. Lalu ayahnya langsung marah karena tidak bisa menjawab. Nabi Ibrahim mendoakan agar ayahnya diberikan petunjuk, lalu langsung turun ayat yang melarang mendoakan orang tuanya karena orangtuanya masih musyrik. Tapi itu ada, karena Al-Quran telah bicara. Dulu orang musyrikin ini aneh tapi ada, menyembah berhala.

Muslim yang baik, meninggalkan yang tidak bermanfaat.

Allah membahasakan “mereka menyembah selain Allah, yang tidak memberikan manfaat dan memberi mudharat”. Kita melakukan hal yang tidak bermanfaat aja dikatakan bukan muslim yang baik, karena ciri muslim yang baik ialah meninggalkan yang tidak bermanfaat. Mengerjakan yang tidak bermanfaat aja tidak baik, ini malah menyembah yang tidak memberikan manfaat sama sekali.
Ini membicaarakan tentang musyrikin di Mekah zaman dahulu. Mereka pernah menyembah selain Allah, padahal yang mereka sembah tidak bisa apa apa. Manusia merupakan mahluk yang paling mulia, dianugrahkan oleh Allah akal dan hati, tapi kalau tidak dimanfaatkan sayang. Karena fungsi keduanya adalah untuk menganalsisi yang dilakukan itu baik atau tidak baik, bermanfaat atau malah tidak bermanfaat. Anehnya manusia sudah diberi akal dan hati tapi kok perilakunya masih seperti sekarang ini. Itu aneh tapi nyata. Dulu keanehannya dengan menyembah berhala, tapi sekarang keanehannya dengan cara macam macam.

Nara sumber MPAP Dr. Attabik Luthfi, MA saat menjelaskan kepada jamaah



Nabi membawa kabar gembira tentang surga dan peringatan.

Oleh karena itu Allah berfirman untuk menjawab kebingungan tersebut:
Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. (Al-Furqan : 56)

Karena ada Nabi kita jadi banyak tahu. Kita banyak tahu dari ulama, sedangkan ulama banyak tahu dari hadist. Mereka dapat berbagai informasi yang ujung-ujung nya bersumber pada Nabi Muhammad SAW yang diberi wahyu oleh Allah SWT. Allah berfirman bahwa diatas yang berilmu ada yang lebih berilmu, terus sampai begitu sampai dipuncaknya ada Allah SWT.
Kalau ada yang bilang “Bu, anak ibu kalau masuk ke sekolah ini cocok nih”. Itu informasi dari manusia. Seharusnya kita tidak percaya begitu saja. yang baik kita itu sholat istikarah, karena Allahlah yang paling tahu. Itu berarti kita percaya pada Allah. Kita boleh percaya pada manusia, tapi polanya seperti itu, harus dikembalikan lagi pada  Allah. Apakah ada pengetahuan yang tidak ada hubungannya dengan Allah? Tidak ada. Makanya jika kita dihadapkan dengan sesuatu yang berat, sesuatu yang berjangka Panjang, maka tanyalah pada Allah dengan cara sholat istikharah. Setelah itu berdoa “Ya Allah aku memohon petunjuk dengan ilmu-Mu”, karena Allahlah Yang Maha Tahu.
Kita tidak akan tahu apapun tentang kebenaran Al-Quran tanpa Nabi yang diutus oleh Allah, karena Nabi lah yang diutus untuk membawakan kita kabar gembira tentang surga dan peringatan. Nanti di Al-Baqarah 116, surat Saba’ ayat 28, surat Fatir ayat 24, disurat Fushilat ayat 4 akan dijelaskan tentang kedudukan para Nabi.

Tingkatan level manusia

Jadi manusia terdiri dari 3 level. Yang pertama ada Nabi yang paling tinggi, makanya diberikan wahyu dan mu’jizat. Yang kedua ada para wali, para wali disini ialah orang orang yang dekat pada Allah. Para wali ini diberikan karomah. Yang ketika adalah solihin dan solihah, yang ketiga ini diberikan oleh Allah ilham. Makanya disebutkan bahwa firasatnya orang beriman itu berasal dari Allah. Tapi firasatnya karena ibadahnya, bukan karena macem macem. Makanya perbanyaklah ibadah agar kita diberikan ilham oleh Allah.

Jadi Nabi ini memberikan kabar gembira pada kita agar kita beribadah. Kita bersedekah karena ada kabar baik dari Nabi, kita bersholawat karena ada kabar baik dari Nabi. Disebutkan spesifik pada Al-Quran bahwasanya Nabi ialah nikmat yang tiada taranya bagi manusia. Bayangkan, tanpa tuntunan Nab, bisa ga makan kita berpahala? Kita tidak akan tahu caranya tanpa tuntunan Nabi. Makanya Nabi merupakan pelengkap ayat ayat sebelumnya, karena kita tidak akan tahu semu itu melainkan melalui nabi Muhammad SAW yang estafet sampai pada para ulama menggunakan metode “Basyir” atau memberikan motivasi dengan kabar baik tanpa melupakan peringatan peringatan.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Mudah mudahan bermanfaat untuk kita semua. Terimakasih untuk para hadirin dan semua pengurus. Mohon maaf jika ada hal hal yang kurang berkenan.

Assalamualaikum Wr. Wb     

Penulis : Bayu Aji Firmansyah
Editor : Deni Darmawan